Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dana Punia di Era Kaliyuga dalam Pustaka Hindu, Dilakukan saat Purnama-Tilem, Pahalanya diyakini Berlipat

I Putu Mardika • Kamis, 1 Mei 2025 | 23:04 WIB

Umat Hindu sering melakukan Dana punia di pura sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Umat Hindu sering melakukan Dana punia di pura sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
BALIEXPRESS.ID-Dana punia, sebagai salah satu bentuk pelaksanaan dharma dalam ajaran Hindu, memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Namun, pada era Kali Yuga atau zaman kegelapan saat ini, pelaksanaan dana punia yang tulus dan murni menjadi tantangan yang semakin besar.

Dalam kitab Parasara Dharmasastra disebutkan bahwa di zaman Kali, dana punia cenderung dilandasi pamrih. Pemberian menjadi sarana untuk meraih balasan, bukan sebagai tindakan pengabdian sejati.

Meski demikian, kegiatan dana punia tidak sepenuhnya punah. Masih ada individu yang tetap menjunjung kemurnian niat dalam berdana.

Kitab Sarasamuscaya mengungkapkan beratnya pelaksanaan dana punia dengan menyatakan bahwa tiada hal yang lebih sulit di dunia ini selain memberikan harta secara ikhlas. 

“Agong wi kang trsna ring artha, apan ulihning kasakitanikang artha katemu,” kutip sloka tersebut.

Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd., menjelaskan bahwa zaman Kali adalah masa di mana manusia terikat kuat pada materi. 

"Manusia cenderung lupa bahwa kebenaran sejati terletak pada wilayah spiritual," ujarnya.

Dana punia, lanjut Ariyoga, seharusnya menjadi jalan untuk membuka kesadaran spiritual. Dengan berdana, manusia diajak mengembangkan empati dan kepekaan sosial. Konsep tattwam asi menjadi landasan dalam melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari penderitaan diri sendiri.

Baca Juga: Wanita Cantik Lulusan UGM 'Lepeh' Suami Selingkuh! Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Ketegarannya!

Sloka Slokantara menekankan pentingnya momentum dalam berdana. Disebutkan bahwa dana punia yang diberikan pada bulan Purnama-Tilem, atau hari-hari suci akan mendatangkan pahala berlipat-lipat, bahkan tak terbatas bila dilakukan pada akhir zaman Kali.

“Ketika kebanyakan manusia telah larut dalam kebodohan, maka Tuhan akan melihat siapa yang masih bersinar di tengah kegelapan,” imbuh Ariyoga. 

Hal ini senada dengan kisah Mahabharata, ketika Krishna memilih Pandawa sebagai pihak yang lebih layak didukung, meskipun mereka pun memiliki banyak kekurangan.

Dalam Rg Veda, ajaran dana punia ditegaskan sebagai perbuatan yang lahir dari cinta kasih dan bhakti. Tertulis bahwa mereka yang bekerja dengan tekun dan membagi rejeki kepada yang membutuhkan akan dihormati oleh masyarakat dan diberkahi oleh Tuhan.

Konsep yadnya menjadi fondasi utama dari dana punia. Memberi tanpa pamrih merupakan esensi dari yadnya yang sejati. 

“Tulus ikhlas adalah tindakan yang tidak mengharapkan apapun, bahkan pahala dari Tuhan sekalipun,” jelas Ariyoga.

Dana punia idealnya menyerupai kasih orangtua terhadap anaknya. Orangtua memberikan segalanya demi kebahagiaan anak, tanpa mengharap balasan. Sikap ini disebutkan dalam Atharva Veda

"Bekerjalah dengan seratus tanganmu dan berdanalah dengan seribu tanganmu."

Baca Juga: Umumkan Pemenang BRImo FSTVL 2024, Nasabah BRI Bawa Pulang Mobil BMW hingga Ribuan Tabungan Emas

Makna bekerja dengan seratus tangan adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Sementara berdana dengan seribu tangan berarti memberi dengan penuh keyakinan, tanpa dihantui keraguan atau pamrih tersembunyi.

Sayangnya, di tengah arus materialisme, banyak yang berdana punia dengan motivasi politik atau sosial. Nama dicatat di papan penerimaan atau disebutkan lewat pengeras suara menjadi bentuk pamrih yang mengaburkan nilai suci dari dana punia.

Atharva Veda kembali menegaskan bahwa kekayaan yang didermakan dengan niat luhur tidak akan pernah hilang.

Sebaliknya, Tuhan akan mengganti dengan berkah yang lebih besar, meski bukan itu yang seharusnya menjadi tujuan dari berdana.

Berdana dengan harapan mendapat imbalan sekalipun dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bukanlah bentuk dana punia sejati. Karena itu, pemahaman yang benar mengenai motivasi dan tujuan harus dimiliki oleh setiap umat yang ingin berdana.

Dalam Bhagavad Gita, terdapat konsep satwika dana, yakni pemberian yang dilakukan pada waktu yang tepat, kepada orang yang tepat, dan dengan cara yang benar. Dana punia juga tidak boleh melanggar hukum atau norma yang berlaku.

Pemerintah misalnya, melarang pemberian uang kepada pengemis di jalan karena alasan ketertiban. Maka umat pun sebaiknya menyalurkan dana punianya lewat lembaga yang resmi dan terpercaya agar tepat sasaran.

Baca Juga: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual, Buleleng Catat 42 Kasus, Wamen PPPA Dorong Hukum Maksimal untuk Pelaku Kekerasan Seksual

Ariyoga menjelaskan, Susastra Hindu juga menekankan keseimbangan dalam mengelola harta. Dalam Sarasamuscaya dan Ramayana, disebutkan bahwa harta harus dibagi menjadi tiga: untuk dharma, kama, dan artha. Tidak semuanya harus didermakan.

Ajaran dana punia bukan hanya sekadar memberi secara materi. Bentuk dana punia bisa berupa tenaga, pikiran, atau ilmu pengetahuan yang diberikan demi kebaikan bersama. Di sinilah letak kesatuan antara nilai spiritual dan sosial dalam ajaran Hindu.

Pelaksanaan dana punia yang benar dapat membangun karakter wairagya, yaitu ketidakikatan terhadap harta benda. Ini adalah pondasi dari kehidupan rohani yang lebih dalam dan berarti.

"Dana punia juga menjadi sarana mewujudkan pemerataan sosial. Orang yang memiliki kelebihan bisa membantu mereka yang kekurangan, menciptakan harmoni dan keadilan sosial di masyarakat," sebutnya

Hal ini sangat selaras dengan ajaran Vasudhaiva Kutumbakam dalam Veda, yang menyatakan bahwa seluruh makhluk adalah satu keluarga. Dengan dana punia, umat Hindu dituntun untuk melihat orang lain sebagai bagian dari diri mereka sendiri.

Jika dilaksanakan secara benar dan tulus, dana punia tidak hanya menjadi bentuk pengabdian pada Tuhan, tetapi juga wujud kepedulian terhadap sesama dan alam semesta. "Inilah yang membuatnya tetap relevan dan agung, bahkan di zaman Kali sekalipun," pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Dana punia #kitab suci #hindu #Kali Yuga