BALIEXPRESS.ID - Sebuah permata spiritual tersembunyi di Desa Siakin, Kintamani, Kabupaten Bangli, menyimpan kisah unik perpaduan budaya Hindu Bali dan China.
Pura Pendem, demikian nama tempat suci Hindu Bali ini, bukan hanya mempesona dengan arsitekturnya, tetapi juga dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat akan kemampuannya mengabulkan permohonan, termasuk penyembuhan.
Keunikan Pura Pendem semakin terasa karena piodalan (hari perayaan pura) yang jatuh sehari setelah Hari Raya Kuningan, sebuah penanggalan yang tak lazim bagi kebanyakan pura di Bali.
Baca Juga: Sosok Patrice Bouttier, Chef Prancis Mertua Luna Maya yang Tampil Memukau dengan Beskap Jawa!
Lantas, bagaimana pura ini bisa berdiri dengan latar belakang budaya yang berbeda?
Jro Mangku Kadek Sugiarta, pemangku Pura Pendem, mengungkap kisah menarik di baliknya.
Konon, Pura Pendem berawal dari perjanjian antara seorang pedagang China yang menjual madat (zat adiktif) dengan seorang wanita suci yang belum menikah bernama Ida Ratu Dee Tue.
Pertemuan mereka terjadi di lokasi yang kini menjadi jaba (halaman luar) pura.
Ida Ratu Dee Tue berjanji akan membantu melariskan dagangan sang pedagang dengan satu syarat: jika usahanya berhasil, ia harus membangun tempat pemujaan. Pedagang China tersebut menyanggupi, dan benar saja, bisnisnya berkembang pesat.
Baca Juga: Kolaborasi Emosional Ayah dan Anak, Ini Lirik Lagu 'Tresna Butuh Materi' yang Trending di Medsos
Sesuai janjinya, pedagang tersebut kemudian mendirikan palinggih (bangunan suci) untuk Ida Ratu Dee Tua dan Pelinggih Konco (China), yang hingga kini dipuja oleh masyarakat Desa Siakin.
"Berawal dari kisah pedagang China yang bertemu dengan Ida Sasuhunan (yang disembah) di sini, kemudian ada perjanjian sampai akhirnya ada dua palinggih yang menjadi saksi awal berdiri pura ini," jelas Jro Mangku Kadek Sugiarta.
Seiring waktu, Pura Pendem mengalami pemugaran dan kini memiliki lima palinggih dengan fungsi yang berbeda.
Paling kanan berdiri megah Palinggih Budha, di sebelahnya terdapat Telaga Suci yang airnya digunakan untuk malukat (ritual pembersihan) dan memohon tirta (air suci).
Uniknya, umat memohon kesembuhan di Palinggih Budha. Sementara itu, kelancaran usaha dipanjatkan di Palinggih Cina atau Konco.
Terdapat pula Palinggih Ida Bhatara Dee Tue, Palinggih Ida Anak Lingsir, dan Palinggih Dewa Bumi tempat memohon kelancaran usaha dan berbagai permohonan dengan keyakinan akan kemurahan hati Ida Bhatara.
Terakhir, berdiri Palinggih Dewi Kwan Im yang dipercaya sebagai dewi penuh kasih sayang.
Misteri Pura Pendem tak berhenti di situ. Di belakang kelima palinggih, terhampar lahan kosong yang dipercaya sebagai "istana" bagi seluruh Ida Bhatara yang berstana di pura ini.
Area ini sangat disakralkan dan tak seorang pun berani memasukinya. Konon, pernah seorang pemuda yang mencoba masuk untuk mencari perlengkapan penjor (dekorasi upacara) langsung mengalami kesurupan (trance) dan memperingatkan warga untuk tidak mendekat, bahkan saat piodalan.
Sebelum memasuki area pura, pamedek (umat yang bersembahyang) wajib melakukan persembahyangan di palinggih di dekat pintu masuk, di bawah pohon besar. Palinggih ini diyakini sebagai penjaga niskala (alam gaib) pura.
Jro Mangku Kadek Sugiarta menambahkan, bagi mereka yang memiliki kepekaan spiritual, konon akan melihat penjaga-penjaga gaib di pura ini, termasuk sosok macan, wanita cantik, dan seorang pria kurus tinggi yang dipercaya sebagai raja di "istana" belakang pura.
"Sebelum masuk pura harus sembahyang dulu di Palinggih Ratu Gede untuk memohon izin masuk," tegasnya.
Kisah Pura Pendem di Kintamani ini menjadi bukti harmonisnya akulturasi budaya dan kepercayaan di Bali, menciptakan tempat suci yang unik dan penuh misteri, serta dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk mengabulkan harapan umatnya. ***
Editor : I Putu Suyatra