Upacara ini diikuti oleh seluruh warga desa, tanpa terkecuali. Bahkan, mereka yang telah menikah dan tinggal di luar desa akan menyempatkan diri kembali ke kampung halaman demi mengambil bagian dalam ritual ini.
Tradisi ini mengandung nilai spiritual mendalam, hingga dalam situasi genting sekalipun, partisipasi tetap dilakukan.
Misalnya, saat ada warga yang melahirkan atau meninggal dunia pada hari pelaksanaan upacara, setidaknya satu anggota keluarga tetap hadir untuk menyampaikan kabar secara spiritual bahwa telah lahir anggota baru atau berpulangnya sanak keluarga, demi menjaga kesinambungan relasi antara sekala dan niskala.
Baca Juga: Terlanjur Nganten Makedeng-kedengan Ngad? Ritual Penolak Bala Ini Jadi Harapan Terakhir!
Menurut tokoh adat setempat, Ketut Artawan, upacara Ngerebeg Wraspati Ngepik sudah berlangsung sejak abad ke-14, pada masa pemerintahan Raja Sri Udayana Patni dari Kerajaan Majapahit.
Tradisi ini bermula ketika warga Desa Bantiran yakni nama lama dari Tegal Darmasaba harus mengungsi akibat wabah mematikan.
Saat kembali, mereka kembali dilanda wabah. Dalam upaya penyembuhan spiritual, masyarakat diperintahkan secara niskala untuk mengumpulkan seluruh petapakan (representasi sakral dari kekuatan spiritual seperti Barong dan Rangda) dan melinggihkannya di Pura Desa.
Dari peristiwa itu lahirlah tradisi yang dinamakan “Ngerebeg”.
Secara makna, kata ngerebeg ini dimaknai sebagai pergesekan, yaitu pertemuan antara kekuatan-kekuatan spiritual yang dipercaya melahirkan energi suci sebagai manifestasi perlindungan dan berkah terhadap desa.
Tradisi ini diawali dengan paruman desa, pertemuan yang melibatkan bendesa adat, kelian adat, jro mangku, dan pihak lain yang terlibat langsung dalam pelaksanaan.
Tempat pertemuan biasanya adalah wantilan di Pura Dalem, pusat kegiatan spiritual desa.
Pada hari H, seluruh warga datang dengan pakaian adat. Perempuan mengenakan kamen dan kebaya lengkap dengan selendang di pinggang, sementara laki-laki memakai kamen, baju putih, dan udeng.
Para petugas ngayah mulai mempersiapkan perlengkapan upacara, seperti alat musik yang akan dimainkan di Bale Gong dan wantilan.
Petapakan seperti Barong Landung (Ratu Istri), Barong Bangkung (Ratu Ngurah), Barong Babi (Ratu Mas Sepuh), Barong Macan (Ratu Mas Sapujagat), Rangda, serta Pengawin, akan dibawa dari berbagai pura.
Seperti Pura Puseh, Pura Desa, Pura Pesanggrahan, Pura Gegelan, dan Pura Aban.
Semuanya kemudian disatukan dan dilinggihkan di Mendak Sari, area jaba tengah Pura Dalem, dan diberi persembahan banten ayaban tumpeng pitu.
Pukul 11.00 WITA, dimulai upacara ngaturang yingan yang dipimpin oleh para mangku. Persembahan dilakukan di jaba tengah dan dilanjutkan dengan pemercikan tirta ke pelinggih Ratu Dalem dan pelinggih Ratu Mas Agung sebanyak tiga putaran.
Setelahnya, dilakukan ritual tek cor, tradisi penyetoran jinah bolong (uang kepeng) yang dulu digunakan sebagai alat sensus informal.
“Misal kalau dalam satu keluarga ada lima orang, maka harus menyetor jinah bolong sebanyak 5 biji,” katanya.
Rangkaian dilanjutkan dengan ngaturang banten prani ke pelinggih Ratu Mas Agung. Para mangku, dibantu ibu-ibu desa, memercikkan tirta dan menyucikan banten.
Setelah semua banten disucikan, kegiatan berlanjut dengan penurunan petapakan dari Mendak Sari ke Bale Agung, disertai pengiring pengawin oleh para pemuda.
Pukul 13.00 WITA, sebanyak 20 orang mangku memimpin persembahyangan besar. Suasana menjadi khidmat diiringi oleh 31 pemain gamelan di wantilan.
“Upakara terdiri dari 20 banten pejati, 108 ayaban tumpeng pitu, serta banten parayascita dan segehan agung berupa kucit Butuan,” imbuhnya.
Setelah sembahyang, dilanjutkan dengan ritual penyamblehan, yakni penyembelihan kucit butuan dengan keris sebagai simbol persembahan darah suci.
Darah hewan kurban ini dioleskan ke petapakan dan pengawin oleh Mangku Barong menggunakan bunga kenanga, lalu bija (beras suci) dibagikan ke warga.
Tepat pukul 15.25 WITA, pengerebegan dimulai, menjadi puncak seluruh prosesi. Para petapakan diturunkan dari Bale Agung dan digerakkan oleh pemuda desa yang menari-nari mengikuti irama gamelan.
“Prosesi mengelilingi Bale Agung dan Wantilan sebanyak tiga kali, lalu melintasi desa dan singgah di setiap pura untuk menghaturkan banten sebagai bentuk netralisasi energi negatif. Jarak tempuh iring-iringan ini mencapai sekitar 5 km,” jelasnya.
Setelah prosesi keliling desa, iring-iringan kembali ke Pura Dalem. Di depan pura, kembali dihaturkan segehan panca warna dan ayaban tumpeng pitu. Setelah sembahyang, para petapakan dikembalikan ke pura asal masing-masing.
Kemudian seluruh peserta kembali ke Pura Dalem untuk sembahyang penutup sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Penutupan ini menandai bahwa upacara Ngerebeg Wraspati Ngepik telah selesai dengan lancar. Hari berikutnya, masyarakat akan melakukan pembersihan pura dan area upacara.
“Upacara ini sangat sakral, dan melibatkan berbagai lintas usia, sehingga kami yakin jika tradisi ngerebeg ini pasti Lestari dan tidak akan hilang. Karena ada makna untuk menolak bala,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika