Tabir Kematian: Momok Mengerikan atau Gerbang Kehidupan Baru? Ini Kata Ahli Hindu Bali!
I Putu Suyatra• Kamis, 8 Mei 2025 | 13:41 WIB
NAGA BANDA: Naga banda merupakan sebuah wahana yang digunakan saat Ngaben atau Palebon keluarga puri atau keturunan raja di Bali. Erat kaitannya dengan Dang Hyang Dwijendra.
BALIEXPRESS.ID - Kematian, sebuah keniscayaan yang menghantui benak setiap makhluk bernyawa. Tak peduli usia, status, atau kekayaan, maut pasti datang menjemput.
Namun, di tengah ketakutan universal akan kehilangan, muncul pertanyaan mendasar: haruskah kita benar-benar gentar menghadapinya, atau justru ada perspektif lain yang lebih bijak?
"Meninggal itu seperti manusia mengganti baju kotor dengan baju yang baru," demikian perumpamaan mendalam yang dilontarkan oleh Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi, seorang ahli Hindu Bali yang juga dosen Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, saat ditemui di kediamannya.
Analogi sederhana namun sarat makna ini membuka cakrawala pemahaman tentang kematian dalam perspektif Hindu.
Menurut Prof Suka Yasa, manusia hendaknya memahami esensi hidupnya terlebih dahulu untuk kemudian mengerti hakikat kematian sebagai sebuah proses alami.
Dia menjelaskan bahwa badan fisik manusia tercipta dari materi yang fana, sehingga pasti akan mengalami kerusakan dan perlu diganti.
Proses "pergantian baju" inilah yang disebut kematian, di mana Atma (roh) akan meninggalkan badan kasar dan membawa serta badan halus untuk mengalami Punarbhawa atau kelahiran kembali dalam wujud yang baru.
Lebih jauh, Prof Suka Yasa menguraikan konsep Tri Sarira dalam ajaran Hindu, yang terdiri dari Sthula Sarira (badan kasar), Suksma Sarira (badan halus), dan Antakarana Sarira (Atma).
Badan kasar yang tersusun dari Panca Maha Butha (lima unsur dasar) bersifat sementara.
Sementara itu, Suksma Sarira yang meliputi panca indria dan berbagai keinginan serta ego akan terus melekat pada Antakarana Sarira dan ikut serta dalam siklus reinkarnasi.
Inilah mengapa sifat-sifat seseorang di kehidupan sebelumnya terkadang terbawa hingga kelahiran saat ini.
Lantas, mengapa rasa takut terhadap kematian begitu kuat mencengkeram sebagian besar manusia?
Prof Suka Yasa berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh keterikatan yang mendalam terhadap kehidupan duniawi.
Ketakutan akan kehilangan harta benda dan keluarga menjadi belenggu yang menghalangi perkembangan kesadaran spiritual.
"Orang yang takut akan datangnya kematian adalah orang yang masih dalam tahap kesadaran ragawi," tegasnya.
Semakin besar rasa takut, semakin kuat pula ikatan duniawi yang mengikat.
Sebaliknya, individu dengan kesadaran yang lebih tinggi akan lebih siap menghadapi kematian kapan pun, karena telah memahami esensi sejati dari kehidupan.
Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa takut yang inheren ini? Prof Suka Yasa menekankan pentingnya mempelajari filosofi agama dan memperluas pemahaman rohani.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti "Kenapa aku harus hidup?", "Siapa aku sebenarnya?", "Untuk apa aku dilahirkan?", dan "Darimana aku berasal?" dapat menjadi tuntunan awal dalam menghadapi ketakutan akan kematian.
Melalui pembelajaran dan praktik spiritual yang berkelanjutan, seseorang diharapkan mampu mencapai pengalaman rohani dan memahami esensi hidup serta mati.
Pemahaman inilah yang secara bertahap akan mengurangi rasa takut akan kehilangan hal-hal duniawi.
"Ketika sudah mengerti esensi akan kematian, seseorang tidak akan takut meninggalkan harta bendanya, pergi meninggalkan keluarga yang dicintainya dan hal lain yang bersifat duniawi. Sebab, kesadaran yang tinggi, membuat manusia tahu inti esensi hidup dan mati, yang bertujuan agar kembali menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi," pungkas Prof Suka Yasa.
Dengan memahami kematian bukan sebagai akhir yang mengerikan, melainkan sebagai sebuah transisi menuju kehidupan yang baru, diharapkan manusia dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bermakna, dan tanpa dihantui rasa takut yang berlebihan.
Sebuah perspektif mendalam yang mengajak kita merenungkan kembali hakikat keberadaan dan tujuan akhir dari perjalanan spiritual. ***