Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Kreteg Tua Sibang Gede: Lebih dari Sekadar Jembatan di Bali, Ada Bisikan Gaib di Balik Kokohnya Ratusan Tahun!

I Putu Suyatra • Kamis, 1 Mei 2025 | 23:15 WIB

Kreteg di Sibang
Kreteg di Sibang

BALIEXPRESS.ID - Di balik rimbunnya pepohonan Sibang Gede, tersembunyi sebuah mahakarya kuno yang mungkin luput dari perhatian banyak orang luar.

Kreteg (jembatan) yang menghubungkan Desa Sibang Gede dengan Dharmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, ini bukan sekadar infrastruktur biasa.

Konon, ada kekuatan niskala (gaib) yang turut andil dalam menjaga kokohnya jembatan yang telah berdiri gagah selama ratusan tahun ini. Benarkah demikian?

Letaknya yang jauh dari jalan utama membuat keberadaan kreteg tua Sibang Gede ini bagai permata tersembunyi.

Baca Juga: TEKA-TEKI STRATEGI TIMNAS! Erick Thohir Umumkan Keputusan Mengejutkan Jelang Duel Krusial Kontra Tiongkok!

Namun, bagi warga setempat, jembatan yang telah berusia lebih dari dua setengah abad ini tetap menjadi urat nadi penghubung aktivitas sehari-hari.

I Gusti Agung Oka Pabian, tokoh Puri Kamasan Sibang Gede, pernah membuka tabir sejarah kreteg yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1749 Masehi.

Beliau menuturkan, ide pembangunan jembatan ini tercetus dari keprihatinan I Gusti Agung Kamasan Sakti III dan I Gusti Agung Mambal Sakti III melihat warganya harus bersusah payah menyeberangi derasnya Tukad Ayung untuk beraktivitas di luar desa.

Berbekal niat mulia menyejahterakan rakyat, pembangunan jembatan pun dimulai.

"Pertama beliau mencari batu padas besar di campuhan (pertemuan dua sungai)," ungkap I Gusti Agung Oka Pabian. Konon, batu-batu padas raksasa itu tak hanya diangkut dengan tenaga manusia, namun juga dengan bantuan kekuatan batin kedua tokoh tersebut.

Makhluk halus dipercaya turut membantu memindahkan batu-batu besar ke lokasi pembangunan jembatan. Setelah batu-batu raksasa tiba di lokasi, barulah tenaga manusia dikerahkan untuk menata dan menyusunnya.

Baca Juga: Dana Punia di Era Kaliyuga dalam Pustaka Hindu, Dilakukan saat Purnama-Tilem, Pahalanya diyakini Berlipat

Proses pembangunan jembatan di area tebing curam dengan kedalaman sungai mencapai 8,5 meter dan lebar lebih dari 30 meter tentu bukan pekerjaan mudah.

Konsep pembangunannya pun unik, meniru arsitektur megah Candi Prambanan dan Borobudur.

Batu padas dipotong dengan ukuran tertentu, lalu direkatkan ke sisi tebing utara dan selatan menggunakan tanah merah sebagai perekat tradisional.

Susunan batu padas semakin ke atas semakin menjorok ke tengah sungai, menciptakan struktur yang kuat dan stabil.

Bagian tersulit adalah penyambungan batu padas di bagian teratas, karena di bawahnya langsung jurang sungai tanpa penyangga batu.

Tumpukan batu padas berlapis-lapis di bagian atas menjadi kunci kekuatan jembatan agar mampu menahan beban berat.

I Gusti Agung Oka Pabian mengakui sulit membayangkan detail proses pembangunan jembatan di masa lampau dengan keterbatasan teknologi.

"Saya juga tidak bisa memastikan berapa lama proses pembuatan jembatan itu, karena tidak tercantum dalam prasasti ataupun catatan sejarahnya," ujarnya.

Baca Juga: TPA Biaung Ditutup, Pemkab Klungkung Ancam Tindak Tegas Pembuang Sampah Ilegal

Dalam proses pembangunan, I Gusti Agung Kamasan Sakti III dan I Gusti Agung Mambal Sakti III melibatkan partisipasi aktif warga.

Konon, untuk memastikan warganya benar-benar sakit jika tidak bisa ikut bekerja, I Gusti Agung Kamasan Sakti III memiliki cara unik.

Beliau dipercaya mampu memindahkan penyakit bisul warganya ke tubuhnya sendiri. Jika beliau merasakan sakit yang sama, barulah izin tidak bekerja diberikan.

Setelah melalui proses yang panjang dan penuh tantangan, jembatan sepanjang 72 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 20 meter ini akhirnya berdiri kokoh.

Sebagai penanda sejarah, keduanya membuat prasasti berupa aksara Bali yang dipahat di sebuah gua di sisi Sibang Gede.

Di area tersebut juga terdapat palinggih (bangunan suci kecil), tempat warga hingga kini masih bersembahyang.

Uniknya, warga juga memiliki tradisi ngaturan rarapan (memberikan persembahan kecil) setiap kali hendak melintasi kreteg tua tersebut. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kabupaten Badung #gaib