BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Tatag, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang memiliki cikal bakalnya berasal dari satu desa di Desa Taro Kaja. Perubahan zaman dan berkembangnya penduduk dibuat suatu desa disebut dengan Tatag.
Bandesa Adat Tatag, I Wayan Watra, menjelaskan Tatag adalah sebagai langkah, diberikan tanggung jawab besar suatu proses perjalanan Maharsi Markandya.
“ Diberikan gelar genta bawak, berarti genta adalah suara, ing, di tengah, bawa itu ketu atau kewibawaan,” paparnya.
Baca Juga: Usai Insiden Penusukan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul Gelar Pecaruan di Lapangan Umum Sampalan
Ada pun masyarakat Tatag terpecah ke daerah Sayan, yang kini menjadi Banjar Baung, Desa Sayan. “Dalam cerita karena yang ke Sayan itu sebagai tameng kerajaan puri zaman itu di dalam penjajahan terdahulu,” imbuh Sutarma.
Sementara nama Desa Taro sendiri muncul di Zaman Markandya Purana.
Awal mulanya diambil dari Markandya Purana. Markandya lahir di India dari restu Siwa di abad ke-4. Beliau menuju Asia Tenggara, Kalimantan Timur, lanjut sampai ke Pulau jawa.
Markandya karena diberi restu oleh Siwa, maka Beliau diberi gelar Maha Yogi Markandya artinya dari pertapaan. Markandya sangat kuat bahkan digoda Indra pun tapa Beliau tidak tergoyahkan. Akhirnya keluar Siwa memberi beliau, Markandya Maha artinya besar dan Yogi artinya pertapa.
Hingga sampai di areal Pura Sabang Deet. Karena tidak kurang makan juga minum sehingga tempat itu diberi nama Sarwa Ada (Taro). *
Editor : Putu Agus Adegrantika