Beliau mengungkapkan, kuatnya akar tradisi di Pulau Dewata seringkali membuat pelaksanaan ritual terasa memberatkan secara ekonomi, terutama bagi masyarakat dengan kondisi finansial terbatas.
Lantas, adakah solusi agar esensi Yadnya tetap terjaga tanpa harus terbebani biaya selangit? Ida Rsi menekankan pentingnya memahami inti dari setiap upakara.
Beliau mencontohkan, dalam upacara Ngaben, inti dari persembahan sebenarnya sederhana, seperti Nasi Angkeb, bubur Purata, dan beberapa jenis banten lainnya yang jelas mengarah pada tujuan ritual tersebut.
Namun, mengapa biaya Ngaben dan upacara lainnya tetap membengkak?
Jawabannya terletak pada Banten Ayaban Pengiring! Banten-banten tambahan inilah yang seringkali dibuat sedemikian rupa hingga jauh melampaui esensi upakara inti.
"Sepatutnya upakara bisa dibuat lebih sederhana. Para Sulinggih pun hendaknya berkenan 'mapuput' (memimpin) ritual meski upakaranya sederhana, asalkan sesuai dengan tatanan agama," tegas peraih penghargaan Reformasi Ritual ini.
Lebih lanjut, Ida Rsi mengusulkan penggolongan upakara menjadi Upakara Inti (Sederhana), Upakara Sedang, dan Upakara Besar, yang pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi Sang Yajamana (penyelenggara upacara).
Beliau mengingatkan bahwa nilai spiritual sebuah upacara terletak pada ketulusan dan keikhlasan pelaksanaannya, bukan pada kemewahan persembahan yang justru bisa menimbulkan kesengsaraan.
Ironisnya, diakui Ida Rsi, fokus masyarakat saat ini justru lebih tertuju pada kemegahan banten pengiring, hingga mengaburkan esensi dari banten inti yang sebenarnya "memberi nama" pada upacara tersebut.
Akibatnya, muncul persepsi bahwa Yadnya di Bali harus selalu dilakukan secara besar-besaran.
Kondisi ini berbeda jauh dengan pengalaman umat Hindu di luar Bali.
Ida Rsi menuturkan, umat Hindu di Jawa, misalnya, lebih leluasa melaksanakan ritual sesuai dengan adat dan budaya setempat, sehingga upacara dan upakara yang digunakan cenderung lebih sederhana dan tidak memberatkan.
Hal ini membuat mereka tidak merasa khawatir untuk melaksanakan berbagai jenis Yadnya.
Untuk itu, Ida Rsi berharap agar pura-pura dan candi-candi Hindu di luar Bali dapat mengadaptasi sarana upakara sesuai dengan budaya lokal saat piodalan.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan kesan bahwa Agama Hindu identik dengan budaya Bali, sehingga tidak menimbulkan rasa takut bagi siapa pun untuk memeluk agama yang universal ini. ***