Tersembunyi di Balik Perumahan: Kisah Pura Beji Pondok Intan Asri, Sumber Air Suci yang Tak Disangka!
I Putu Suyatra• Selasa, 6 Mei 2025 | 23:19 WIB
Pura Beji Pondok Intan Asri
BALIEXPRESS.ID - Ketika mendengar kata "Pura Beji" di Bali, benak kita langsung tertuju pada pura-pura sakral dengan pancoran air alami yang memancarkan kesucian.
Namun, tahukah Anda bahwa di tengah ramainya perumahan Pondok Intan Asri, Desa Sedang Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tersimpan sebuah Pura Beji unik yang menyimpan kisah menarik dan sumber air suci yang dipercaya mampu melebur mala (aura negatif)?
Pura Beji Pondok Intan Asri, sebuah oase spiritual yang tak disangka keberadaannya di antara hunian modern, menjadi destinasi melukat yang dicari oleh umat Hindu Bali.
Keberadaannya yang "tersembunyi" justru menambah daya tariknya, mengundang rasa penasaran dan kekaguman akan harmoni antara tradisi dan perkembangan zaman.
Dari Sawah Subur hingga Sumber Kesucian
Menurut penuturan Mangku Nengah Sandra, pemangku Pura Beji ini, jauh sebelum riuhnya pembangunan perumahan, lokasi pura ini adalah hamparan sawah yang subur.
Di tengahnya, memancar sumber air alami (telebutan) yang menjadi cikal bakal kesucian tempat ini.
Sempat terlupakan seiring berjalannya waktu, Pura Beji kembali menemukan cahayanya pada tahun 2004, ketika Mangku Sandra menjadi bagian dari komunitas perumahan.
Hal ini terjadi setelah area tersebut dibangun dan dilakukan penataan oleh pengembang perumahan. Kini, sumber air suci tersebut tertampung rapi dalam sebuah sumur, siap digunakan untuk ritual melukat.
Melukat di Jantung Perumahan
Prosesi melukat di Pura Beji ini dilakukan di areal jaba (luar) pura.
Setelah pemangku memanjatkan doa dan mengambil air suci dari sumur, umat dapat melakukan pembersihan diri dengan khusyuk.
Sarana yang dibutuhkan pun cukup sederhana, yakni banten pejati dan Bungkak Nyuh Gading (kelapa gading muda) yang dilengkapi dengan bunga tujuh atau sebelas warna.
Waktu yang Tepat untuk Menyucikan Diri
Menurut Mangku Sandra, waktu yang utama untuk melakukan pengelukatan adalah pada saat purnama (bulan purnama) dan tilem (bulan mati).
Namun, umat juga dapat melakukan ritual ini pada hari-hari lain yang dianggap baik, seperti saat otonan (hari kelahiran berdasarkan kalender Bali) atau hari yang telah ditentukan secara pribadi. ***