Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menemani Manusia saat Lahir, Ini Cara Mendekatkan Diri Dengan Kanda Pat

I Putu Mardika • Minggu, 18 Mei 2025 | 22:26 WIB

Upacara Otonan setiap enam bulan sekali adalah cara mendekatkan diri dengan saudara Kanda Pat
Upacara Otonan setiap enam bulan sekali adalah cara mendekatkan diri dengan saudara Kanda Pat
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu meyakini, jika setiap kelahiran senantiasa diiringi dengan empat saudara atau disebut Kanda Pat. Kekutatan Kanda Pat dalam memberikan perlindungan tidak perlu diragukan, selama manusia juga ingat akan keberadaan Kanda Pat.

Begitu juga sebaliknya ketika manusia tidak sadar akan keberadaan Kanda Pat dan selalu mengabaikannya bahkan tidak mengingatnya, tentu saja Kanda Pat tidak akan melindungi dan menjaga kita dari bahaya apapun.

Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga M.Pd menjelaskan, Kanda Pat sangatmempengaruhi kehidupan manusia, saudara empat manusia tersebut juga dapat memberikan pengaruh buruk, karena memiliki sifat-sifat Bhuta.

Maka dari itu umat Hindu percaya bahwa setiap enam bulan sekali atau 210 hari, umat Hindu, khususnya di Bali melaksanakan Otonan (peringatan kelahiran menurut wuku) yang dapat berfungsi untuk manusia tersebut menjaga hubungan baik dengan saudara secara niskala yaitu Kanda Pat

Konsep Kanda Pat pada dasarnya terdiri dari tiga yaitu “Manusa ye, Bhuta ye, Dewa ye”. Yang artinya (dia sebagai manusia, dia sebagai Bhuta, dan dia sebagai Dewa). Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Manusa, dan Kanda Pat Dewa merupakan penekananan awal dari konsep Kanda Pat.

Kanda Pat sangat erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), konsep Tri Kona (tiga sifat kemahakuasaan Tuhan), Tri Guna (tiga sifat pembentuk watak manusia).

Termasuk juga erat dengan konsep Tri Kaya Parisudha (tiga perbuatan yang disucikan). Pada dasarnya konsep manusia adalah penggambaran dari sifat-sifat Dewa, sifat Satwam, Rajas, Tamas dan sifat-sifat dari Bhuta.

Ketika manusia kurang dalam memahami saudaranya secara niskala maka akan terjerumus ke dalam sifat tamas atau pemalas. Di dalam Kanda Pat Bhuta terdiri dari yeh nyom (Anggapati), darah (Prajapati), lamas (Banaspati), ari-ari (Banaspati Raja).

Bagian dari Kanda Pat Bhuta merupakan bagian dari tubuh manusia sendiri. “Pada saat kita berada di dalam kandungan Ibu, kita selalu dijaga dan di lindungi oleh saudara empat secara niskala kita, dari manusia di dalam kandungan sampai manusia meninggal, Kanda Pat selalu ada di sekeliling tubuh manusia,” jelasnya.

Yeh Nyom (Anggapati) adalah bagian dari Kanda Pat. Kata Anggapati dibedakan menjadi dua yaitu, Angga yang artinya ‘badan’ dan Pati artinya ‘raja atau penguasa’. Anggapati adalah perubahan spiritual dari air ketuban atau nyeh nyom menjadi sosok bhuta yang menguasai tubuh manusia atau makhluk yang lainnya.

Ketika Atma sudah meninggalkan badan kasar manusia maka Anggapati disebut dengan Sang Suratma. Anggapati berasal dari elemen padat atau Pertiwi.

Ketika manusia sedang mengalami masalah atau keadaannya sedang lemah atau dimasuki oleh nafsu anggkara murka, maka itulah wewenang dari Anggapati.

“Maka dari itu kita sebagai manusia harus meningkatkan spiritual yang lebih tinggi dengan cara rajin sembahyang agar dijauhkan dari hal-hal yang berbahaya,” sebutnya.

Selanjutnya Getih/rah (Prajapati). Kata Prajapati dibedakan menjadi dua yaitu, Praja yang artinya ‘pengatur pemerintahan’, dan Pati artinya ‘raja atau penguasa’. Prajapati adalah perubahan spiritual dari darah/getih menjadi sosok Bhuta yang menguasi perempatan agung dan menguasai kuburan.

Wewenang dari Prajapati adalah berhak merusak mayat yang tidak sesuai dengan dewasa dan menganggu orang yang memberikan dewasa salah atau bertentangan dengan ketentuan dari suatu upacara. Prajapati berasal dari elemen cair atau Apah. Sang Pengabih dari Prajapati adalah Sang Jogormanik

Kemudian bagian lain dari Kanda Pat adalah Lemak atau lamas (Banaspati). Banaspati adalah perubahan spiritual dari lamas menjadi sosok Bhuta yang menghuni dan menguasai sungai, batu besar.

Wewenang dari Banaspati adalah mengganggu orang yang sedang berjalan ataupun tidur pada waktu yang dilarang oleh Kala. Misalkan pada saat kalitepet atau sandikale.

Maka dari itu ketika jam 12 siang orang tua selalu memberitahu kita untuk tidak keluar rumah pada saat kalitepet, karena itu merupakan waktuwaktu kala. Hal tersebut dilarang karena untuk menjaga keselamatan kita agar tidak terkena bahaya atau istilahnya Kesambet Kala.

Sama halnya pada waktu sandikale, kita tidak boleh berkeluyuran di jalan-jalan. Sang Pangabih dari Banaspati adalah Sang Dorakala. Banaspati berasal dari elemen api atau cahaya (teja).

Terakhir dari Kanda Pat adalah Ari-ari (Banaspati Raja). Banaspati Raja adalah perubahan spiritual dari ari-ari menjadi sosok Bhuta yang menguasai kayu-kayu besar.

Wewenang dari Banaspati Raja adalah mengganggu orang-orang yang menaiki ataupun menebang pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa/wariga. Sang Pengabih dari Banaspati Raja adalah Sang Mahakala.

“Banaspati Raja berasal dri elemen udara atau bayu. Umat Hindu di Bali percaya bahwa kayu-kayu ataupun pohon ataupun tumbuhan dan yang lainnya juga makhluk hidup yang ada penghuninya, yang perlu dijaga dan dilestarikan. Maka dari itu dilarang untuk menebang pohon sembarangan,” sebutnya.

Agar Kanda Pat senantiasa memberikan perlindungan, maka tentu harus dilakukan cara untuk mendekatkan diri. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mendekatkan diri dengan Kanda Pat.

Dikatakan Nyoman Ariyoga, cara pertama adalah dengan cara Membuat Pelangkiran dikamar atau diatas tempat tidur sebagai Stana dari Kanda Pat. Di dalam Lontar Aji Maya Sandhi dikatakan bahwa ketika kita tidur, maka saudara kita akan keluar dari tubuh manusia dan berada disekeliling tubuh manusia tersebut.

“Maka dari itu penting untuk kita membuat pelangkiran diatas tempat tidur, selain sebagai titik fokus kita sembahyang, fungsi pelangkiran juga sebagai Stana dari Kanda Pat,” imbuhnya.

Cara selanjutnya adalah dengan rutin melaksanakan upacara otonan. Setiap enam bulan sekali atau 210 hari umat Hindu diwajibkan untuk melaksanakan Otonan, dengan tujuan untuk penyucian lahir dan bathin dan memohon keselamatan.

Baca Juga: Nenek 92 Tahun Jadi Sorotan! Tertatih-Tatih Disidang di PN Denpasar, Ni Luh Djelantik: Gunakan Hati Nurani

Sarana upacara Otonan tidak selalu harus mewah dan mahal, namun penuh makna. Selain itu juga untuk selalu mengingat Kanda Pat dan kita selalu dijaga dan dilindungi dari marabahaya.

Kemudian, ketika ingin berpergian, selalu berpamitan dengan Kanda Pat, dengan tujuan agar senantiasa dilindungi dan dijaga dengan selamat sampai tempat tujuan. Apabila pulangnya membawa oleh-oleh, hanya sekedarnya saja, tanda bahwa sudah mengingat Kanda Pat.

Ketika sembahyang, jangan lupa juga untuk ajak bersama-sama Kanda Pat untuk sembahyang, tanda bahwa sudah ingat dengan saudara. Dan berdoa agar selalu dilindungi saat sedang tidur.

“Selalu berbagi makanan yang kita punya dengan cara menyisihkan sedikit makanan dipiring untuk saudara Kanda Pat,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Otonan #Ari-Ari #bayi #bhuta #hindu #Kanda Pat