BALIEXPRESS.ID - Upacara sakralisasi pawintenan wiwa oleh Griya Agung Bangkasa yang bertempat di Pura Kahyangan Dharma Smrti Linggih Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Paramadaksa Manuaba di Pundukdawa, Klungkung digelar Rabu (30/4).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyucian spiritual (pawintenan) yang memiliki makna mendalam dalam proses spiritualisasi diri dan peningkatan kesucian batin dan sah menjadi keluarga kapurusan garis parampara Griya Agung Bangkasa bagi para peserta.
Baca Juga: Dukung IPPA Fest 2025, BRI Kuatkan Peran Pemberdayaan Warga Binaan
Tokoh Agama, Jro Mangku Gde Nyoman Adi Garnida menjelaskan upacara pawintenan wiwa ini dipuput oleh lima sulinggih (Ida Sinuhun Siwa Putri Paramadaksa Manuaba, Ida Nabe Griya Pancoran, Ida Nabe Griya Telagawaja Tangkup dan dua Ida Pandita nanak Ida Pancoran) dengan tata cara yang sesuai dengan sastra agama Hindu. Prosesi dimulai jam 15.30 dengan ngaturang banten, nunas tirta penglukatan lan rerajahan, katapak archa Ida Bhatara serta nyekar di pelinggih-pelinggih utama Pura Kahyangan Dharma Smrti.
“Para peserta yang terdiri dari warga lintas pasemetonan di antara nya semeton Dalem Tarukan, Semeton Arya, Semeton Pasek, semeton Pande dan umat Hindu lainnya mengikuti rangkaian upacara dengan penuh khusyuk dan penuh rasa bhakti,” paparnya.
Jro Mangku Garnida yang juga menjadi panitia dalam prosesi tersebut menerangkan, selain sebagai bentuk pelestarian adat dan tradisi Bali, upacara ini juga merupakan sarana spiritual untuk memperkuat sradha dan bhakti umat terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sakralisasi ini juga menjadi simbol penguatan dharma serta pengingat akan pentingnya kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Ditambahkan juga bahwa dalam tradisi Hindu di Bali, seorang Sulinggih adalah sosok suci yang telah melalui prosesi Diksa dan menjalani kehidupan tapa brata untuk mencapai kesucian lahir dan batin. Seorang Sulinggih tidak hanya bertanggung jawab dalam membimbing umat, tetapi juga memiliki kewajiban utama untuk menghormati, mematuhi, dan menjunjung tinggi Guru Nabe yang telah memberikan tuntunan dalam Diksa serta perjalanan spiritualnya.
“Dalam garis Parampara Griya Agung Bangkasa, hubungan antara Sulinggih dan Guru Nabe diatur oleh Sesana, yaitu pedoman moral dan etika yang harus ditaati. Sesana ini memastikan bahwa setiap Sulinggih tetap setia pada ajaran leluhur, menjaga kemurnian ilmu spiritual, serta tidak menyimpang dari nilai-nilai dharma,” terangnya.
Namun, di era modern ini, tantangan seperti pergeseran nilai, kesalahpahaman ajaran, dan kurangnya pemahaman akan Sesana dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini. Oleh karena itu, diperlukan pedoman yang jelas agar hubungan Sulinggih dengan Guru Nabe tetap terjaga sesuai dengan ajaran suci leluhur.
Baca Juga: Berpura-pura Jadi Pengamen, Pria Surabaya Curi Motor lalu Kabur ke Lamongan
Sedangkan terkait Pura Kahyangan Dharma Smerti, disebutkan bahwa sebagai salah satu tempat suci yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi di wilayah Bali. Ini merupakan pusat pemujaan terhadap Ida Bhatara Hyang Sinuhun, yang secara niskala berstana sebagai manifestasi Siwa Putra Paramadaksa Manuaba.
Eksistensi spiritual beliau diyakini memiliki afiliasi langsung dengan Ida Bhatara Mpu Gana, seorang Maharesi agung dalam tradisi Siwa Siddhanta Bali. Ida Bhatara Mpu Gana dikenal sebagai seorang Rsi Siwaning idep, pelaku dharma sejati yang menyebarkan ajaran Siwa Tattwa di Bali pada abad X–XI M.
“Dalam berbagai lontar seperti Lontar Pasek Gelgel, Lontar Dwijendra Tattwa, hingga Tuturan Catur Parhyangan, Ida Bhatara Mpu Gana disebut sebagai pemrakarsa spiritual yang mendirikan pura-pura utama Pasek,” sebutnya.
Hubungan Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Paramadaksa Manuaba dengan Ida Bhatara Mpu Gana dapat dipahami melalui dimensi spiritual dan cakra dharma yang diwariskan. Istilah "berafiliasi langsung" merujuk pada hubungan genealogis spiritual, melalui garis dharma kependetaan.
Baca Juga: FAKTA TERBARU KASUS MAYAT DICOR: Memar di Wajah Korban Hingga Pengakuan Keji Tersangka!
Struktural Pura, dalam bentuk padmasana, meru, dan gedong pejenengan yang mengacu pada pola catur mukti. Pawisik dan Pratima Arca, yang diyakini secara niskala menjadi jejak manifestasi Ida Bhatara Mpu Gana dalam wujud pengembanan baru sebagai Hyang Sinuhun Siwa Putra Paramadaksa Manuaba.
Ajaran spiritual yang menguatkan afiliasi ini dapat ditelusuri dari lontar-lontar klasik. Salah satunya berbunyi, Mpu Gana sang yoga siddha mangguhang dharma Siwaning idep, sang mapageh ring tatwa niskala. Artinya Mpu Gana, seorang yang telah mencapai kesempurnaan yoga, menegakkan dharma Siwa dalam pikiran, teguh dalam hakikat yang niskala.
“Pura Kahyangan Dharma Smerti memiliki tiga bangunan suci utama yang memperkuat legitimasi spiritualnya sebagai tempat berstana Ida Hyang Sinuhun, Padmasana Ngelayang, melambangkan kemuliaan Siwa Paramasiwa dalam aspek purusa. Serta meru tumpang 5 simbol manifestasi Siwa dalam wujud tengah, perwujudan pancamahabhuta yang harmonis,” pungkas Jro Mangku Garnida.
Sehingga struktur-struktur ini bukan hanya simbol, tetapi juga menjadi sarana pemujaan, edukasi, dan pelestarian nilai dharma. Umat yang tangkil ke pura ini tidak hanya menjalankan kewajiban sekala, tetapi juga menyambung diri secara niskala dengan jejak leluhur, termasuk jejak spiritual Ida Bhatara Mpu Gana. *
Editor : Putu Agus Adegrantika