Kisah Magis di Tengah Sawah: Rutin 'Malukat' di Pura Kuno yang Menyimpan Misteri Ular Menari dan 'Landasan Pesawat'?
I Putu Suyatra• Sabtu, 26 April 2025 | 02:24 WIB
Pura Dalem Sela Gendang, sebuah tempat suci Hindu Bali kuno yang dipercaya telah ada sejak tahun 1550 Masehi.
BALIEXPRESS.ID – Di tengah hamparan sawah hijau Desa Adat Tangeb, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, berdiri kokoh Pura Dalem Sela Gendang, sebuah tempat suci Hindu Bali kuno yang dipercaya telah ada sejak tahun 1550 Masehi.
Namun, daya tarik pura ini bukan hanya terletak pada usianya yang ratusan tahun, melainkan juga pada tradisi 'Malukat' (pembersihan diri) rutin yang sarat makna dan sejumlah kisah misterius yang beredar di kalangan masyarakat.
Setiap hari penting bagi umat Hindu, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem, Pura Dalem Sela Gendang menjadi tujuan utama bagi pamedek (umat yang bersembahyang) untuk melaksanakan palukatan bersama di Bulakan (sumber mata air) yang ada di area pura.
Bahkan, tradisi ini semakin istimewa saat Hari Raya Siwa Ratri tiba, di mana malukat dilakukan pada malam hari setelah persembahyangan dan meditasi bersama.
Pemangku Pura Dalem Sela Gendang, Jro Mangku I Wayan Sueca, yang akrab disapa Jro Mangku Mas, mengungkapkan bahwa tradisi malukat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan pura.
"Setiap Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem, akan ada acara palukatan bersama bagi pamedek yang datang bersembahyang," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Bahkan, malukat juga bisa dilakukan sesuai permintaan khusus dari pamedek.
Ritual Unik dengan Kelapa Gading dan Bunga 11 Warna
Bagi pamedek yang ingin melaksanakan malukat, ada beberapa bebantenan (persembahan) khusus yang perlu dibawa, seperti pajati, klungah (kelapa muda) gading, bunga 11 jenis atau 11 warna, dan jun pere (periuk tanah).
"Bunga 11 jenis atau warna menyesuaikan saja dari pamedeknya. Selanjutnya jika ada nunas tamba (mohon obat), ada tambahan berupa klungah berwarna hijau," jelas Jro Mangku Mas.
Prosesi malukat diawali dengan persembahyangan di utamaning mandala (area utama pura) untuk memohon izin.
Kemudian, dilanjutkan dengan sembahyang di Bulakan yang terletak di sebelah tenggara pura, sebelum akhirnya melaksanakan malukat di dekat sumber mata air tersebut.
Bagi yang nunas tamba, akan ada tambahan doa kepada Dewi Durga di Padmasana yang berada di sebelah utara Bulakan, dan air klungah yang telah didoakan akan diminum.
Di Bulakan, doa juga dipanjatkan kepada Dewi Gangga dan Dewi Pertiwi.
Misteri Ular Menari dan 'Landasan Pesawat' Gaib
Selain tradisi malukat yang unik, Pura Dalem Sela Gendang juga menyimpan sejumlah kisah misterius yang menambah daya tariknya.
Jro Mangku I Wayan Sueca menuturkan cerita dari kakeknya tentang wabah yang pernah melanda desa sebelum adanya arca Mpu Baradah di Gedong Dalem.
Konon, pembuatan arca tersebut menjadi salah satu cara mengatasi wabah yang meresahkan warga.
Lebih lanjut, Jro Mangku Mas mengungkapkan adanya kepercayaan tentang sosok gaib (rencang) di pura ini berupa ular dengan ekor menyerupai cicak yang terpotong, serta ular dengan warna mirip cicak, ular hitam, dan ular poleng.
"Biasanya muncul saat piodalan, ular pernah dilihat oleh pamedek menari-nari saat piodalan. Kemudian dihaturkan canang dan memohon agar tidak membuat terkejut pamedek," bebernya.
Bahkan, di sebelah timur pura, tersiar kabar tentang adanya area landasan yang menyerupai landasan kapal terbang.
"Saya tidak bisa memastikan kebenarannya. Hanya dengar dari cerita orang-orang saja. Saya tidak bisa berkata benar ataupun tidak mengenai hal niskala itu," ucap Jro Mangku Mas dengan nada penuh misteri.
Meski tak bisa memastikan kebenarannya, beliau selalu melakukan persembahyangan terlebih dahulu setiap kali melakukan aktivitas di ladang sebelah timur pura sebagai bentuk penghormatan.
Keunikan lain dari Pura Dalem Sela Gendang adalah keberadaan Pura Beji Mumbul, yang berjarak sekitar 500 meter dan berfungsi sebagai Pura Beji (tempat pemandian suci) untuk pura utama.
Untuk mencapai tempat ini, pamedek harus menyusuri jalan setapak di tengah sawah, melewati jalan di samping vila, dan menuruni anak tangga menuju sungai.
Tantangan semakin terasa karena tidak ada jembatan untuk menyeberangi sungai. Bahkan saat patirtan (prosesi pengambilan air suci) untuk piodalan, pamedek pun harus rela menyeberangi sungai.
"Pura Beji Mumbul terletak di Kekeran, beda desa dengan lokasi Pura Dalem Sela Gendang," pungkas Jro Mangku I Wayan Sueca, menambah kesan petualangan bagi siapa saja yang ingin merasakan kesucian malukat di tempat ini. ***