Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ternyata Ini Fungsi Pratima dan Pralingga Dalam Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 25 Mei 2025 | 00:59 WIB

 

SEMINAR : Seminar terkait Pratima dan Pralingga koleksi Museum Bali.
SEMINAR : Seminar terkait Pratima dan Pralingga koleksi Museum Bali.

BALIEXPRESS.ID - Dalam Kamus Sansekerta Indonesia pratima artinya suatu gambaran, cerminan, ukuran, lambang, simbol. Sehingga pratima adalah kata Sanskerta artinya: arca, patung, gambar, bayang, boneka. Hal tersebut diungkapkan oleh akademisi UHN Bagus Sugriwa, I Made Surada saat menjadi pemateri seminar Pratima dan Pralingga Koleksi Museum Bali, Rabu (21/5).

Pria asli Gianyar ini juga menjelaskan dalam Kamus Kawi Bali pratimā artinya: pratima, togog, gambaran. Terdapat juga dalam Kamus Bali Indonesia kata pratimā ditulis ‘prĕtima’ artinya: arca kecil yang disucikan dan dikeramatkan sebagai lambang roh suci leluhur tempat pemusatan batin pada waktu memuja .

“Sehingga Pratima secara harfiah berasal dari kata ‘pra dan tima’; pra (menuju) & timā (bentuk, wajah) jadi pratimā dapat berarti menuju bentuk atau wajah. Pratima adalah arca, patung, sebagai mūrtirūpam (perwujudan rupa) Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasiNya sebagai Bhatara Bhatari, Dewa-Dewi (Iśţa Dewatā) dan juga perwujudan Leluhur (Bhatara Kawitan),” paparnya.

Sementara Pralingga, Made Surada menjelaskan Pralingga dalam Kamus Jawa Kuno Indonesia berarti khusus atau istimewa yang membedakan, gelar, martabat. Kata ‘Pralingga’ secara harfiah berasal dari kata ‘lingga’ dan mendapat prefik ‘pra’.

“Lingga dalam Kamus Kawi Bali artinya tanda, ciri, contoh, pratiwimba, pratima, purus. Prefik ‘pra’ berarti menuju. Pralingga dapat diartikan menuju tempat, atau pada tempat,” ujarnya.

Sehingga Pralingga adalah lingga (tempat) Pratima (mūrtirūpam/ perwujudan rupa) Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasiNya sebagai Bhatara-Bhatari, Dewa-Dewi (Ista Dewata) dan juga perwujudan Leluhur (Bhatara Kawitan).

“Maka Pratimā artinya menuju ke timā (bentuk/wujud) berbentuk spt manusia dengan kelebihannya. Sedangkan Pralingga artinya menuju ke lingga (/inggih/tempat); berbentuk seperti binatang atau objek sakral lainnya,” papar Made Surada.

Dalam kesempatan tersebut dijabarkan ada beberapa bentuk pratima pada agama Hindu di Bali. Mulai dari berbentuk manusia dengan berbagai kelebihannya, seperti Pratima Dewa Tri Murti, Dewatā Nawasangga dan lain-lain. Manusia dengan berbagai kelebihannya, seperți bertangan empat, delapan atau dua belas, berkaki tiga, bermata tiga dan lain-lain.

Penggunaan simbol manusia baik laki-laki dan wanita, atau separo laki- laki dan wanita (Ardhanariśvari) terutama ditujukan kepada para dewatā, baik dewa-dewa maupun dewi-dewi. Termasuk pula para pengiringnya Apsara dan Apsari atau Widyadhara dan Widyadhari. Dewa dengan separo badan terbelah dari kepala ke kaki berwujud dewa Śiva dan separonya berwujud dewa Wisnu.

“Dewa Acintya yang mengandung arti tak terpikirkan digambarkan juga sebagai manusia telanjang yang mengangkat kaki kirinya dan setiap persendianNya mengeluarkan cahaya, dan sebagainya,” ungkap Surada.

Terdapat juga yang berbentuk separo manusia dan separo binatang. Pratima berbentuk separo manusia dan separo binatang, seperti: Ganeśa, Dewa Gana (di Bali), dewa Hayagriva, yaitu berbadan manusia berkepala kuda (di India), dan lain-lain.

Beberapa bentuk pralingga sebagai simbol palinggihan atau wahana (kendaraan) para Dewatā pada agama Hindu di Bali. Biasanya berbentuk Binatang, seperti: bermacam jenis Barong, patung Macan (harimau), patung Singa, patung Lembu (Sapi) wahana Dewa Śiwa. Patung Gajah, burung Garuda wahana Dewa Wisnu, Angsa wahana Dewi Saraswati dan Dewa Brahma, patung burung merak kendaraan dewa Kumara, patung Naga Basuki, Anantaboga, Taksaka, patung Tikus wahana Ganeśa dan lain- lain.

Pralingga binatang dibuat dengan berbagai kelebihan, seperti patung Singa yang bersayap, patung Naga bersayap, patung burung Garuda berkaki dan mukanya seperti manusia, dan sebagainya. “Selain itu ada juga berbentuk aksara (huruf) atau benda-benda tertentu. Simbol berbentuk benda atau huruf tertentu, seperti: Oṁkāra, Aṅ (Ang) simbol dewa Brahma, Uṅ(Ung) simbol dewa Wişnu, Maṅ (Mang) simbol dewa Śiwa, Swastika, Padma, tampakdara, berbagai jenis dan warna batu permata,” tegasnya.

Dalam Bhāgavata Puāṇa XII.27.23 tentang bahan/sarana untuk pemuatan arca atau pratima disebutkan, śaili darumayi lauhi lepya lekhya ca śaikati, manomayi manimayi pratimāṣṭa vidha smṛta.

Terjemahannya: Terdapat 8 jenis (bahan) arca, yaitu yang dibuat (diukir) dari bahan batu, kayu, logam (seperti emas, perak, perunggu dan lain-lain), tanah liat, cat, (sebagai lukisan), pasir, permata, yang mahal atau dibayangkan dalam pikiran.

“Dalam Lontar Aji Janantaka kayu yang digunakan sebagai parahyangan (bangunan suci ) dan pratima . Beliau Bathara Dharma datang ke sana, lalu melakukan yoga samadhi, dengan pujian dan mantra, memuja Bhatara, maka gegerlah golongan pohon kayu beraroma harum seperti: pohon Cendana, Sari, Menyan, Nyala, Cempaka Putih, Cempaka Kuning, Dhamulir, Kuanditan, Kajimas, Boni Sari, Tunjung, Nagasari, PilingLot, Taluh, Caruring,” urai Surada.

Sementara fungsi Pratimā dan Pralingga dalam agama Hindu di Bali, terdapat delapan antara lain sebagai media penghubung dari pemuja dengan yang dipuja. Pratimā dan Pralingga dalam kebudayaan beragama lebih banyak berfungsi sebagai media penghubung dari pemuja dengan yang dipuja. Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasiNya sebagai Bhatara-Bhatari, Dewatā-Dewatī, demikian juga Leluhur bersifat acintya.

Kedua, sebagai Simbol Perwujudan, Pratimā dan Pralingga merupakan pengganti. Pratimā dan Pralingga adalah simbol perwujudan. Pratimā dan Pralingga mewakili kepercayaan dan nilai-nilai spiritual yang abstrak. Pratima dan Pralingga dapat berbentuk gambar atau arca pada sebuah pura, walaupun terbuat dari batu, kayu, logam, permata, ataupun kertas, sangat berharga bagi seorang penyembah

“Ketiga, untuk memperkuat Śradha dan Bhakti, Pratimā dan Pralingga dapat memperkuat śradha dan bhakti umat Hindu. Pratimā dan Pralingga dapat menjelaskan ajaran agama seperti ajaran Ketuhanan Hindu di Bali yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami, serta memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang dianut oleh agama Hindu di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya,” beber Surada.

Selanjutnya untuk menuntun kesucian, Pratimā dan Pralingga sebagai simbol dikultuskan dan disucikan melalui upacara keagamaan diyakini sebagai sumber tuntunan dan perlindungan bagi umat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari- hari. Pratimā dan Pralingga diyakini membawa kesucian dan dapat memurnikan lingkungan sekitarnya.

Pratima dan Pralingga juga menciptakan Identitas Agama, sebagai perwujudan Bhatara-Bhatari, Dewata-Dewati dan Leluhur yang dipuja dan diyakininya dapat memberikan rasa kebersamaan dan identitas kepada umat dan masyarakat pemujaNya. Pratimā dan Pralingga juga sebagai simbol berperan penting dalam memberikan bentuk konkret pada iṣṭadewatā (Dewata yang dipuja) tertentu. Pratimā dan Pralingga adalah representasi atau tanda yang mewakili konsep atau ide yang tidak berwujud, sehingga membantu umat Hindu di Bali untuk lebih mudah memahami dan berkomunikasi tentang hal-hal yang tidak dapat dijangkau secara fisik atau langsung.

Selanjutnya Pratimā dan Pralingga sebagai simbol dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan ajaran agama. Pratima dan Pralingga yang sangat disayangi, dihormati, oleh pemujanya, maka umat Hindu akan menjaga kesuciannya terus menerus.

 

“Bahkan sebagai simbol menghormati dan menjaga kerukunan. Pratimā dan Pralingga sebagai simbol keagamaan Hindu di Bali dapat memberikan pemahaman kepada orang lain untuk meningkatkan toleransi dan menghormati perbedaan,” tegasnya.

Pratimā dan Pralingga sebagai simbol Ketuhanan pada agama Hindu di Bali, dapat menjadi representasi dari kepercayaan dan praktik keagamaan yang berbeda. Pratimā dan Pralingga itu penting untuk menunjukkan rasa hormat terhadap agama dan kepercayaan orang lain, serta untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Pratimā dan Pralingga berfungsi untuk mewakili dan menyampaikan makna yang sakral dan spiritual, serta untuk memperkuat identitas, pemahaman keagamaan, sebagai tumpuan dalam komunikasi, dan ritual. *

 

 

 

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika