Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banten Peras Bermakna ‘Sah’, Sebagai Pelengkap Banten Lain

I Putu Mardika • Sabtu, 31 Mei 2025 | 03:25 WIB

Banten Peras Pejati
Banten Peras Pejati
BALIEXPRESS.ID-Dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci, kemudian dipakai sarana menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.

Umat Hindu di Bali tidak pernah lepas dari penggunaan Banten Peras dalam upacara yadnya, terutama dalam Dewa Yadnya.

Lalu apa banten peras? Kata “Peras” berarti “Sah” atau “Resmi”, dengan demikian penggunaan banten “Peras”bertujuan untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin.

Dewa Ayu Antari selaku Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung menjelaskan Banten Peras, dari kata “Peras” nya berkonotasi “perasaida” artinya “berhasil”. Biasanya peras dihaturkan bersamaan dengan banten lainya, seperti pada pejati, ayaban dan lain sebagainya.

“Peras ini melengkapi banten yang lain. Seperti Peras Pejati, Penyeneng, ini fungsi peras sebagai niyasa keberhasilan,” jelasnya.

Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Peras dinyatakan sebagai lambang Hyang Triguna Sakti demikian juga halnya dalam penyelenggaraan “pamrelina banten” disebutkan peras sebagai “pamulihing hati” artinya kembali ke Hati, yaitu suatu bentuk sugesti bagi pikiran telah berhasil melaksanakan suatu keinginan serta mencapai tujuan yang diharapkan.

Ia menjelaskan, Peras memiliki bagian penting banten peras, di antaranya Taledan atau tamas/ceper: lambang Cakra atau perputaran hidup. Ceper atau Aledan sebagai lambang Catur marga yakni Bhakti, Karma, Jnana, Raja Marga.

“Taledan itu berbentuk segi empat, sebagai simbol catur marga,” imbuhnya.

Selanjutnya Tampelan, benang tukelan dan uang, berupa dua lembar sirih yang telah diisi pinang dan kapur diletakkan berhadapan lalu dilipat dan dijahit, disebut tampelan atau base tampelan disatukan meletakkannya dengan benang tukelan warna putih dan Uang.

Makna dari Tampelan ini merupakan lambang tri murti. Makna dari benang tukelan adalah kesucian dan alat pengikat sifat satwam, merupakan lambang bahwa untuk mendapatkan keberhasilan diperlukan persiapan yaitu pikiran yang benar, ucapan yang benar, pandangan yang benar, pendengaran yang benar, dan tujuan yang benar.

Makna dari Uang adalah lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup.

Tumpeng, di bagian depan dari base tampelan, benang tukelan dan uang diletakkan tumpeng dua buah sebagai simbol rwa bhineda – baik buruk.

Fungsi dari Tumpeng adalah sebagai suguhan kehadapan Hyang Widhi.

Bentuk kerucut yang letak lancipnya di atas adalah lambang Tuhan itu Tunggal adanya dan tempatnya tinggi di atas tiada terbatas, yang oleh umat-Nya akan dituju dengan jalan pemusatan pikiran yang suci melalui pengendalian hawa nafsu.

Selain itu, banten peras juga berisi rerasmen berupa lauk pauk terdiri dari kacang-kacangan yang digoreng, saur, sambal ikan (telur, ayam, teri), terung, kecarum, mentimun dan lainnya disesuaikan dengan desa kala patra.

Pada suatu daerah dipergunakan sebagai tempat rerasmen adalah kojong rangkada yaitu berupa satu taledan berbentuk segitiga ukurannya agak besar dan didalamnya diletakkan empat buah kojong janur masing-masing dijahit agar tidak terlepas.

“Maknanya jika ingin mendapatkan keberhasilan harus dapat memadukan semua potensi dalam diri seperti pikiran, ucapan, tenaga dan hati nurani,” paparnya.

Dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten dijelaskan bahwa kacang-kacangan itu menyebabkan perasaan menjadi satu, Ulam itu ikan yang dipakai sebagai rerasmen itu sebagai lambang bicara yang baik untuk didengarkan.

Buah dibagian belakang tumpeng dan rerasmen diletakkan buah-buahan seperti mangga, apel, salak atau bisa buah-buahannya disesuaikan dengan keadaan setempat.

Banten peras juga berisi jajan gina lambing mengetahui, Uli merah/putih adalah lambang kegembiraan yang terang, bhakti terhadap guru Rupaka.

Sedangkan Dodol lambang pikiran menjadi setia, Wajik adalah lambang kesenangan akan belajar sastra, Bantal adalah lambang hasil dari kesungguhan dan tidak kesungguhan hati,

Satuh lambang dari patut ditirukan, Satuh sama dengan patuh. Juga berisi sampyang peras berupa sampyan khusus yang dipergunakan hanya untuk peras, disebut juga Sampyan Metangga, jenisnya ada 2 macam.

Pertama berbentuk kecil dan sederhana yang biasa dipergunakan pada banten sorohan dan kedua bentuknya agak besar yang dipergunakan pada pejati wujudnya bertingkat, karena itulah disebut sampyan metangga.

Dalam Lontar “Tegesing Sarwa Banten” Perlengkapan dari sampyan ini adalah porosan dengan sirih, kapur dan pinang. Dimana porosan secara keseluruhan mencerminkan saktinya Tri Murthi.

Banten peras juga berisi Kojong Ragkat, tempat lauk pauk; memiliki makna jika ingin mendapatkan keberhasilan harus dapat memadukan semua potensi dalam diri (pikiran, ucapan, tenaga dan hati nurani).

Banten peras juga berisi Sampyan peras; terbuat dari empat potong janur dibentuk menyerupai parabola di atasnya.

“Ini merupakan lambang dari kesiapan diri kita dalam menerima intuisi, inisiasi, waranugraha dari Hyang Widhi yang nantinya akan kita pakai untuk melaksanakan Dharma,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#lontar #penyuluh #Banten #pejati #hindu #Peras