Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik! Tradisi Mencuri Anak Sapi Demi Kesucian Desa di Bali: Bukan Kriminal, Justru Ritual!

I Putu Suyatra • Minggu, 11 Mei 2025 | 20:41 WIB

Pecaruan di Pura Dalem Kangin, Desa Kutuh, Kintamani, Kabupaten Bangli.
Pecaruan di Pura Dalem Kangin, Desa Kutuh, Kintamani, Kabupaten Bangli.

BALIEXPRESS.ID - Mencuri? Tentu saja melanggar hukum! Namun, di Desa Kutuh, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, tradisi "ngemaling" (mencuri) justru menjadi bagian sakral dari upacara pecaruan di Pura Dalem Kangin.

Bukan sembarang curi, ritual unik bernama Ngemaling Urip ini dipercaya membawa kedamaian desa sebelum Nyepi Adat tiba. Bagaimana bisa?

Dilaksanakan sehari sebelum Nyepi Adat, bertepatan dengan ngusaba dalem setiap sasih kaenam (bulan keenam kalender Bali), upacara Ngemaling Urip dipusatkan di jaba sisi (halaman luar) pura dan dipimpin oleh Jero Kebayan.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut Saat Truk Fuso Menggila Tabrak 4 Motor, 1 Nyawa Melayang!

"Barang" yang "dicuri" bukanlah emas permata, melainkan urip (nyawa) simbolis berupa kepala, empat kaki, ekor, dan seluruh kulit anak sapi yang telah disembelih, semuanya tersaji dalam banten pecaruan (sesajen).

Wayan Rakih, salah seorang pangelingsir (tokoh sesepuh), menuturkan bahwa tradisi ini dimulai sekitar pukul 15.00 WITA, dengan puncak "pencurian" terjadi tepat saat sandikala (senja), sekitar pukul 18.00 WITA.

Pelakunya adalah seorang saye (petugas upacara) yang telah ditunjuk khusus.

Baca Juga: Kisah Air Suci Pura Beji Golok dari Goa Misterius: 6 Pancoran Ajaib untuk Mandikan Bayi dan Sumber Kesehatan Warga di Tabanan!

Urip untuk Buta Kala: Mengusir Energi Negatif Sebelum Keheningan

Lantas, mengapa harus "mencuri"? Urip dari anak sapi ini dipersembahkan kepada para buta kala (energi negatif) dengan tujuan agar mereka tidak mengganggu ketenangan desa menjelang dan selama pelaksanaan Nyepi Adat.

Prosesi Ngemaling Urip terbilang sederhana namun penuh makna.

Diawali dengan upacara mecaru di jaba pura yang diikuti seluruh krama (warga) dan dipimpin oleh Jero Kebayan Ulun Desa.

Puncaknya terjadi setelah pecaruan hampir usai. Seorang saye akan beraksi layaknya pencuri sungguhan, mengambil secara diam-diam urip anak sapi dari atas banten dan langsung berlari keluar pura.

Aksi "pencuri" ini tak akan berjalan mulus. Saye kedua bertugas membawa prakpak (daun kelapa kering yang diikat dan dibakar).

Tepat saat saye pertama membawa kabur urip, prakpak akan dilemparkan mengenai "pencuri", dan kulkul bulus (kentongan bambu khusus) akan dibunyikan sebagai tanda "pencurian" telah diketahui!

Setelah "tertangkap" dan "barang curian" dibuang, saye pertama akan dibawa kembali ke pura untuk nunas tirta pembersihan (memohon air suci) yang telah disiapkan.

Kulkul Berbunyi Hingga Nyepi Tiba: Pantangan yang Tak Boleh Dilanggar

Bunyi kulkul bulus tak berhenti setelah "pencuri" tertangkap. Suaranya akan terus bergema hingga keesokan harinya tepat pukul 06.00 WITA.

Baca Juga: Jasad Siswa SMK di Sungai Brantas: Luka Lebam dan Teman Sekolah Jadi Sorotan!

Berhentinya bunyi kulkul inilah yang menandakan dimulainya Hari Raya Nyepi Adat di Desa Kutuh.

Selain itu, ada pantangan yang masih diyakini hingga kini. Saye yang berperan sebagai "pencuri" wajib kembali ke lokasi upacara untuk memohon air pembersihan.

Jika pantangan ini dilanggar, dipercaya gangguan jiwa akan menghantuinya.

"Nah seperti itulah prosesinya yang kami lakukan pas tradisi tersebut berlangsung," jelas Wayan Rakih.

"Pas ngemaling sudah ketahuan lalu kulkul bulus dibunyikan, hal tersebut akan dilakukan sampai jam 06.00 WITA besoknya, itu sebagai tanda bahwa Nyepi Adat sudah dimulai setelah kulkul bulus berhenti berbunyi.

Baca Juga: Kisah Vonis MAUT Serial Killer, Jagal Wonogiri: Misteri 4 Nyawa Melayang Terkuak di Persidangan!

Satu lagi dipercaya oleh krama kalau yang mencuri urip juga harus kembali untuk nunas tirta pebersihan agar tidak terjadi gangguan jiwa," pungkasnya.

Tradisi unik Ngemaling Urip ini bukan sekadar "mencuri", melainkan sebuah simbol pengorbanan dan pembersihan yang mendalam, demi menyambut kesucian Hari Raya Nyepi Adat di Desa Kutuh.

Sebuah kearifan lokal yang patut diacungi jempol! ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kintamani #unik #Kabupaten Bangli #tradisi #mencuri