Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dapur Umat Hindu Bali: Jangan Sembarangan Tambah Bangunan! Efek Negatif Mengintai Penghuni Rumah

I Putu Suyatra • Kamis, 8 Mei 2025 | 13:11 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, membangun dapur bukanlah sekadar urusan tata letak praktis. Ada aturan sakral yang mengikat, di mana dapur idealnya berdiri kokoh di wilayah hilir pekarangan, atau yang dikenal dengan sebutan teben.

Melanggar tatanan ini, apalagi nekat menambahkan bangunan lain seperti emperan, diyakini dapat membawa dampak negatif yang tak main-main bagi seisi rumah.

Benarkah demikian?

Menurut kajian mendalam dari Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa, menambahkan emperan pada bangunan dapur adalah sebuah pantangan besar.

Baca Juga: Pawiwahan di Sembiran: Wajib Jalani Ritual Nelubulanin bagi Wanita luar yang Menikah ke Sembiran

Ia menjelaskan bahwa tindakan ini dapat "mengaktifkan" Pamali, sebuah konsep larangan adat yang jika dilanggar dipercaya akan memicu datangnya hawa panas atau gelombang energi negatif di seluruh pekarangan.

Lebih jauh, Guru Nabe Budiarsa mewanti-wanti bahwa Pamali ini bahkan bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik.

Lantas, mengapa penambahan emperan pada dapur dianggap sebegitu fatal?

Guru Nabe Budiarsa menguraikan bahwa dapur adalah pusat perapian, tempat bersemayamnya kekuatan Brahma dengan elemen api yang memiliki urip (energi kehidupan) tertinggi, yakni 9.

Angka 9 ini dianggap sebagai puncak, sehingga penambahan bangunan justru akan "memaksanya" menjadi angka 10, yang secara filosofis kembali ke angka kecil (1 dan 0).

Baca Juga: Pelajar SMK Tewas Mengapung di Sungai: Polisi Ungkap Kronologi Penemuan

Hal ini diyakini dapat melemahkan energi positif yang seharusnya terpancar dari dapur.

"Karena menjadi angka tertinggi, maka tidak bisa dibesarkan lagi. Ketika dibesarkan lagi akan menjadi angka 10. Angka 10 ini terdiri dari angka 1 (satu) dan 0 (nol). Ini berarti, setelah angka 9 akan kembali ke angka kecil," jelas Guru Nabe Budiarsa.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa urip bukanlah sekadar angka, melainkan representasi dari kekuatan kehidupan.

Bangunan dengan urip tertinggi, dalam hal ini dapur, sebaiknya berdiri sendiri tanpa perluasan agar tidak mengganggu keseimbangan energi di pekarangan.

Pengecualian berlaku jika bangunan dapur dan ruang lainnya memang dirancang menjadi satu kesatuan sejak awal.

Lalu, apa saja dampak negatif yang bisa timbul akibat melanggar Pamali Brahma ini?

Guru Nabe Budiarsa memaparkan sejumlah konsekuensi yang patut diwaspadai, di antaranya adalah gangguan pada perut, fungsi hati, kaki, masalah tekanan darah tinggi, maag (baik asam lambung maupun gas), suhu tubuh yang tidak stabil, hingga perubahan perilaku menjadi lebih temperamental, emosional, mudah tersinggung, tidak betah di rumah, dan rentan terjadi perselisihan.

Ironisnya, dampak buruk ini disebut lebih dominan dirasakan oleh kaum perempuan penghuni rumah, bahkan berpotensi menyebabkan masalah ekonomi akibat pengeluaran yang boros.

Baca Juga: Melalui Program Bedah Warung, Bupati Kembang Hartawan Dorong Warung Lokal Naik Kelas dan Mampu Bersaing

Selain penataan bangunan dapur, ada aspek penting lain yang perlu diperhatikan, yaitu posisi pelangkiran (tempat persembahyangan) di dapur.

Dapur dalam konsep Hindu Bali bukan hanya sekadar tempat mengolah makanan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk upacara keagamaan.

Dalam proses memasak, tiga unsur penting yang disebut Tri Amerta (api, air, dan angin) memegang peranan krusial.

Ketiganya merupakan anugerah dari Sanghyang Tiga yang berstana di Kemulan.

Guru Nabe Budiarsa menjelaskan bahwa api dan air adalah dua elemen yang bertolak belakang dan tidak dapat disatukan.

Kekuatan yang mampu mengendalikan kedua energi ini adalah kekuatan Siwa, yang diyakini mampu menetralkan segala sifat energi alam.

Oleh karena itu, setiap aktivitas di dapur hendaknya selaras dengan kekuatan Siwa agar berjalan baik dan aman.

Dari sinilah muncul pemahaman filosofis bahwa yang berstana di pelangkiran dapur adalah Sang Hyang Siwa Karma. Karma dalam konteks ini berarti perbuatan.

Baca Juga: 5 Restoran Instagramable di Bali, Sajiannya Lezat, Suasana Estetik

"Maka, apapun perbuatan kita di dapur yang menggunakan tiga unsur Tri Amerta (api, air, dan angin) harus seizin dan restu dari Dewa Siwa," tegas Guru Nabe Budiarsa.

Secara filosofis, ketiga unsur Tri Amerta juga memiliki representasi warna dewa: api (merah) adalah Brahma, air (hitam) adalah Wisnu, dan angin (putih) adalah Iswara atau Siwa.

Implikasi dari hal ini adalah posisi pelangkiran dapur sebaiknya menghadap ke barat, karena timur, selatan, dan utara telah diasosiasikan dengan warna dan dewa lainnya.

Dengan demikian, tidak perlu lagi melakukan persembahan terpisah untuk api, air, beras, atau nasi, karena semuanya telah terwakili oleh Sang Hyang Siwa Karma.

Persembahan di pelangkiran dapur pun dapat dilakukan secara sederhana, seperti dengan punjung rayunan atau persembahan berisi kopi, air, canang, dan yadnya sesa dalam satu wadah.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, dapat dihaturkan pras pajati atau ketipat sari sebagai simbol sari dari amerta boga (esensi makanan suci).

Fungsi dari persembahan ini adalah untuk memohon amerta atau sumber kehidupan, serta memohon penetralisasi dari hal-hal negatif yang mungkin terkandung dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi, demi kesehatan jasmani dan rohani.

Dengan demikian, pelangkiran dapur menjadi pusat penyatuan dan penyederhanaan segala sarana upakara di dapur, menghilangkan kebutuhan untuk upacara terpisah pada unsur api, air, beras, dan nasi.

Baca Juga: Rumah Warga Karangasem Dibobol Maling, Perhiasan hingga Barang Elektronik Raib: Begini Awal Kejadian Terungkap

Kajian mendalam ini memberikan perspektif menarik tentang betapa kentalnya nilai-nilai filosofis dan spiritual dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Hindu Bali, bahkan dalam hal sesederhana membangun sebuah dapur.

Larangan menambahkan bangunan pada dapur bukan sekadar mitos, melainkan sebuah kearifan lokal yang diyakini memiliki dampak nyata terhadap keseimbangan energi dan kesehatan penghuni rumah.

Sebuah misteri dapur Bali yang patut direnungkan. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#dewa brahma #dapur #hindu bali #pekarangan