Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Sang Hyang Celeng di Jagaraga: Pelinggih Babi Seruduk Longga Yoni, Ramai Nunas Tirta untuk Ternak

I Putu Mardika • Jumat, 23 Mei 2025 | 03:31 WIB

Ada Patung Babi “Seruduk” Lingga Yoni di Pura Sang Hyang Celeng
Ada Patung Babi “Seruduk” Lingga Yoni di Pura Sang Hyang Celeng
BALIEXPRESS.ID-Pura Sang Hyang Celeng yang terletak di Wilayah Banjar Kangin Teben, Desa Jagaraga Kecamatan Sawan, Buleleng tergolong unik. Pura yang terdapat pelinggih menyerupai Babi menyeruduk Batu ini sebagai simbol Waraha, manifestasi dari Dewa Wisnu.

Meski secara berada di wilayah Banjar Kangin Teben, Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, namun umat yang bertanggung jawab dan rutin melakukan persembahyangan di pura ini bukan berasal dari Desa Jagaraga, melainkan dari Desa Menyali.

Pura ini terletak di sebuah gang sempit dengan jarak sekitar 50meter dari jalan utama yang menghubungkan Jagaraga dan Menyali. Dalam hal tata ruang, Pura Sang Hyang Celeng menerapkan konsep arsitektur suci Eka Mandala.

Jika diperhatikan dengan cermat, pura yang luasnya tidak melebihi 15 meter persegi ini hanya memiliki satu pelinggih utama, yaitu sebuah arca berbentuk babi (waraha) dengan Lingga Yoni yang terletak di depan kepala patung tersebut.

Arca babi tersebut dililit kain poleng, yang merupakan simbol keseimbangan. Secara visual, posisi patung tampak seolah-olah sedang menyeruduk ke arah Lingga Yoni.

Baca Juga: Proyek Benoa Marina Resmi Jalan, Bali Siap Jadi Hub Wisata Bahari Dunia

Arca Waraha, yang juga dikenal sebagai Varaha Awatara, merupakan perwujudan ketiga dari Awatara Dewa Wisnu. Ia digambarkan dalam bentuk seekor babi yang muncul dari lubang hidung Dewa Brahma.

Dalam kisahnya, Varaha Awatara mengangkat bumi yang tenggelam di lautan kosmik yang disebut Garbhodaka. Ia melakukannya dengan menggunakan kedua taringnya sambil membawa senjata gada sebagai simbol kekuatannya.

Pemangku Pura Sang Hyang Celeng Jro Kubayan Made Witara menjelaskan, pemujaan di Pura Sang Hyang Celeng umumnya dilaksanakan pada saat Hari Raya Tumpek Uye dan Purnama Karo.

Kondisi inipun juga dimanfaatkan oleh krama yang senang berbudidaya Babi untuk meminta agar hewan ternaknya bisa tumbuh dengan sehat dan bisa dipanen.

Berternak tidak hanya semata-mata untuk hobi dan mata pencaharian namun, binatang ternak juga digunakan sebagai bahan upacara. Keberadaan Pura Sang Hyang Celeng membantu menjaga kestabilan berternak dan melindungi babi dari virus yang mematikan.

Baca Juga: TBC di Bali Bukan Wabah, Tapi Ancaman Nyata yang Perlu Diwaspadai

“Selama dua tahun terakhir desa kami terserang virus yang membuat babi mendadak mati, tidak hanya babi namun juga menyerang sapi. Karena di desa kami terdapat arca babi hutan atau Sang Hyang Celeng, maka kami memohon tirtha untuk keselamatan ternak kami,” kata Jro Kubayan Made Witara.

Terutama pada saat Tumpek Uye, atau juga disebut Tumpek Kandang sebagai otonan Binatang. Pihaknya pun memohon tirtha di Pura Sang Hyang Celeng dengan membawa banten ajengan sebagai persembahan.

Ia menambahkan, keyakinan ini juga berawal dari babi peliharaan tetangganya yang mati mendadak. Kondisi inipun membuat pihaknya takut karena babi yang dipeliharanya adalah untuk upacara perkawinannya kala itu.

“Karena teringat dengan Bhatara sang Hyang Celeng, maka saya membawa banten pamuja memohon kesalamatan pada Beliau agar babi peliharaan saya selamat, hal inipun saya informasikan pada tetangga terdekat,” imbuhnya.

Ia juga membawa air untuk memandikan Sang Hyang Celeng. Kemudian ia memercikan air itu kepada babi peliharaannya.

“Syukurnya babi saya bertahan hidup. Ritual memandikan Sang Hyang Celeng juga dilakukan saat Tumpek Kandang atau hari selamatan bagi binatang, yang diperingati oleh umat Hindu di Bali,” paparnya.

Baca Juga: Tim Residu PTSL Tahun 2019 Laksanakan Verifikasi Lapangan di Desa Kamasan untuk Konfirmasi Kelengkapan Data Administrasi

Masyarakat di Desa Menyali yang memiliki hewan peliharaan baik, sapi, babi, ayam, bebek, acapkali datang ke Pura Sang Hyang Celeng untuk meminta tirtha. Sesampai di rumah air tersebut diperciki pada hewan peliharaannya.

Dibawah arca Sang Hyang Celeng terdapat tempat saluran air, yang menandakan ritual memandikan sang Hyang Celeng bukanlah baru dilakukan namun sudah dari dahulu. Namun, ide memohon tirtha untuk dipercikkan di hewan ternak baru dilakukan, mengingat banyak hewan ternak mati diserang virus.

“Maka dari itu, setiap tumpek Uye, krama yang memiliki ternak pasti nangkil, lalu nunas tirta untuk dipercikkan ke hewan ternaknya,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Jagaraga #Lingga Yoni #babi #Wisnu #pura #menyali #ternak #Sang Hyang Celeng #buleleng