Terlanjur "Nganten Makedeng-kedengan Ngad"? Ritual Penolak Bala Ini Jadi Harapan Terakhir!
I Putu Suyatra• Sabtu, 26 April 2025 | 03:44 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID – Pepatah "nasi telah menjadi bubur" mungkin tepat menggambarkan situasi pasangan umat Hindu Bali yang terlanjur melangsungkan "Nganten Makedeng-kedengan Ngad", pernikahan "saling bertukar" anggota keluarga yang dipercaya membawa risiko besar bagi keharmonisan rumah tangga.
Namun, harapan tak sepenuhnya pupus. Jika terlanjur, adakah cara untuk menetralisir efek negatif yang ditimbulkan?
Seperti yang telah diulas sebelumnya, "Nganten Makedeng-kedengan Ngad" dianggap sangat riskan dan sebaiknya dihindari demi keutuhan keluarga jangka panjang.
Namun, jika cinta telah bersemi dan ikatan suci terlanjur terjalin, ritual menjadi salah satu jalan keluar yang ditempuh, meskipun efektivitasnya tak bisa dijamin sepenuhnya.
Dalam lontar Tutur Bang Bungalan, disebutkan secara jelas mengenai ritual penebusan bagi pasangan yang terlanjur melakukan "Makedeng-kedengan Ngad".
Lontar kuno ini menyebutkan: “…nyuwang kajuang masih salah, Makdedeng-kedengan Ngad ngaran, hana carunya maguling pabangkit, guling ika kucit butuhan, pamarginya ring marga agung, pamarinya majaga satru tur mabakti mider anuwut urip dina.”
Artinya, perkawinan saling bertukar anggota keluarga ini memerlukan upakara caru guling pabangkit, yaitu persembahan berupa babi muda jantan (kucit butuhan).
Caru ini dihaturkan di perempatan agung (jalan utama) sebagai penjaga dari musuh atau penolak bala.
Selain itu, pasangan yang bersangkutan dianjurkan untuk melakukan persembahyangan keliling sesuai dengan urip (energi) hari kelahiran mereka.
Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Merta Yoga kembali menegaskan bahwa ritual panebasan atau panebusan (penebusan) dengan upakara memang menjadi alternatif terakhir jika "Nganten Makedeng-kedengan Ngad" sudah terjadi.
"Kalau terlanjur memang ada jalan keluarnya melalui ritual panebasan atau panebusan dengan upakara, namun belum tentu efektif. Itu sifatnya sementara. Sebaiknya hindari di awal," jelas beliau.
"Panebusan itu kan jalan terakhir," imbuhnya.
Oleh karena itu, Ida Pandita menekankan bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati.
Terlanjur melakukan "Nganten Makedeng-kedengan Ngad" berpotensi menyusahkan kehidupan mempelai beserta keluarga di kemudian hari.
Akhirnya, mereka memilih untuk melaksanakan ritual panebusan sesuai dengan petunjuk lontar.
"Untungnya lumayan berhasil, sampai sekarang mereka masih langgeng," tandas Ida Pandita, memberikan secercah harapan bagi pasangan lain yang mungkin berada dalam situasi serupa.
Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun "Nganten Makedeng-kedengan Ngad" dianggap sangat berisiko, upaya spiritual melalui ritual penebusan bisa menjadi ikhtiar untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul.
Namun, penting untuk diingat bahwa pencegahan tetap menjadi pilihan terbaik demi membangun keharmonisan keluarga yang langgeng dan bahagia. ***