Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Hidup Sejahtera di Era Kali Yuga? Bukan Harta Karun, Tapi... Sudahkah Anda Melakukannya?

I Putu Suyatra • Senin, 28 April 2025 | 14:43 WIB

Sebanyak 76 Sarad di Desa Adat Buleleng melasti bertepatan pada Purnama Sasih Kedasa, Sabtu (12/4) sore di Pantai Pelabuhan Tua Buleleng
Sebanyak 76 Sarad di Desa Adat Buleleng melasti bertepatan pada Purnama Sasih Kedasa, Sabtu (12/4) sore di Pantai Pelabuhan Tua Buleleng

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk pikuk zaman modern yang penuh tantangan ini, tahukah Anda ada sebuah "kunci" kuno yang justru menjadi prioritas utama untuk menjalani hidup yang bermakna dan sejahtera?

Bukan kekayaan melimpah, bukan pula kekuasaan, melainkan sebuah tindakan mulia yang disebut dana punia. Lantas, apa sebenarnya kekuatan tersembunyi di balik pemberian suci ini?

Dr I Gede Sutarya, akademisi UHN Bagus Sugriwa, Denpasar, dengan tegas menyatakan bahwa dana punia bukanlah sekadar anjuran, melainkan kewajiban bagi setiap umat Hindu.

Baca Juga: Puncak Dharmasanti Nasional 2025, Umat Hindu Diajak Pererat Hubungan Sosial dan Lingkungan

Akar pentingnya bersedekah ini bahkan tertuang dalam kitab suci Hindu, seperti Manawa Dharmasastra dan Saracamuscaya.

"Manawa Dharmasastra I.86 menyatakan bahwa Tapa merupakan proritas beragama pada zaman Kreta Yuga. Jnana (belajar) prioritas pada masa Treta Yuga, upacara agama jadi keutamaan di zaman Dwapara Yuga. Dan, di zaman Kali Yuga kini, dana punia adalah prioritas manusia dalam beragama," ungkapnya, membuka mata kita akan urgensi tindakan ini di era sekarang.

Lebih mengejutkan lagi, Dr Sutarya membeberkan aturan "emas" penggunaan harta dalam hidup.

Ternyata, idealnya, seperempat dari harta yang kita miliki diperuntukkan untuk berdana punia! Sebuah proporsi yang mungkin belum banyak disadari.

Mengaitkannya dengan Catur Purusa Artha (Dharma, Artha, Kama, Moksa), Dr Sutarya menjelaskan bahwa Artha (harta) adalah alat vital untuk mencapai tujuan hidup.

Baca Juga: Tiga Jenderal Turun Gunung Cari Iptu Tomi, Operasi di Zona Merah Penuh Tantangan di Hutan Papua Barat!

Memiliki harta bukan hanya untuk kesenangan duniawi, tetapi juga untuk kepuasan batin melalui spiritualitas (Moksa) dan yang tak kalah penting, menjalankan dharma dengan membantu sesama melalui dana punia.

Bahkan, sebagian harta juga perlu diinvestasikan untuk keberlangsungan hidup.

Lantas, kapan waktu yang paling tepat untuk berdana punia agar pahalanya berlipat ganda?

Dr Sutarya mengungkapkan sebuah "hari keberuntungan".

"Jika seseorang berdana punia, maka hari paling baik adalah ketika rerahinan (hari raya). Ketika rerahinan, maka pahala yang didapatkan lebih banyak dari hari biasa," paparnya.

Namun, ada satu syarat mutlak yang ditekankan: keikhlasan.

"Hal ini diungkapkan dalam Manawa Dharmasastra IV.228 yang artinya apa bila dimintai, hendaknya ia memberikan sesuatu. Walaupun kecil jumlahnya, tanpa perasaan mendongkol, sebab penerima yang patut mungkin akan ditemui lagi dan menyelamatkannya dari segala dosa," terangnya.

Menariknya, Dr Sutarya memberikan perspektif baru terkait tren berdana punia saat ini yang cenderung fokus pada upacara agama atau pura.

Menurutnya, menolong sesama manusia yang lebih membutuhkan justru memiliki prioritas yang lebih tinggi.

Bayangkan, pura megah berdiri kokoh, namun masyarakat sekitarnya hidup dalam kekurangan? Tentu keharmonisan akan terganggu.

Baca Juga: Geger Bali Utara! Pasangan Kekasih Bercat Semprot, Aksi Vandalisme Terekam CCTV dan Bikin Geram Warga Buleleng!

"Bayangkan puranya megah sekali, tetapi masyarakat sekitarnya miskin? Tentu kehidupan menjadi tidak harmonis antarsesama manusia," ujarnya, mengajak kita untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar.

Kabar baiknya, dana punia tidak selalu identik dengan uang! Dr Sutarya meluruskan persepsi keliru ini.

"Berdana punia tidak harus berupa uang, bisa juga yang lain seperti ilmu pengetahuan," tegasnya.

Bahkan, konsep dana punia ternyata jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.

Ada Dharmadana (memberikan budi pekerti luhur), Widyadana (berbagi ilmu pengetahuan), dan Arthadana (bersedekah harta).

Lebih dari itu, ikut ngayah (bekerja sukarela) juga termasuk dana punia karena memberikan sumbangan tenaga. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Dana punia #Manawa Dharmasastra #Catur Purusa Artha #hindu #moksa