Cara Makan yang Benar Menurut Hindu Bali: Pantangan dan Arti Sebenarnya Ngleklek hingga Ngamah Menurut Lontar Tutur Lebur Gangsa
I Putu Suyatra• Sabtu, 10 Mei 2025 | 16:51 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID - Selama ini kita mungkin hanya tahu etika makan secara umum. Namun, tahukah Anda bahwa dalam ajaran Hindu Bali, tata cara makan memiliki aturan khusus yang bersumber dari kitab suci?
Ternyata, posisi duduk saat makan pun mengandung makna mendalam!
Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, seorang pemuka Agama Hindu Bali, membeberkan rahasia ini berdasarkan Kitab Manawa Dharmasastra II. 52.
Menurutnya, arah menghadap saat menyantap makanan ternyata memiliki implikasi berbeda!
"Seseorang yang menyantap makanan menghadap ke timur akan panjang umur. Jika menghadap ke selatan akan menjadi terkenal. Kalau seorang makan menghadap ke barat, maka akan makmur, dan jika menghadap ke utara, ia akan mendapat kebenaran," jelasnya.
Lebih dari sekadar arah, tata cara makan dalam Hindu Bali juga menekankan sikap batin.
Sebelum menyantap hidangan, umat dianjurkan untuk berdoa dan melihat makanan dengan rasa suka cita.
"Jangan merasa muak bila makanan yang sedang kita hadapi tiada berkenan. Jangan pula mencela makanan yang dihidangkan, bilamana makanan tersebut bukan menjadi kesukaan," lanjut Pinandita Ketut Pasek Swastika, mengutip Manawa Dharma Sastra II.54 yang menekankan pentingnya menghormati setiap makanan.
Setelah selesai makan, ritual berlanjut dengan membersihkan tangan dan memercikkan air ke ubun-ubun, sebagai harapan akan anugerah atas makanan yang telah disantap.
Terakhir, ditutup kembali dengan doa sebagai ungkapan syukur dan harapan untuk rezeki makanan di kemudian hari.
Namun, ada pula larangan penting dalam tata cara makan Hindu.
Manawa Dharmasastra II.56 mengingatkan untuk tidak menyantap makanan yang ditinggalkan orang lain, tidak makan di antara dua waktu makan, tidak makan berlebihan, dan tidak terburu-buru pergi setelah makan sebelum membersihkan mulut.
Lebih jauh lagi, Lontar Tutur Lebur Gangsa mengungkap sejumlah "pantangan" gaya makan yang mungkin sering kita dengar sebagai nasihat orang tua.
Pinandita Ketut Pasek Swastika menjabarkan beberapa di antaranya:
Nyeret: Makan sambil berjalan, dianggap tidak pantas.
Ngeleklek: Makan sambil melakukan pekerjaan lain, menunjukkan kurang fokus.
Nugtih: Makan sambil duduk dengan kaki membujur terlilit ke depan.
Ngeloklok: Makan dengan cara berjongkok, kurang sopan.
Leler: Makan sambil berdiri, tidak baik untuk kesehatan.
Mamantet & Nidik: Makan sambil berdiri menghadap ke barat (Mamantet) atau selatan (Nidik).
Ngamah: Makan sambil tiduran, kecuali bagi yang sakit.
Mlokpok: Makan seperti binatang, langsung menggunakan mulut.
Nyilapin: Duduk dengan lutut diberdirikan saat makan.
Di sisi lain, tokoh spiritual Rasa Acharya Praburaja Darmayasa menyoroti tradisi leluhur Bali yang menyisihkan sedikit makanan di sisi piring sebelum makan, sebagai bentuk penghormatan dan pemahaman akan ajaran leluhur.
Beliau juga menekankan larangan berbicara saat makan, karena makanan dianggap sebagai "amerta" (air kehidupan) yang patut dihormati.
Dalam Padma Purana dan Mahabharata, disebutkan pula anjuran untuk mencuci kelima anggota badan (kedua kaki, kedua tangan, dan muka) sebelum makan, yang dipercaya dapat memperpanjang usia.
Rasa Acharya Praburaja Darmayasa juga mengenalkan istilah "Nunas Ajengan" (memohon makanan), yang mengandung makna mendalam bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa dan hanya memohon rezeki dari Hyang Parama Iswhara.
Dia juga menjelaskan konsep "yajña-śiṣṭāmṛta bhujo", di mana makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan bukan lagi sekadar makanan, melainkan "lungsuran" atau "Prasadam" (karunia Tuhan). Tradisi "ngejot", "masaiban", dan "yadnya seṣa" adalah wujud nyata dari penghormatan ini.
Lebih menarik lagi, leluhur ternyata memiliki alasan "ilmiah" di balik anjuran mencuci tangan sebelum makan.
Ujung jari tangan memiliki titik saraf yang terhubung dengan enzim pencernaan. Tangan yang bersih akan membuat saraf lebih peka merasakan tekstur dan suhu makanan, mengirimkan informasi penting ke kelenjar untuk mempersiapkan enzim yang dibutuhkan.
Inilah mengapa makan dengan tangan (jika suhu memungkinkan) dianggap lebih baik daripada menggunakan alat makan.
Terakhir, baik Pinandita Ketut Pasek Swastika maupun Rasa Acharya Praburaja Darmayasa sepakat bahwa mencela makanan adalah pantangan besar.
Apa pun hidangan yang tersaji, itulah karunia Tuhan yang patut disyukuri. Bahkan, bagi yang memasak, dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu agar pikiran dan badan bersih, sehingga kasih sayang dapat "meresap" ke dalam masakan.
Ternyata, tata cara makan dalam Hindu bukan sekadar etika, melainkan sebuah ritual sakral yang sarat makna filosofis dan bahkan implikasi kesehatan! ***