BALIEXPRESS.ID – Wanaprasta merupakan tingkat pengendalian diri yang seyogyanya dilaksanakan oleh salah satu catur varna. Orang yang akan mengabdikan dirinya di jalan keilmuan dharma (brahmana), pada dasarnya wajib melatih diri untuk melaksanakan pengendalian diri tingkat wanaparastha.
Terlebih lagi, apabila orang tersebut akan menjadi seorang brahmana dalam konteks diwijati, maka kemampuan diri untuk menjalankan perilaku wanaprastha menjadi sebuah keharusan diri yang hendaknya dilaksanakan secara maksimal. Banyak orang yang telah menyatakan dirinya menjalankan sasana kawikon atau “menenggelamkan diri” di jalur sastra agama akan dipandang telah menjalankan titik pengendalian wanaprastha dengan baik.
Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan Wanaprastha dalam konsep catur asrama merupakan tahapan ketiga sebelum mencapai tahapan tertinggi yakni bhiksuka. Wanaprastha dalam konteks catur asrama merupakan manajemen terhadap diri untuk mulai meninggalkan berbagai kenikmatan duniawi. Wana memiliki arti hutan. Dengan demikian, orang yang menyatakan diri untuk mencapai bhiksuka akan terlebih dahulu melakukan praktik hidup sebagai seseorang melakukan pengasingan diri ke dalam hutan.
“Orang yang melakukan pengasingan diri ke dalam hutan tidak akan pernah menemui kenikmatan duniawi. Orang tersebut hanya akan menemukan hutan rimba gelap, menyatu dengan hijaunya semesta raya, serta hening dalam kesejukan dan kesendirian. Kondisi hidup dan perilaku hidup dalam hutan akan dijadikan sebagai laku utama ketika menjadi seorang bhiksuka nantinya,” papar Danu.
Meski demikian, profesi dan orang yang seharusnya melakukan pengendalian diri dalam tahap vanaprastha masih dilekati oleh nafsu duniawi. Kondisi ini adalah bagian dari pengaruh dari esensi pelaku vanaprastha yang merupakan manusia biasa.
Meski demikian, ketika seseorang secara ideal wajib melakukan perilaku kewanaprasthan maka hal tersebut wajib dilakukan secara maksimal tanpa pengecualian. Namun, apabila masih terjadi diskontekstualisasi maka berbagai efek negatif, maka orang tersebut belum sepenuhnya mampu menjalani kawanaprasthan.
Terkait dengan hal tersebut, maka kitab Sarasamuccaya Sloka 68 memberikan penjelasan sebagai berikut: “Waneh wānaparṣṭhādi, sāwaka ning mataki-taki kamokṣan tātan hilang rāganya, masuruhan maphala ryawaknya, swartha kewala wih, inahakĕn patīrthana, panĕmwana warawarah, ndān mūrkha, tan panolih sukhāwasāna, kadatwan tan paratu, grĕhastha tan māsih ring anak, tan huninga ring rāt kunĕng, samangkana lwirning kawlas arĕp, niyata wi panĕmwanya hala”
Terjemahannya: “Lain lagi yang bernama Wanaprastha yang utama. Merupakan cara orang-orang yang mempersiapkan diri untuk mencapai mokṣa. Namun orang itu belum lenyap nafsu birahinya, ia menjaga segala hasil kerjanya hanya untuk dirinya sendiri, membuat cemar tempat-tempat suci, tempat belajar agama, angkara murka, tiada memperhitungkan kebahagian masa depan, istana tanpa raja, berkeluarga tanpa anak, dan tidak menghiraukan masyarakat. Seperti itulah hal-hal yang patut disayangkan, pastilah akan menemukan petaka”.
Petikan sloka di atas mengatakan bahwa wanaprastha sejatinya merupakan perilaku pengendalian diri utama, namun belum tentu dapat direalisasikan secara sempurna oleh pelakunya. Maksimalnya pelaksanaan pengendalian diri tahap wanaprastha sangat bergantung dengan kemampuan manajemen nafsu duniawi dari pelakunya. Wanaprastha yang belum disertai dengan pengendalian diri secara maksimal, hanya akan melahirkan wanaprastha dalam ranah kulit. Dalam artian, orang tersebut menyatakan diri sebagai wanaprastin, mempergunakan bingkai fisik sebagai wanaprastha, namun melakukan perilaku yang lebih dominan dilakukan oleh tahapan pengendalian diri lain di bawahnya.
Aspek keduniawian yang belum terkendali menyebabkan pelaku wanaprastha menjadi sosok kikir dan emosional. Kondisi ini menjadi salah satu indikasi bahwa orang yang hendak menjalani hidup menjadi wanaprastha, belum tuntas menikmati kekayaan secara harmoni ketika ada dalam fase sebelumnya. “Disisi lain, dapat diprediksi pula sebagai tidak maksimalnya pencapaian harta kekayaan pada fase sebelumnya, sehingga kekayaan yang masih dijaga ketika menjalani wanaprastha tidak rela untuk dijadikan sebagai objek punia,” terang pria asli Penebel Tabanan ini.
Danu menambahkan, ketika kondisi keuangannya terganggu, maka sering kali orang yang menyatakan diri sebagai wanaprastha ini termatik amarahnya. Maka tidak jarang muncul sosok wanaprastha murka. Leteh juga bisa disebabkan oleh kalangan wanaprastha yang tidak mampu mengendalikan dirinya untuk mengikuti kehendak duniawi. Kegiatan seorang wanaprastha saat ini memang tidak dilakukan di hutan, namun lebih mengarah ke tempat suci.
Kesibukan di tempat suci dipandang sebagai simbolisasi diri melakukan pengabdian penuh terhadap Tuhan. Namun, sifat kikir dan amarah yang masih melekat dalam dirinya terkadang terjadi dalam ruang suci, sehingga tidak heran apabila ada sosok wanaprastha mampu menjadi leteh lingkungan tempat suci. Disisi lain minimnya pengendalian diri dari wanaprastha akan mampu menyebabkan disharmoni sosial. Terkadang, minimnya kesiapan diri untuk menjadi seorang wanaprastha hanya akan menjadikan pangkal konflik rumah tangga, tidak harmonis dengan lingkungan masyarakat disekitarnya, bahkan terkesan tidak menemukan masa depan berbalut kebahagiaan. Semuanya terjadi sebagai akibat dari pengabdian dalam tatanan wanaprastha yang dijalani oleh orang tersebut belum sepenuhnya memiliki kekuatan dasar dan tidak dijalani dengan tulus.
Apabila pengendalian nafsu duniawi dalam menjalani tahapan wanaprastha belum sepenuhnya terkandali, maka akan selamanya menghantarkan manusia pada jalan semu. Kontek semu dalam hal ini adalah posisi bimbang, antara masih berada pada tahapan menjalani keduniawian atau memang secara sungguh-sungguh menjadi seorang wanaparstha. Kematangan diri menjalani sebuah pengendalian yang lebih tinggi akan selalu menjadi tuntutan baik dari diri sendiri maupun dari masyarakat disekitarnya.
“Berdasarkan ulasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa orang yang sedang menjalani wanaparstha belum seutuhnya dapat disebut sebagai manusia dengan kesempurnaan tahapan hidup maupun spriritual. Apabila kerelaan untuk melepas kenikmatan duniawi masih ragu, maka keutamaan wanaprastha hanya masih dalam konteks wacana,” tegas jebolan Doktor UHN Bagus Sugriwa Denpasar ini. *
Editor : Putu Agus Adegrantika