Pura Dalem Cedok Waru berlokasi di Banjar Segara, Desa Adat Kuta, Badung. Posisi pura di kawasan Pantai Jerman, tepatnya di belakang Holiday Inn Resort Baruna Bali dan The Patra Bali Resort.
Keberadaan pura ini tak terlepas dari perjalanan Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit dalam menyatukan Nusantara.
Pura ini yaitu “Cedok Waru” yang merujuk pada suatu pohon menjulang tinggi dan memiliki daun menyerupai sebuah tungku kecil untuk minum. Bahkan dahulu orang-orang sekitar menyebut puranya dengan sebutan Celuk Waru.
Pura Cedok Waru terletak di pesisir pantai Kuta yang asri dan sejuk karena di kelilingi oleh pohon cedok waru dan pohon kayu jaran yang biasanya digunakan untuk membuat tapel (topeng), pohon pudak yang tinggi-tinggi, dan juga menyimpan kesucian dan kesakralan yang dimiliki oleh pura tersebut.
Bangunan dari Pura Cedok Waru ini yang bercirikan Pura Kuno, selain itu tata letak yang dimiliki pura ini mengikuti Ugeruger di Bali berdasarkan Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi
Puncak upacara yang dilaksanakan di Pura Cedok Waru ini pada Rahinan Tumpek Landep peninggalan yang masih tersimpan di Pura Cedok Waru ini berupa pohon cedok waru, perahu dan Telaga (bulakan).
Dari beberapa peninggalan arkeologi yang terdapat pada Pura Cedok Waru ini, keduanya menarik perhatian yaitu terdapat sebuah Telaga atau Bulakan yang diatasnya terdapat patung naga bashuki dimana dibawahnya terdapat sumber mata air dari tanah.
Kelian Penyungsung Pura Cedok Waru, I Nyoman Graha Wicaksana menjelaskan Matar Air tersebut tidak pernah habis dan rasa air tersebut terasanya tawar walaupun berdekatan dengan Pantai.
“Banyak orang yang melukat ke telaga ini untuk memohon kesembuhan. Tetapi ini persoalan rasa dan keyakinan,” kata Nyoman Graha Wicaksana.
Letak Pura Cedok Waru dekat dengan pantai. Pura cedok waru yang dimana merupakan salah satu pura yang sudah ada sejak zaman Bali Kuno, Pura Cedok Waru juga memiliki struktur Dwi Mandala terdiri dari Nista Mandala (Jaba Pisan/sisi), Utama Mandala (Jeroan/halaman terbuka).
Struktur pada pola pembangunan pura kuno tersebut sesuai dari zaman Dinasti Warmadewa di Bali. Sejarah Pura Cedok Waru tidak bisa dilepaskan dari adanya Pohon Waru yang kemudian lebih dikenal dengan Pohon Cedok Waru.
Ia menambahkan, tempat yang sekarang menjadi lokasi Pura Cedok Waru ini merupakan tempat untuk memperingati penyerahan kekuasaan oleh Mahapatih Gajah Mada kepada Sri Kresna Kepakisan. Hal ini sebagai bentuk suksesnya pendaratan pasukan Mahapatih Gajah Madha menginvansi Bali pada tahun 1265 Caka atau tahun 1343 Masehi.
Konon, Pasih Perahu Sekeh Kutha yang sekarang menjadi pantai jerman tersebut, merupakan salah satu pendaratan pertama pasukan Majapahit
Ketika berada di Pesisir Pantai Perahu Sekeh Kuta saat itu, prajurit dari Mahaptih Gajah Mada merasakan kelelahan dan salah satu dari prajurit Mahapatih Gajah Mada diperintahkan untuk mencari air untuk di konsumsi.
Baca Juga: Rencana Pemkab Badung Pinjam Uang, Bupati Sebut Antisipai Harga Tanah Naik
Kemudian dilihatlah ada sebuah telaga (bulakan) berisi air tawar yang sangat jernih. Sebelum diberikan ke prajurit lainnya Mahapatih Gajah Mada dengan salah satu prajuritnya meminum air tersebut dan beliau sangat takjub akan kejernihan air tersebut. Mengapa demikian, telaga (bulakan) tersebut berdekatan dengan Pantai
Pada saat beliau dan salah satu prajuritnya ingin memberikan air kepada prajurit lainya terlihat bingung karena tidak ada wadah untuk meletakan air tersebut.
“Beliau melihat begitu banyak pohon waru dan daun dari pohon waru tersebut digunakan sebagai wadah untuk memberikan para prajurit lainnya. Dan setelah diberikan, para prajurit seketika merasa segar bugar,” ungkapnya.
Selanjutnya dibangunlah saluran air ini hampir sama bentuknya dengan pembangunan air pada zaman sekarang.
Namun ketika itu air tersebut merupakan telaga, agar lebih mudah didapatkan dibuatkankanlah bulakan kecil menggunakan pipa dan sampai sekarang peninggalan dari pembangunan air ini masih digunakan dengan baik di Pura Cedok Waru
Ia menambahkan, di dalam babad Bali Kuna dan Purana Jawa Dwipa Cedok Waru tersebut awalnya cikal bakal pura sudah ada.
Hal ini tampak pada beberapa struktur bangunan Pura Cedok Waru. Hal inilah yang menyebabkan pura ini menjadi tempat persembahyangan
Uniknya, di Pura ini terdapat Arca Singa Nata Raja yang terbuat dari kayu cepaka, Arca Singa Nata Raja atau yang disebut dengan “Singa Keluaraga Sakya” yang merupakan perwujudan kendaraan Sang Budha ke Nirwana.
Diyakini Singa merupakan simbol Budha yaitu Sidharta Gautama. Dalam Hindu Arca Singa Nata Raja diyakini sebagai dewata yang melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan, serta kemampuan untuk melindungi umatnya.
Selain itu, terdapat Arca Merak yang terbuat dari kayu cepaka. Arca tersebut melambangakan kendaraan dari Dewi Saraswati yang merupakan sakti dari Dewa Brahma.
Termasuk dalam Tri Dewi yang merupakan saktinya Tri Murti, dan warna hijau pada arca tersebut melambangkan kewibawaan dan emas melambangkan kesejahteraan.
Selain Upacara atau hari besar lainya Arca Merak ini digunakan khusus yaitu pada saat Hari Raya Saraswati.
Arca Ida Bhatara Sesuunan Lanang Istri yang terbuat dari Kayu Cendana. Arca Ida Bhatara Sesuunan Lanang Istri merupakan Arda Nameswara Lanang Istri yang disimbolkan sebagai Prabhu, Raja bermahkota sesuunan yang beristana di Dhalem Cedok Waru.
"Pemedek yang nangkil juga tidak hanya dari umat Hindu saja, ada juga dari Tionghoa nangkil keseni untuk sembahyang," pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika