Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

5 Fakta Penting Ritual Kuno Hindu Bali, Ngusaba Sambah: Ayunan Raksasa Penjaga Kesucian di Kintamani

I Putu Suyatra • Sabtu, 7 Juni 2025 | 13:42 WIB

Ngusaba Sambah, ritual unik Hindu Bali di Kintamani, Bangli.
Ngusaba Sambah, ritual unik Hindu Bali di Kintamani, Bangli.

BALIEXPRESS.ID – Sebuah tradisi kuno Hindu Bali yang penuh misteri dan kesakralan tersembunyi di Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Dikenal dengan nama Ngusaba Sambah, ritual unik ini bukan sekadar upacara biasa, melainkan perpaduan mendalam antara keyakinan spiritual dan kearifan lokal.

Salah satu elemen paling mencolok dan mengundang penasaran adalah keberadaan sebuah ayunan raksasa yang memiliki makna serta pantangan ketat.

Baca Juga: Panggung GWS dan Gedung Marya di Tabanan Bisa Dipakai untuk Umum, Cek Tarif Retribusinya

1.  Jejak Ngusaba Sambah: Upacara Agung di Purnama Kapitu

Setiap tahun, tepat pada Purnama Sasih Kapitu, aura sakral menyelimuti Penataran Agung Pura Bale Agung di Desa Subaya.

Di sinilah rangkaian Ngusaba Sambah dilaksanakan, tak lama setelah Ngusaba Desa.

Namun, yang membedakan upacara ini dari yang lain adalah kehadiran sebuah Sanggah (tempat pemujaan) yang diletakkan di atas ayunan besar.

Bukan sembarang ayunan, konstruksi megah ini terbuat dari perpaduan bambu, tali rotan, dan kayu dadap tis—material-material yang dipilih dengan cermat untuk menjaga kesakralannya.

Proses pembuatannya pun tak kalah rumit, dinamakan Ngeramon Sanggah, sebuah ritual yang diawali setelah Ngeramon Dangsil Pasek.

Baca Juga: Kejutan dari Tabanan! Siswi SD Ini Siap Guncang Turnamen Tenis Internasional di Thailand

Bayangkan, tiang-tiang bambu penyangganya bisa mencapai ketinggian 12 hingga 15 meter! 

2.  Di Balik Ayunan Raksasa: Filosofi dan Gotong Royong Adat

Menurut Tokoh Adat Desa Subaya, Wayan Bali Arta, pembuatan ayunan ini adalah bagian integral dari Ngeramon Sanggah yang memakan waktu tiga hari penuh.

Seluruh krama (masyarakat adat) bergotong royong, namun beberapa tahapan kunci harus diawali oleh Paduluan Desa, seperti menanam tiang penyangga utama (disebut tungked) dan pembuatan tali anyaman.

Tahapannya begitu detail: diawali dengan mencari hari baik untuk menanam dua batang bambu Bali sebagai pemeneng (tiang utama), dilanjutkan dengan pemasangan bambu petung sebagai tungked dan penyemah (penyangga), hingga penunjang di bagian utara dan selatan.

Tangga khusus juga dipasang agar dapat mencapai Sanggah tempat Ida Bhatara berstana.

Ayunan itu sendiri dibuat dari kayu dadap tis yang dipercaya sebagai kayu suci atau sakti.

"Semua ini ada rangkaiannya dari mulai mapejati sebelum dilanjutkan menanam tiang utama yang harus dilakukan Paduluan Desa, kemudian baru dilanjutkan oleh krama," jelas Wayan Bali Arta.

Ia juga menambahkan bahwa setiap bagian bambu memiliki nama dan fungsi masing-masing: pemeneng, tungked, penyemah, dan penunjang, semuanya dikerjakan secara gotong royong selama tiga hari.

Baca Juga: Diduga Alami Kecelakaan, Pemuda 21 Tahun Ditemukan Tewas Tersangkut di Tukad Yeh Sungi

3.  Bahan Alami dan Makna Mendalam

Wayan Bali Arta menuturkan, seluruh bahan untuk Sambah berasal dari alam.

Meskipun dulunya bambu Bali menjadi bahan utama, kini digunakan kombinasi bambu Bali sebagai dasar dan bambu petung untuk kekuatan, agar tidak mengurangi makna dari bahan utama.

"Awalnya pakai bambu yang besar dulu, baru tempel dengan bambu petung. Agar maknanya tidak hilang," katanya.

Tali rotan yang digunakan tidak dibelah untuk memastikan kekuatannya menahan beban papan ayunan dari kayu dadap tis.

Papan inilah yang nantinya akan diisi dengan hasil bumi Desa Subaya.

"Semua hasil bumi, kayu dadap tis dipercaya sebagai kayu suci," imbuhnya.

4.  Puncak Kesakralan: Mengundang Bhatara ke Singgasana Ayunan

Setelah proses Ngeramon Sanggah selesai, upacara dilanjutkan dengan Nguntap atau menghadirkan (ngodal) Ida Ratu Ayu Mas Subandar Bhatara dari Pura Pengubengan dan Ida Bhatara dari Pura Pamujaan.

Baca Juga: Desa Bongkasa Pertiwi Percontohan Kopdes Merah Putih

Kemudian, para Bhatara dibawa ke Pura Bale Agung untuk distanakan di Sanggah yang berada di atas ayunan.

Ketut Suar, Penasihat Adat Desa Subaya, menjelaskan bahwa setelah Bhatara berstana, persembahan rayunan dan canang raka diberikan oleh krama.

Keesokan harinya, upacara ngulapin (mengundang) Ida Bhatara dari Pura Puseh, Pura Dang, dan Khayangan Tiga masing-masing dilakukan, sebelum akhirnya para Bhatara juga distanakan di Sanggah ayunan.

Setelah semuanya berstana, persembahan dan tarian pun ditampilkan hingga mencapai puncak acara.

"Seperti itulah rangkaian setelah Ngeramon Sanggah, Ida Bhatara semuanya didatangkan kemudian distanakan di Sanggah yang ada di atas ayunan," jelas Suar.

5.  Aturan Ketat dan Keyakinan Unik di Balik Ayunan Sakral

Ada aturan dan pantangan ketat yang harus dipatuhi terkait ayunan ini. Ayunan hanya boleh digunakan setelah upacara puncak selesai.

Dimulai oleh Paduluan Desa, dilanjutkan Mangku Alit, barulah kemudian siapa pun diperbolehkan menggunakannya.

Yang menarik, sebelum upacara berlangsung, ayunan sama sekali tidak boleh dinaiki karena akan mengurangi kesuciannya.

Baca Juga: Badung Kembali Raih Opini WTP Atas LKPD 2024, Bupati Adi Arnawa Terima LHP BPK

Namun, jika digunakan pada hari pertama setelah puncak upacara, diyakini bahwa meskipun terjatuh, tidak akan ada celaka yang menimpa.

Bahkan, setiap krama, termasuk bayi sekalipun, diwajibkan untuk setidaknya menyentuh ayunan tersebut demi keselamatan.

"Jika digunakan sehari setelah upacara puncak, walaupun jatuh dari ayunan tidak apa-apa," sebut Suar.

Namun, jika ayunan digunakan lebih dari satu hari setelah puncak atau setelah dibongkar kembali, dipercaya akan terjadi musibah atau kejadian yang tidak diinginkan, karena Ida Bhatara dianggap tidak memberikan izin.

"Seperti itu aturan dan pantangannya, kemudian siapapun bisa mencoba ayunan ini termasuk krama yang bukan asli di sini," tutup Suar.

Ngusaba Sambah bukan hanya sebuah ritual, melainkan cerminan kekayaan budaya, kepercayaan yang kuat, dan kebersamaan yang terjalin erat di Desa Subaya.

Sebuah kisah yang mengundang kita untuk lebih jauh memahami keunikan tradisi Bali. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#kuno #Ngusaba Sambah #Kintamani #hindu bali #Kabupaten Bangli #tradisi unik