Umat Hindu yang hendak nangkil perlu mengetahui dudonan (rangkaian acara) pada pujawali pura yang berada di tengah Hutan Taman Nasional Bali Barat ini.
Kelian Pengempon Pura Segara Rupek, Wayan Sawitrayasa, menjelaskan Dudonan dimulai pada Redite Pon Medangsia, Minggu (11/5). Upacara diawali dengan prosesi Mendak, Mekalayas, Mesucian oleh warga adat Desa Pejarakan, disertai iringan Sekaha Gong yang memperkuat suasana sakral di area pura pesisir tersebut.
Sehari setelahnya, pada Soma Wage Medangsia, Senin (12/5), puncak upacara Piodalan digelar oleh krama Desa Adat Sumberkelampok.
Umat yang hadir tampak memenuhi areal pura sejak pagi hari, mengikuti prosesi persembahyangan dan banten yang telah dipersiapkan dengan tertib oleh pengempon pura dan masyarakat sekitar.
Upacara dilanjutkan dengan rangkaian Penganyar yang berlangsung selama enam hari berturut-turut, dimulai dari Selasa (13/5) mendatang.
“Setiap harinya, desa adat dari berbagai wilayah di Kecamatan Gerokgak secara bergilir datang untuk melakukan persembahyangan bersama,” katanya.
Dijelaskan Sawitrayasa, pada Selasa (13/5), upacara Penganyar I dihadiri oleh desa adat Tukadsumaga, Celukan Bawang, dan Sulinggih.
Prosesi penganyar juga rencananya diiringi oleh pertunjukan Rejang Dewa dari para penari remaja perempuan.
Hari berikutnya, Rabu (14/5), giliran Desa Adat Tingatinga dan Pengulon yang melaksanakan Penganyar II.
Pada Kamis, (15/5) Desa Adat Patas dan Gerokgak mengemban tugas dalam Penganyar III, yang tidak hanya dihadiri oleh umat lokal tetapi juga beberapa pemedek dari luar kabupaten yang memiliki ikatan spiritual dengan Pura Segara Rupek.
Sementara Penganyar IV dilangsungkan pada Jumat (16/5) oleh desa adat Penyabangan dan Banyupoh.
Rangkaian Penganyar V pada Sabtu (17/5) dihadiri oleh Desa Adat Pemuteran dan Sumberkima.
Kedua desa ini dikenal aktif dalam menjaga kearifan lokal dan lingkungan pesisir, selaras dengan filosofi Pura Segara Rupek yang berhubungan erat dengan penguasa laut.
Puncak persembahyangan bersama dalam Penganyar VI dilakukan pada Minggu (18/5), kembali dihadiri oleh Desa Pejarakan dan Sumberkelampok sebagai pengempon utama pura.
Prosesi ini menandai mendekatnya akhir dari seluruh rangkaian upacara pujawali yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
Pada Senin (19/5) prosesi pengajengan, penyidekaryan, pengelompon, pekelem, dan penyineb dilaksanakan oleh Desa Adat Sanggalangit dan Musi.
"Sebagai penutup, pada Selasa (20/5), diadakan upacara Ngelugar Busana oleh para pengempon pura," ungkapnya.
Di sisi lain, Pemedek yang hendak nangkil ke Pura Segara Rupek, Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak kini bisa bernafas lega.
Pasalnya, jalan sepanjang 15 kilometer menuju pura yang seelumnya merupakan jalan bebatuan kini sudah mulus diaspal sejak Juli 2023 lalu.
Waktu tempuh pun kian singkat, dari 1,5 jam kini hanya ditempuh 30 menit saja dari jalan utama Singaraja-Gilimanuk.
Pasalnya, jalan sepanjang 15 kilometer tersebut dihotmix hingga menuju areal parkir Pura Segara Rupek.
Jika sebelum diaspal, kecepatan kendaraan maksimal hanya 10-15 kilometer per jam. Namun kini bisa di kisaran 50 kilometer per jam.
Namun, pengendara wajib hati-hati, karena selain banyak pepohonan yang menjorok ke badan jalan, juga acapkali ada hewan seperti monyet hingga menjangan menyebrang jalan.
Begitu juga pemedek yang nangkil ke pura ini secara kuantitas meningkat. Tidak jarang harus berpapasan di jalan yang lebarnya tidak lebih dari 2,5 meter. Pengendara pun harus memperlambat laju kendaraanya agar tetap aman. (dik)
Editor : I Putu Mardika