Diyakini, pura yang pujawali jatuh pada Purnama Sasih Jyestha ini memiliki hubungan dengan kisah terpisahnya Pulau Jawa dengan Bali.
Selama sepekan, Pura Segara Rupek dilaksanakan pujawali dari Minggu (11/5) hingga Soma (19/5) mendatang. Seluruh prosesi dilaksanakan oleh pengempon yang berasal dari berbagai desa di Kecamatan Gerokgak.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) saat nangkil pada Kamis (15/5) pemedek yang nangkil saat nganyarin tergolong ramai. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Bali.
Jro Mangku Wayan Kutang, 57, salah seorang Pemangku di Pura Segara Rupek menjelaskan, sejak akses jalan diperbaiki menuju Pura Segara Rupek sepanjang 15 kilometer pemedek yang nangkil selama pujawali meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pemedek yang nangkil hampir dari seluruh Bali. Apalagi saat puncak pujawali membludak yang nangkil. Sepertinya karena jalan sudah bagus, sehingga banyak yang ingin nangkil” jelasnya.
Ia menjelaskan, keberadaan Pura Segara Rupek merupakan pura tempat beryoga (semadhi) Mpu Siddhimantra.
Sejarah berdirinya Pura Segara Rupek bersumber pada babad atau lontar yang berjudul Indik Segara Rupek.
Babad tersebut menceritakan Mpu Siddhimantra semadi memohon keselamatan dunia atau alam semesta, selain itu juga Mpu Siddhimantra yang mempunyai anak bernama Dang Bang Manik Angkeran nantinya dipersembahkan sebagai pengabdi Sang Naga Raja di Besakih, Bali.
Ketika dalam yoga semadinya kehadapan Sang Hyang Baruna Geni, Mpu Siddhimantra dititahkan menggores tanah dengan tongkatnya tiga kali, seketika tanah tersebut bergoncang dan membelah daratan sehingga terbentuklah Pulau Bali, yang dulu Pulau Bali dan Pulau Jawa adalah satu daratan, terpisahnya daratan ini membentuk selat, sekarang dinamai Selat Bali atau Segara Rupek.
Dalam sumber dan cerita diperoleh kejadian terbentuknya Segara Rupek kurang lebih sekitar abad ke-11 atau sekitar 1050 M. Di ceritakan Danghyang Siddhimantra atau Mpu Bekung mempunyai genta sakti yang bisa memanggil Ida Sang Naga Raja yang merupakan penguasa Bali yang beristana di sebuah gua di Besakih (Gunung Agung).
Atas kesaktian Danghyang Siddhimantra setiap keinginan Mpu dikabulkan oleh Sang Naga Raja, hingga suatu ketika Danghyang Siddhimantra di beri emas murni yang sangat besar.
Selain itu Danghyang Siddhimantra juga menginginkan anak, dia momohon kehadapan Sanga Hyang Brahmakunda – Wijaya. Atas kesaktiannya, Danghyang Siddhimantra dianugrahi bayi laki yang bernama Ida Bang Manik Angkeran yang lahir atas anugrah Bhatara Agni.
Pada saat itu Jawa mengalami bergolakan dan juga pengaruh negatif lainnya, seperti berjudi, kekerasan dan juga perang. Karena pengaruh lingkungan Ida Bang Manik Angkeran juga ikut terjerumus dalam perjudian, dalam perjudian tersebut Ida Bang Manik Angkeran terus mengalami kekalah sehingga mata gelap melanda.
Manik Angkeran teringat dengan genta sakti milik ayahnya yang mampu mengabulkan permintaan apapun dari goa naga raja. Karena kehebatan genta sakti Ida Bang Manik Angkeran akhirnya nekat mencuri genta sakti milik ayahnya tersebut dan menuju ke besakih untuk menemui Sang Naga Raja dengan harapan mendapat emas.
“Ketika sudah di mulut Goa dengan segera Ida Bang Manik Angkeran membunyikan genta sakti milik ayah tersebut dan keluarlah Sang Naga Raja,” jelasnya.
Kemudian Ida Bang Manik Angkeran meminta harta, dengan cepat Sang Naga Raja menuruti permintaan tersebut, ketika Sang Naga Raja kembali ke goanya dilihatlah ekornya yang berisikan permata yang sangat indah.
Karena ketamakan dari Ida Bang Manik Angkeran akhirnya dia memotong ekor Sang Naga Raja lalu melarikan diri sambil membawa permata, sekitika Sang Naga Raja marah dan menyemburkan api hingga Manik Angkeran meninggal terbakar di Alas Cemara Geseng.
sekarang tempat tersebut berada di Pura Manik Mas. Pura Manik Mas berada tidak sampai satu kilometer di sebelah barat Pura Penataran Agung Besakih
Mengetui anaknya tidak pulang ke Jawa akhirnya Mpu Siddhimantra atau Danghyang Siddhimantra mencari anaknya ketika diselidiki ternyata genta saktinya hilang, sehingga dia mencari gentanya sampai ke Besakih, ketemu gentanya hangus terbakar pasti ada kaitannya dengan Sang Naga Raja.
Mpu Siddhimantra menemui Sang Naga Raja dan mengetahui anaknya meninggal akibat dari Sang Naga Raja. Sebagai seorang ayah sangat sedih anaknya meninggal, atas kemurahan hati Sang Naga Raja, Danghyang Siddhimantra memohon agar anaknya dihidupkan.
Selain itu Danghyang Siddhimantra juga berjanji akan menyerahkan Manik Angkeran untuk dijadikan abdi Sang Naga Raja selamanya.
Sang Naga Raja mengasihani Danghyang Siddhimantra karena hatinya suci dan penuh ketulusan akhirnya Manik Angkeran dihidupkan kembali. Tapi sebelum anaknya dihidupkan Danghyang Siddhimantra mempunyai usul sebaiknya intan permata berlian yang ada diekor Sang Naga Raja tersebut sebaiknya dipindahkan di kepala, akhirnya Sang Naga Raja Setuju.
Dengan kesaktian Mpu Siddhimantra dia memohon kehadapan Ida Bagawan Wiswakarma untuk dibuatkan gelung kerudung ungkur hyang besukih artinya mahkota dengan hiasan candi kurung, dengan memakai sekartaji, maka sepertilah Sang Naga Raja seperti Sekarang
Akhirnya Mpu Siddhimantra sudah memenuhi janjinya dan Sang Naga Raja memenuhi janjinya juga untuk menghidupkan Bang Manik Angkeran, tempat dimana Bang Manik Angkeran hidup kembali berada di Pura Bangun Sakti.
Keduanya sudah memenuhi janji dan Bang Manik Angkeran menerima keputusan ayahnya untuk mengabdikan diri di Pura Besakih dan menjadi pendeta dengan gelar Dang Hyang Bang Manik Akeran.
Beliau ditugaskan untuk senantiasa menyelenggarakan. Mangatur dan memimpin segenap upakara atau upacara di Pura Besakih.
Setelah itu Mpu Siddhimantra kembali ke Jawa, di perjalanannya menuju ke Jawa ketika itu Mpu Siddhimantra berada di daerah Gading Wani (Sumberklampok) beliau teringat dengan putranya.
Khawatir jika nanti anaknya kembali ke Jawa dan mengulang perbuatan buruknya terdahulu maka Mpu Siddhimantra beryoga samadhi memohon kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni sebagai penguasa laut agar tanah Jawa, Bali dan seluruh semesta mendapat kerahayuan (kesejahteraan) dan kebahagian.
Mpu Siddhimantra beryoga samadhi selama satu bulan, dalam puncaknya semadhi beliau mendapatkan sabda (suara Tuhan) nantinya Jawa bakal mencapai kewibawaan, berjaya sehingga besatulah seluruhnya (Nusantara), dan Bali tetap rahayu.
Beliau dititah untuk menggoret tanah tiga kali dengan tongkatnya tepat di ceking getting tanah siti (tanah yang sempit, selat Bali sekarang) agar Pulau Jawa terbebas dari konflik dan tanah Bali tetap suci dan seleruh Nusantara dapat bersatu.
“Seketika tanah tersebut dan bergoncang dan membelah daratan sehingga Jawa dan Bali terpisah dan terbentuk Segara Rupek (Selat Bali),” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika