Prosesi metuasan tetusan yang berasal dari kata tuas yang secara konotatif berarti tulus ini bisa dibagi menjadi sepuluh jenis mulai dari Patra Bun hingga Patra Boga.
Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan aktivitas metuasan adalah praktik bhakti dengan membuat suatau dengan tulus dan iklas. Selain kata tetuasan, juga dikenal istilah reringgitan, bergerigi terkait dengan bentuk-bentuk kreasi kususnya pada janur dan sejenisnya, untuk keperluan ritual.
Arti konotasinya adalah penyatuan “Yoga atau Yuj” yang artinya menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui sarana yang dibuat atas dasar Yoga, penuh konsentrasi ini, umat Hindu ingin mendekatkan diri dengan Tuhan.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Bali yang didasarkan pada lontar Yadnya Prakerthi dan lontar Upa Rengganing Yadnya dikenal sepuluh jenis patra yang semuanya mengandung tetuasan atau reringgitan. Kesepuluh jenis reringgita itu adalah sebagai berikut.
Patra bun, berbelit-belit saling tindih, biasanya diwujudkan dalam bentuk anyaman seperti berbagai jenis ketupat.
“Patra bun ini adalah refleksi rwa bhineda sebagai dualitas yang ada di bumi ini,” katanya.
Patra simbar, simbol permohonan kekuatan widya, seperti sampyan jerimpen dan sampyan nasa sari. Salah satu bentuknya adalah sampiyan warga sari, sebagai simbol kesejahteraan.
“Ada juga sampiyan jerimpen. Bentuknya sama seperti sampiyan naga sari, tetapi Nampak seperti rambut, untuk permohonan kesuburan. Ini adalah simbol ardha candra, windu, nada,” paparnya.
Patra Teja, wujud pijaran sinar widya, diwujudkan seperti dalam sampyan pusung, sampyan pengambyan, sampyan urasari.
“Kalau ada ayaban ke manusia yadnya, pasti ada pengabyan. Silang-silang ini disebut jejaitan sesapa. Sapa itu artinya pasti, sebagai permohonan agar siapapun yang akan natab agar tidak kena pastu atau sesapa,” ungkapnya.
Selanjutnya Patra Trikona, simbol Uttpati-Stiti-Pralina diwujudkan dalam bentuk celemik, tangkih, ituk-ituk.
Patra Lingga, simbol kedirgayusan diwijudkan dalam sampyang pengambyan, sampyan dapetan.
Kemudian Patra Yoni, Asta dala, bermakna keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit diwujudkan dalam bentuk sampyan plaus, sampyan naga sari, sampayan panyambutan.
Patra Wahana, sebagai wujud permohonan kekuatan pelindung atau memohon perlindungan dibuat dalam bentuk sat-sat, porosan, tampelan, lamak, dan tamiang.
“Kalau membuat rumah baru pasti ada sat-sat. Setiap rumah atau mobil yang diupacarai adalah simbol burung untuk menerbangkan dari materi ke spirit,” jelasnya.
Berikutnya Patra Murti sebagai sarana permohonan kekuatan kesucian dan kharisma, diwujudkan dalam semua bentuk lis, kelompok orti, dan sampyan gantung.
Ia menjelaskan, orti itu dimaknai sebgaai berita. Artinya, rumah yang dipasangi orti artinya rumah baru dan sudah dibuatkan upacara melaspas atau ngurip-urip. “Ada ketipat kukur, ada sinar menuju widya,” paparnya.
Patra mungkur sebagai sarana permohonan kekuatan keindahan dan keagungan, seperti sampyang kapit udang, sampyan kwangi, bentuk cili. Patra ini diletakkan di belakang, dengan bentuk melengkung dan tujuannya untuk menyatukan dengan sumber.
Ada juga Patra boga, sebagai sarana permohonan amertha (urip muang pejah), seperti tulung, selanggi, tegog, takir, tekor. Biasanya digunakan dalam upacara manusa yadnya.
“Biasanya berisi nasi. Tujuannya memohon pertolongan. Begitu juga saat Kuningan kita menggunakan Sulanggi dan menggunakan nasi,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika