BALIEXPRESS.ID - Praktik tatalungguh kepemangkuan dilaksanakan di Pura Panataran Mrajan Agung Dalem Tangsub, Minggu (25/5). Kegiatan itu merupakan kolaborasi edukatif antara mahasiswa D3 Kepanditaan, mahasiswa S1 Teologi, dan Pinandita Wiwa Diklat Griya Agung Bangkasa.
Panitia kegiatan, Sugata Yadnya Manuaba, menjelaskan praktek mencakup upacara caru jigramaya, ayam brumbun, serta ayaban, yang melibatkan sinergi teoretis dan praksis liturgis Hindu Bali. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para tutor sulinggih Kapurusan Griya Agung Bangkasa serta pengurus Yayasan Widya Dasa Dharma. “Tujuannya memperkuat validitas spiritual, etis, dan akademis dari proses pembelajaran kepemangkuan berbasis tatalungguh,” paparnya.
Langkah ini juga sebagai pembentukan sumber daya manusia rohani Hindu yang berlandaskan tattwa, susila, dan upacara merupakan misi utama pendidikan teologi dan kepanditaan. Kolaborasi praktikum antara mahasiswa D3 Kepanditaan, mahasiswa S1 Teologi UHN I Gusti Bagus Sugriwa, dan Pinandita Wiwa Diklat Griya Agung menjadi model integratif yang memadukan landasan akademik dan penghayatan spiritual dalam format tatalungguh kepemangkuan.
Konsep tatalungguh dalam kepemangkuan merujuk pada etika duduk, berdiri, serta struktur perilaku spiritual dalam ruang suci. Hal ini berakar pada ajaran śikṣā (pendidikan suci) dan ācāra śuddha (etika bersuci). Dalam teks Manavadharmasastra (VI.92).
Disebutkan bahwa upacara caru Jigramaya dan ayam brumbun sebagai bentuk panyupatan jagat dilaksanakan pada panggungan alit menggunakan media pejati, taluh, pengarak, dan ayam brumbun. Pelaksanaan didasari teks Śānti Kalpa dan Bhūta Yajña Vidhāna.
Sementara ayaban (permohonan keselamatan dan restu suci) dilakukan dengan mengatur segehan agung, diiringi puja pemujaan oleh Ida Pinandita. Serta penyerahan pramana śakti kepada para peserta diklat. Kehadiran para tutor Ida Sulinggih dari Griya Agung Bangkasa memberikan nuansa dikṣā vidhi dalam tradisi guru-śiṣya parampara.
“Praktikum tatalungguh kepemangkuan bukan hanya sebuah ritual simbolik, tetapi realisasi konkret pendidikan transdisipliner antara ranah teologi, kepanditaan, dan kebudayaan Bali. Kolaborasi ini mengokohkan jalur kaderisasi pemangku muda Hindu yang berwawasan śāstra, memiliki integritas liturgis, serta dilandasi oleh spirit bhakti,” pungkas Sugata. *
Editor : Putu Agus Adegrantika