Ngarga Tirta dilakukan dengan mantra Puja Astu Mpungku yang diucapkan usai Sang Dalang mementaskan Wayang. Mantra ini juga diyakini meruwat segala bentuk kekotoran baik skala dan niskala.
Jro Dalang Gusti Made Aryana alias Jro Dalang Sembroli, 41 kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan Lontar Dharma Pewayangan memang menjadi pedoman dan pegangan bagi para dalang.
Tak terkecuali dalam prosesi Ngarga Tirta. Menurutnya untuk dalang yang ada di Bali Utara, sebagian besar melakukan Ngarga Tirta dengan menggunakan puja Asta Mpungku saat akhir pentas.
“Dalang di Buleleng tidak ada yang tidak ngarga tirta. Nah penglukatan wayang itu pujanya namanya Astu Mpungku. Itu ada di dalam Lontar Dharma Pewayangan. Nah Jro Dalang inilah yang mendapat kewenangan ngarga tirta dengan Astu Mpungku ini, meskipun hanya sebatas eka jadi dengan pawintenan pedalangan,” kata Jro Dalang Sembroli.
Baca Juga: LBH KMHDI Soroti Kekerasan Aparat saat Aksi Damai Petani Singkong di Lampung
Bukan tanpa alasan mengapa Jro Dalang mendapat kewenangan itu dalam Ngarga Tirta dengan Puja Astu Mpungku.
Pria yang menamatkan pendidikan Pedalangan di ISI Denpasar ini menjelaskan, dalam Lontar Dharma Pewayangan disebutkan jika dalang dapat menarik kekuatan Siwa sebagai pelebur sahananing lara roga atau segala sesuatu kekotoran dalam bathin manusia, dalang itu menggunakan puja Astu Mpungku.
“Astu itu artinya semoga dan Mpungku itu artinya Guru. Jadi guru bagi seorang seniman dalang itu artinya Dewa Siwa. Dalam hal ini, Dewa Siwa diyakini meruwat segala kekotoran melalui tirta yang disucikan dengan Puja Astu Mpungku,” imbuhnya.
Jika merujuk dalam Lontar Dharma pewayangan bisa diasumsikan sebagai undang-undang dasarnya seseorang seniman Dalang.
Sebab, seorang dalang setiap hari mejalankan Dharma Pewayangan. Baik melakukan meditasi sehari hari dan melakukan proses dari memulai ngewayang hingga usai.
Menurutnya, pentas bagi seorang dalang itu dibagi menjadi dua. Pertama pada saat pertunjukannya dan bagian kedua ini ritualnya.
Di bagian ritual ini, ada beberapa syarat berupa sesana dan mantram untuk melakukan sebuah pertujnjukan wayang, dalam hal ini konteknya wayang tradisi
“Setelah itu mulailah ruwatan atau pelukatan. Ini dilakukan oleh dalang dan inilah disebut dengan puja Astu Mpungku. Pujanya ini saat diucapkan durasinya cukup panjang. Bisa sampai 10-15 menit. Dengan tujuan agar segala jenis kekotoran bathin manusia diucapkan disana dan dilebur Bhatara Siwa,” ungkapnya.
Bahkan dalam puja ini berbagai jenis penyakit secara fisik juga disebutkan dalam Lontar Dharma Pewayangan. Penyakit tersebut diucapkan dengan tujuan segera enyah menggerogoti manusia melalui Puja Astu Mpungku.
Baca Juga: Okupansi Menurun, Adi Arnawa Inspeksi Usaha Rumah Kost
“……maka monikang atma jnana papa mijil diyama di loka buta belud, kicer, gendrang, sudat, dileng, bege, bisu, cobek, bengor, bongol, curek, pacek, bulenan, tapas, koreng kerek,…’
Lalu apakah ngarga tirta dengan puja Astu Mpungku bagi seorang dalang hanya digunakan dalam pertunjukan ritual manusa yadnya semata?
Dikatakan Jro Dalang Sembroli semu ritual Panca yadnya menggunakan puja ini sebagai sarana meruwat. Baik untuk upacara Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Dewa Yadnya, Rsi Yadnya maupun Bhuta Yadnya.
“Sepengetahuan saya banyak kawan kawan di Bali Selatan konon tidak menggunakan Puja Astu Mpungku. Kalau dalang di Bali Utara rata rata menggunakan puja itu. Jadi bukan memasukkan unsur unsur lain. Dan di Bali Utara itu cukup disiplin dengan yang tercantum dalam Lontar Dharma Pewayangan,” katanya lagi.
Lanjutnya, Titra yang dihasilkan dari prosesi ngarga tirta ini umumnya dipercikkan kepada sang yajamana, baik yang menjalankan ritual otonan, mesangih, upacara kematian.
“Tirta wayang ini sudah dianggap tuntas untuk menyucikan leluhurnya. Jadi sangat tepat jasad seseorang disucikan dengan menggunakan tirta penglukatan wayang,” paparnya.
Seperti tirta pada umumnya, sarana utama dalam prosesi ngarga tirta melalui Puja Astu Mpungku yang dilakukan Dalang tetap menggunakan sarana air yang sumbernya suci. Seperti kelebutan maupun mata air lainnya yang disucikan.
Dikatakan Jro Dalang Sembroli, dirinya kerap menggunakan Air yang sumbernya berasal dari di tirta sudamala.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Mendem Pedagingan di Pura Dalem Puri, Carangsari, Petang
Setelah itu di rumah bisa dilakukan ngukub, sehingga airnya bisa dibawa ke lokasi acara pertunjukan, untuk kemudian disucikan dengan Puja Astu Mpungku.
“Kenapa itu saya lebih memilih membawa air dari rumah, karena kalau disiapkan sang yajamana itu kerap pakai air mineral. Jadi alangkah baiknya kalau memang air yang dibawa itu jelas sumber mata airnya,” kata Jro Dalang Sembroli.
Pun demikian dengan sarana Bunga yang diletakkan di air sebelum disucikan disarankan sebelas macam. Bunga yang digunakan bisa berasal dari jenis tunjung atau teratai, kenanga, cempaka dan bunga lainnya.
Sedangkan untuk sarana banten yang dihaturkan saat Puja Astu Mpungku dilakukan bisa menyesuikan dengan konsep Desa Kala Patra. Sebab, Banten sangat beranekaragam, tergantung dresta masing-masing. Sehingga tentu saja tidak bisa disamaratakan dan menyebut ini benar atau salah.
“Tetapi kalau di tempat tiang itu yang digunakan saat Puja Astu Mpungku biasanya menggunakan sarana apula gembal, seetan pula gembal, sekar setaman, pajegan, tipat gong pemungkah gedong, pesegehan. Ada juga yang menggunakan suci, sorohan, ada pula banten sudamala. Jadi tidak ada yang salah,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika