BALIEXPRESS.ID - Sudra merupakan klasifikasi profesi terakhir dalam konsep catur varna. Sudra pada dasarnya menjadi salah satu profesi terbanyak yang digeluti oleh masyarakat baik dari dahulu hingga sekarang.
Beberapa pandangan mengatakan bahwa profesi sudra tertuju pada orang yang memilih untuk mendedikasikan dirinya sebagai seorang pelayan, termasuk melakukan hidup bertani, menjadi nelayan, penjaga, dan sesekali berwirausaha.
Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan profesi ini juga sangat penting keberadaannya dalam kehidupan sosial, mengingat segala bentuk pergerakan kehidupan sosial kebudayaan termasuk ketersediaan pangan tidak dapat berjalan dengan lancar apabila tidak ditopang oleh profesi sudra itu sendiri.
Namun, keberadaan varna sudra sering dikorelasikan dengan status sosial terbawah atau terndah. Oleh sebab itu, dalam lingkup kehidupan atau interaksi sosial di Bali masih banyak yang memberikan jawaban tentang sudra sebagai kasta. Disisi lain, sudra sering disamakan dengan “anak jaba”.
“Pandangan ini memerlukan sebuah perenungan kembali terkait profesi sudra yang sejatinya merupakan profesi luhur dalam tatanan catur varna. Sudra sejatinya adalah profesi mulia yang penuh dengan nilai-nilai pengabdian,” paparnya.
Danu mengatakan hal ini dapat disimak melalui tugas pokok seorang sudra sebagaimana termuat dalam petikan Sarasamuccaya Sloka 66 sebagai berikut:
“Yapwan ulahaning śūdra, bhaktya sumewā ri sang brāhmaṇa, ri sang kṣatriya, ring waiśya, yathākrama juga, parituṣṭa sang tĕlun sinewakanya, hilang ta pāpanya, siddha sakaryanya.”
Terjemahannya:
“Inilah yang harus dilakukan oleh Sudra; setia mengabdi kepada sang Brāhmaṇa, Kesatria dan, Waisya. Hal itu yang harus dilakukan. Bila ketiga golongan itu merasa puas saat diladeni, maka akan hilanglah kesengsaraan sang Sudra dan sukses segala pekerjaannya”.
Petikan Sarasamuccaya Sloka 66 di atas memberikan perenungan tentang tugas seorang sudra yang prosesinya lebih banyak merujuk pada kegiatan mengabdi.
Sudra merupakan tenaga penggerak utama yang menjalankan berbagai tuntunan keilmuan dari seorang brahmana, realisasi kebijakan dari seorang ksastria, dan pola penataan ekonomi seorang wesia.
Setidaknya hal ini menjadi sebuah pandangan dasar bahwa sudra bukan merupakan kasta, tetapi sebagai profesi yang banyak menekankan pada penggunaan tenaga untuk menggerakan dan mendukung segala bentuk tatanan dari tiga varna di atasnya. Hal ini juga memberikan sebuah perenungan bahwa catur varna yang ada bukan berdiri sendiri, namun saling terkait dan memberikan dukungan.
“Seorang sudra diharapkan mengabdikan diri untuk membantu brahmana, ksatria, dan wesia. Mengingat, tiga profesi tersebut sangat memerlukan bantuan tenaga penggerak yang dalam hal ini dapat disediakan oleh kalangan profesi sudra,” tegas Danu.
Dengan kata lain, setiap profesi baik dalam ranah brahama, ksatria, dan wesia memerlukan adanya kolaborasi kinerja dengan profesi lain, termasuk sudra itu sendiri.
Brahmana misalnya, akan lebih banyak bekerja dengan ranah keilmuan, namun memerlukan adanya penyediaan sarana yang dalam hal ini ditunjang oleh pengadaan pemerintah atau dari kalangan ksatria.
Kalangan ksatria memenuhi keperluan tersebut dengan membeli dan dipenuhi oleh profesi wesia. Sarana fisik yang diperlukan akan dibawa oleh sudra. Siklus ketergantungan sebagaimana disebutkan sebelumnya, terjadi di masing-masing profesi.
Profesi sudra yang banyak bekerja dengan tenaga akan menjadi sosok terlatih dan tangguh. Berbagai tantangan kerja yang sejatinya memerlukan kesigapan dari sisi tenaga (bayu), mampu diatasi oleh kalangan profesi sudra.
Banyak orang-orang terampil dari sisi fisik dalam bekerja akan dapat disimak melalui profesi sudra seperti petani, pengerajin, dan sebagainya. Profesi ini memiliki tenaga yang ekstra kuat, bahkan mampu bertahan lebih lama dalam aktivitas kerja fisik penuh tantangan.
“Profesi seorang pengabdi seperti sudra berpeluang besar mencapai kesuksesan maksimal di bidang wesia, ksatria, dan brahmana. Ketangguhan dari sisi tenaga atau fisik yang dimilikinya, menjadi modal utama untuk bekerja secara lebih maksimal baik di bidang perdagangan, pemerintahan, maupun keilmuan,” tegasnya.
Profesi sebagai pedagang, pemerintahan, maupun di sektor fungsional keilmuan era saat ini bahkan lebih banyak dituntut untuk menekankan kinerja fisik. Kinerja nyata dilihat melalui kerelaan seorang brahmana, ksatria, maupun wesia untuk terjun langsung ke lapangan, “bertarung” dengan panas terik matahari dalam merealisasikan tugas pokoknya. Tantangan seperti itu, tentunya sudah menjadi aspek habitus dari seorang yang mengabdikan dirinya dalam profesi sudra.
Dapat dikatakan bahwa sudra merupakan profesi pengabdi yang memiliki ketangguhan dari sisi fisik dan sangat diperlukan oleh klasifikasi profesi lainnya.
Seorang yang pernah tekun mengabdikan diri di jalan profesi sudra, cenderung memiliki ketangguhan fisik dan semangat, sehingga sangat berpeluang menjadi profesi wesia, ksatria, maupun brahmana dengan kinerja optimal.
“Profesi sudra sebagai inspirasi untuk melatih ketangguhan fisik dalam menjalani profesi lain, sehingga terjadi keseimbangan antara pekerjaan yang memerlukan tatanan keilmuan, politik, praktik ekonomi,” pungkas Danu. *
Editor : Putu Agus Adegrantika