Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Awas Usil di Pura Luhur Kroya Tabanan! Pohon Keramat Penjaga dengan Pasukan Monyet Misterius!

I Putu Suyatra • Sabtu, 17 Mei 2025 | 01:17 WIB

Pura Luhur Kroya di Banjar Nyambu, Desa Nyambu, Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali
Pura Luhur Kroya di Banjar Nyambu, Desa Nyambu, Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali

BALIEXPRESS.ID – Berkunjung ke Pura Luhur Kroya di Banjar Nyambu, Desa Nyambu, Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, sebaiknya pasang mata dan jaga sikap! Konon, keusilan sekecil apapun, apalagi tanpa permisi di dekat pohon Kroya keramat, bisa berakibat kurang baik.

Tempat suci Hindu Bali yang lokasinya tak jauh dari Sungai Yeh Sungi ini memiliki daya tarik tersendiri: ratusan monyet liar yang berkeliaran bebas, mengingatkan pada suasana Pura Pulaki di Buleleng.

Keberadaan taman pemandian alami di kawasan pura semakin membuat para primata ini betah berlama-lama.

Baca Juga: Terungkap! Dalang Penembakan Brutal 2 Brimob di Papua, Dendam Adik Pimpinan KKB Jadi Motif Utama?

Nama Pura Luhur Kroya sendiri diambil dari pohon Kroya yang tumbuh subur di area suci tersebut.

Misteri Pretima yang Raib dan "Penjaga" Pohon Keramat

Jro Mangku I Ketut Parwata, pemangku Pura Luhur Kroya, mengungkapkan bahwa pura dengan sekitar 300-an Kepala Keluarga (KK) sebagai pangempon (pengurus) ini memiliki kisah kelam terkait hilangnya dua pretima (benda sakral) pada era 1960-an dan 1970-an.

Trauma kehilangan benda suci membuat pretima berbentuk singa, kuda, dan sebuah kotak kini disimpan aman di merajan (pura keluarga) Jro Mangku Parwata.

Menuju pura yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya, Jro Mangku Parwata mengajak melewati persawahan sambil menceritakan sejarah lisan pura yang dipercaya didirikan oleh warga rarud (pengungsi) dari Kekeran di Mengwi pada masa lampau.

Konon, leluhur mereka menemukan hutan lebat dengan sebuah Griya gaib bernama Bet Griya, yang diyakini sebagai stana Ida Ratu Gede Putus.

Baca Juga: Lampu Traffict Light Simpang Tiga Jalan Veteran Mati Seminggu, Dishub Ngaku Sudah Laporkan ke BPTD

Janji leluhur untuk memuja Ida Ratu Gede Putus jika selamat membuka hutan dan bermukim pun ditepati hingga kini.

Setibanya di area pura, setelah menuruni puluhan anak tangga, perhatian langsung tertuju pada pohon Kroya besar dengan palinggih (bangunan suci) yang menempel di batangnya. Di sinilah letak "aturan main" yang tak boleh dilanggar.

"Sebelum masuk pura, hendaknya ucap permisi. Jangan sembarangan, sebab di taru (pohon) ada Ida Ratu Gede Gerombong Selem dengan Ratu Ayu dan Mas Mecaling malinggih, yang menjaga keamanan kawasan pura. Membawa canang (sesajen kecil) ketika masuk ke pura kalau mau sembahyang," tegas Jro Mangku Parwata.

Gara-Gara Usil, Jatuh Sakit Misterius

Peringatan Jro Mangku Parwata bukan tanpa alasan. Ia menceritakan pengalaman nyata seorang yang jatuh keseleo di tangga pura dan tak kunjung sembuh meski sudah berobat ke dokter.

Setelah nunas baos (meminta petunjuk spiritual), diketahui bahwa orang tersebut "kena tegur" dari yang malinggih di pohon Kroya! Sebagai permintaan maaf, orang tersebut mempersembahkan banten (sesajen) dengan tipat (ketupat) dan telur di palinggih pohon.

Pasukan Monyet: Bukan Sekadar Penghuni Liar

Setelah melewati pohon Kroya, pengunjung akan melihat taman air yang menjadi tempat mandi puluhan monyet.

Baca Juga: Misteri Elkan Baggott di Bali Terpecahkan! Sinyal Kuat Comeback ke Timnas Indonesia, Ini 7 Alasannya!

Monyet-monyet ini diyakini sebagai salah satu dari sejumlah rencang (sosok penjaga) Pura Luhur Kroya. Warga setempat sangat menghormati mereka dan pantang untuk memburu atau mengganggu para penjaga berbulu ini.

Jumlah monyet di kawasan pura bisa mencapai 250 ekor, meskipun mereka lebih banyak menghabiskan waktu di hutan lebat di seberang Sungai Yeh Sungi.

Kisah tragis seorang pemburu dari desa lain yang sakit parah setelah memburu monyet di kawasan pura menjadi pengingat akan "aturan tak tertulis" di Pura Luhur Kroya.

Bahkan, saat piodalan (upacara), ratusan monyet ini seolah "hadir" untuk ikut memeriahkan suasana.

"Diplomasi" dengan Monyet Saat Piodalan

Kehadiran monyet dalam jumlah banyak tentu berpotensi mengganggu jalannya piodalan.

Baca Juga: Ada Palinggih Muslim dan Buddha di Tempat Suci Hindu Bali Ini: Bukan Sekadar Bertemunya Tiga Keyakinan, Tapi Juga Pengabul Harapan!

Namun, Jro Mangku Parwata menjelaskan bahwa pangempon memiliki cara "diplomatis" untuk mengatasi hal ini.

Tiga hari sebelum piodalan, banten pajati dan pala gantung (sesajen buah-buahan) dipersembahkan di Bet Griya dekat Pura Luhur Kroya.

Ajaibnya, saat piodalan tiba, hampir tidak ada monyet yang mengganggu prosesi! Kalaupun ada, mereka hanya bersantai di area luar pura.

Jro Mangku Parwata mengaku pernah lupa mempersembahkan banten pala gantung, dan akibatnya, monyet-monyet datang mengamuk, mencari buah-buahan hingga membuat pamedek kebingungan.

Penampakan Macan Gading dan "Penjaga" Lainnya:

Selain ratusan monyet, Pura Luhur Kroya juga diyakini memiliki rencang lain berupa macan gading yang bisa dilihat pada waktu tertentu, serta buaya menyerupai biawak yang sering berjemur di batu, dan bahkan landak.

Monyet-monyet sendiri sering terlihat mandi pagi dan berjemur di taman air.

Baca Juga: Ada Palinggih Muslim dan Buddha di Tempat Suci Hindu Bali Ini: Bukan Sekadar Bertemunya Tiga Keyakinan, Tapi Juga Pengabul Harapan!

Palinggih dengan Kekuatan "Proteksi" dan "Pengabul Hajat"

Pura dengan konsep dwi mandala ini memiliki beberapa palinggih penting di area utamaning mandala.

Salah satunya adalah Palinggih Ratu Gerombong Selem, yang patungnya berkepala tertutup kain hitam putih.

Beliau dipercaya sebagai pemberi perlindungan bagi orang yang memiliki karya (upacara), menghindarkan dari ilmu hitam dan gangguan makhluk halus.

Di sisi timur terdapat Palinggih Ratu Gede Barak Api, dengan patung berwarna merah.

Baca Juga: Viral Konten Inses di Facebook, Komdigi Blokir Enam Grup Komunitas: Sebut Bahayakan Mental Anak-Anak

Palinggih ini menjadi tempat memohon agar cuaca tetap cerah saat upacara. Caranya dengan mempersembahkan pajati dan banten wangi di dekat kayu yang dibakar dan dijaga tetap menyala selama upacara berlangsung.

Terakhir, ada Palinggih Glagah Pancung, dengan patung abu-abu bersaput hitam putih.

Palinggih ini menjadi tempat memohon keberkahan untuk pembangunan, dengan mempersembahkan pajati dan bambu sebagai simbol pancung (pondasi).

Bambu tersebut kemudian ditancapkan saat membangun rumah, bendungan, atau bangunan lainnya agar pembangunannya lancar dan kokoh.

Kisah-kisah unik dan misterius di Pura Luhur Kroya ini tentu mengundang rasa penasaran. ***

Baca Juga: Papua Berduka! Dua Anggota Satgas Damai Cartenz Gugur Ditembak OPM, Dendam Membara?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Pura Luhur Kroya #kabupaten tabanan #hindu bali #pretima