Legenda Empat Kepompong 'Terkutuk' Jadi Manusia: Kisah Ajaib di Balik Sejarah Terbentuknya Desa Kuno Sembiran dan Julah di Buleleng!
I Putu Suyatra• Rabu, 4 Juni 2025 | 03:13 WIB
Desa Senburan, Buleleng
BALIEXPRESS.ID – Setiap desa menyimpan kisahnya sendiri, dan di Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat dua desa kuno yang memiliki asal-usul yang begitu unik dan memikat: Desa Sembiran dan Desa Julah.
Meskipun belum didukung penelitian ilmiah, cerita rakyat yang dipercaya secara turun-temurun oleh para tetua desa ini benar-benar membuat penasaran.
Bayangkan, sebuah kisah tentang empat kepompong yang "dikutuk" menjadi bayi manusia menjadi cikal bakal kedua desa ini!
Desa Sembiran dan Desa Julah adalah dua desa tua yang terletak di Kecamatan Tejakula, Buleleng.
Kedua desa ini dikenal sebagai desa Bali Aga, yang berarti masyarakatnya masih memegang teguh adat dan tradisi warisan leluhur sejak zaman dahulu kala.
Kapan tepatnya nama kedua desa ini muncul masih menjadi misteri, namun cerita dari mulut ke mulutlah yang menjaga sejarah awal mula keberadaan mereka.
Petapa Suci, Empat Kepompong, dan Lahirnya Dua Desa Ajaib
Kisah ini dibuka dengan seorang pertapa suci yang diyakini sebagai Ida Bhatara Guru, yang tengah melakukan yoga semadi di dalam hutan, tepat di bawah pohon kayu kastuban.
"Dulu awal mulanya ada orang suci yang melakukan yoga semadi di pohon kayu kastuban," jelas Ketut Rapet Arsana, salah satu warga setempat, memulai ceritanya.
Saat bertapa, Ida Bhatara Guru melihat empat kepompong di pohon tersebut.
Dengan kekuatannya, Ida memohon anugerah agar kepompong-kepompong itu dapat berubah menjadi bayi manusia: dua laki-laki dan dua perempuan. Permohonannya terkabul!
Namun, Ida kemudian dihadapkan pada kebingungan: siapa yang akan merawat keempat bayi ini?
Melalui semadi lagi, muncul seorang wanita tua yang belum menikah (daha tua) yang bersedia mengasuh mereka hingga dewasa.
Setelah keempat anak itu beranjak dewasa, Ida Bhatara Guru kembali bertapa untuk memohon perlindungan bagi mereka dari segala marabahaya, termasuk binatang buas.
Hasilnya, kedua anak laki-laki dianugerahi kekuatan (keteguhan), yang kelak menjadi cikal bakal penduduk Desa Julah, dikenal sebagai Desa Muani (laki-laki).
Sementara itu, kedua anak perempuan mendapat anugerah kemenangan tanpa perang (keyosan), yang menjadi cikal bakal penduduk Desa Sembiran, dikenal sebagai Desa Luha (perempuan).
Perkawinan dan Bhisama yang Terjaga Lintas Generasi
Tempat beryoga semadi Ida Bhatara Guru kemudian diberi nama Bali Sipapan, yang dibagi dua oleh Sungai Kayehan Kangin sebagai batas antara Desa Sembiran dan Desa Julah.
Anak laki-laki tinggal di Desa Upit (Julah), sementara anak perempuan di Bali Sipapan (Sembiran).
Waktu berlalu, salah satu anak laki-laki tertarik pada salah satu anak perempuan dan membawanya ke Desa Upit sebagai istri.
Namun, anak laki-laki yang lain tidak bisa merayu anak perempuan satunya untuk ikut, dengan alasan agar Bali Sipapan tidak kosong.
Akhirnya, anak laki-laki itu pun setuju untuk tinggal bersama sang perempuan di Bali Sipapan.
Dari kedua pasangan inilah keturunan Desa Sembiran dan Julah berkembang.
Sebuah kesepakatan atau bhisama pun dibuat: anak dan saudara tidak boleh menikah karena masih tergolong sepupu atau misan.
Bhisama ini, hingga kini, masih ditaati dengan teguh oleh masyarakat Desa Sembiran dan Desa Julah.
Kisah kepompong ajaib ini tidak hanya menjelaskan asal-usul, tetapi juga menyoroti kuatnya ikatan kekerabatan dan penghormatan terhadap tradisi di dua desa kuno ini. Sebuah warisan tak benda yang patut diselami lebih dalam! ***