Misteri Kreteg Kuno Era Kerajaan Mengwi: Saksi Bisu Sejarah yang Terancam 'Ditelan' Zaman!
I Putu Suyatra• Jumat, 2 Mei 2025 | 13:05 WIB
Kreteg (jembatan) kuno berusia ratusan tahun di perbatasan Desa Sibang Gede dan Dharmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali
BALIEXPRESS.ID - Di tengah deru sepeda motor yang melintas, tersembunyi sebuah kisah pilu tentang warisan leluhur. Sebuah kreteg (jembatan) kuno berusia ratusan tahun di perbatasan Desa Sibang Gede dan Dharmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, kini kondisinya memprihatinkan.
Bentuknya mulai terkikis, bahkan menganga lubang besar di bagian tengahnya. Peninggalan bersejarah dari era Kerajaan Mengwi ini seolah dibiarkan tak berdaya melawan waktu.
Warga sekitar memang masih menjadikannya jalan alternatif yang lebih cepat, menghindari ramainya jembatan baru di sisi barat.
Namun, melintasi kreteg yang mulai erosi dan ditumbuhi semak belukar ini membutuhkan kehati-hatian ekstra. Pengguna jalan pun terpaksa bergantian melintas demi keselamatan.
Siapakah sebenarnya pendiri jembatan misterius ini? Rasa penasaran membawa Tokoh Puri Kamasan Sibang Gede, I Gusti Agung Oka Pabian, menelusuri jejak sejarah kreteg tua ini.
Ia menunjukkan prasasti kuno yang terukir di dinding gua, mengungkap tabir masa lalu.
Tertulis jelas nama Palinggih Ida Bathara Sakti Anak Agung Agung Gde Kamasan Sakti kaping tiga dan Palinggih Kyai Anglurah Gde Putu Mambal kaping tiga sebagai dua tokoh penting di balik pembangunannya.
"Prasasti ini membuktikan keduanya adalah pembuat dari kreteg tua ini," ungkap I Gusti Agung Oka Pabian dengan penuh khidmat.
Lantas, mengapa jembatan yang dulunya menjadi urat nadi transportasi ini kini terabaikan?
Kisah berlanjut ke era penjajahan Belanda. Setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Badung, Belanda membangun jembatan baru pada tahun 1917, hanya berjarak sekitar 100 meter dari kreteg tua.
Mereka meragukan kekuatan kreteg yang telah berdiri kokoh selama ratusan tahun.
"Selama pembangunan jembatan baru oleh Belanda, kreteg tua tetap menjadi urat nadi lalu lintas masyarakat. Setelah jembatan baru selesai tahun 1920, keramaian lalu lintas berpindah ke jembatan buatan Belanda," jelas pensiunan PNS Universitas Udayana ini.
Sejak saat itu, kreteg tua mulai sepi, hanya dilalui oleh warga sekitar.
Kurangnya perhatian membuat semak belukar dan pohon-pohon liar merusak struktur batu padas, memicu erosi yang semakin parah.
Namun, keajaiban kreteg ini tersembunyi di balik kerapuhannya.
Menurut I Gusti Agung Oka Pabian, kekuatan jembatan ini terbukti kokoh meski diterjang berbagai bencana.
Letusan dahsyat Gunung Agung tahun 1963 dan gempa bumi Seririt tahun 1976 (6,2 SR) hanya menyebabkan kerusakan kecil.
"Mengacu pada sejumlah bencana tersebut, jembatan tua merupakan sebuah karunia mahakarya yang benar-benar dibuat dengan baik oleh I Gusti Agung Kamasan Sakti III dibantu I Gusti Agung Mambal Sakti III bersama rakyatnya ratusan tahun lalu," tuturnya dengan nada kagum.
Sayangnya, bukan bencana alam, melainkan waktu yang menjadi 'musuh' utama kreteg ini.
Pohon kayu bahkan tumbuh kokoh di sisinya, mengancam kerobohan. Rerumputan liar menutupi hampir seluruh bagian jembatan, menyembunyikan bentuk aslinya.
"Pernah mendapat bantuan jembatan ini dibenahi, namun jebol lagi," ujarnya sambil menunjuk bagian yang rusak.
Sempat ada wacana untuk menjadikannya lintasan rafting yang unik karena melewati jembatan bersejarah ini, namun rencana tersebut tak kunjung terealisasi.
Kini, banyak yang tak menyadari keberadaan peninggalan bersejarah di Sibang Gede ini.
Kondisi lingkungan sekitar jembatan pun memprihatinkan. Di sisi Sungai Ayung, sebuah palinggih (tempat suci) terlihat rusak dan kepalanya terpotong, menambah kesan mistis di sekitar area tersebut.
I Gusti Agung Oka Pabian juga mengungkap kisah angker Sungai Ayung di sekitar jembatan.
"Dahulu pernah ada orang yang sendirian memancing di kawasan bawah jembatan dan tenggelam. Katanya dia tiba-tiba tertarik melihat ikan kecil di sungai itu," pungkasnya, menyisakan cerita misteri yang menambah daya tarik kreteg kuno ini. ***