Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah di Balik Setiap Upacara Keagamaan tanpa Sulinggih di Dua Banjar di Tabanan

I Putu Suyatra • Selasa, 29 April 2025 | 01:48 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID - Sebuah tradisi unik umat Hindu Bali mengundang tanya masih lestari di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan. Dua banjar, yakni Banjar Carik Padang dan Banjar Nyambu, memiliki kekhasan dalam menggelar upacara keagamaan.

Alih-alih mengundang sulinggih (pendeta Hindu) untuk memimpin ritual, mereka justru hanya mengandalkan pemangku (pemuput upacara tingkat desa).

Bagaimana bisa tradisi ini bertahan hingga kini?

Baca Juga: Masih Dalam rangka Peringatan Hari Kartini Bersama Astra Motor Bali Gelar Seminar Safety Riding Khusus Wanita

Kisah menarik ini bermula dari kedatangan 22 orang dari Desa Kekeran, Mengwi, Badung, yang hendak membuka hutan di wilayah yang kini menjadi Banjar Nyambu dan Carik Padang.

Jro Mangku I Nengah Sudirga (56), pemangku Pura Agung, menuturkan bahwa para pendatang tersebut menemukan seorang sulinggih yang telah lebih dulu berdiam di sana.

Sang sulinggih kemudian meminta mereka untuk membangun sebuah pura, yang kini dikenal sebagai Pura Agung.

"Dua puluh dua orang itu kemudian menjadi pangempon (pengurus) Pura Agung sejak saat itu," ungkap Jro Mangku I Nengah Sudirga kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca Juga: Tragis! Di Balik Pesan WA Kakek Asal Amerika Bunuh Diri di Kesiman Denpasar, Ternyata Ini Motifnya

Keunikan terjadi saat peresmian Pura Agung. Ritual tersebut dipuput langsung oleh sulinggih yang pertama kali ditemukan di hutan itu.

Anehnya, sejak saat itu, tidak pernah ada lagi upacara di Pura Agung yang dipimpin oleh seorang sulinggih.

"Jadi, hanya satu kali saja memakai sulinggih dalam karya di pura ini, sampai sekarang cukup hanya pemangku saja," jelas Jro Mangku I Nengah Sudirga.

Tradisi ini kemudian diikuti secara turun-temurun oleh warga Banjar Nyambu dan Banjar Carik Padang.

Setiap kali ada upacara besar seperti ngenteg linggih (peresmian bangunan suci), mlaspas (pembersihan dan penyucian), hingga pernikahan, warga hanya akan meminta bantuan kepada lima pemangku yang berwenang dari pura-pura setempat, termasuk Pura Agung.

Lantas, bagaimana para pemangku ini mendapatkan tirta (air suci) yang menjadi elemen penting dalam setiap upacara?

Jawabannya terletak pada sebuah tempat sakral bernama Bet Griya yang berada di kawasan Tukad Yeh Sungi, sekitar satu kilometer dari Pura Agung.

Para pemangku harus berjalan kaki melewati pematang sawah yang indah untuk mencapai lokasi tersebut.

Bet Griya, sebuah gua di tepi sungai, dipercaya sebagai kediaman sulinggih terdahulu.

"Setahu saya yang berstana di Bet Griya adalah Ida Ratu Gede Putus," kata Jro Mangku I Nengah Sudirga.

Uniknya, pemangku yang nunas tirta (memohon air suci) ke Bet Griya dilarang membawa genta (lonceng kecil yang biasa digunakan sulinggih).

Air suci yang digunakan dalam upacara berasal dari kucuran air di dinding gua Bet Griya.

Baca Juga: Bupati Sutjidra dan Perumda THB Borong Penghargaan Nasional

Meskipun tradisi ini telah berjalan lama, Jro Mangku I Nengah Sudirga mengakui bahwa belakangan ini ada beberapa warga yang mulai menggunakan jasa sulinggih dalam upacara mereka.

Namun, sebagian besar masyarakat masih teguh memegang tradisi unik ini.

Kepercayaan yang kuat dan cerita turun-temurun menjadi fondasi kokoh bagi tradisi unik di dua banjar ini.

Sebuah kearifan lokal yang patut diulik lebih dalam, menyimpan misteri dan kekayaan budaya yang tak ternilai di jantung Pulau Dewata. ***

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #hindu bali #tradisi unik #tabanan