Inovasi Modern Pura di Jantung Denpasar: Ruko dan Kontrakan Jadi Sumber Dana Umat!
I Putu Suyatra• Sabtu, 7 Juni 2025 | 17:26 WIB
Pura Dalem Ulunsuan di Banjar Abiantimbul, Pemecutan Klod, Denpasar Barat.
BALIEXPRESS.ID – Di tengah hiruk pikuk Jalan Imam Bonjol, Denpasar, sebuah kisah inspiratif datang dari Pura Dalem Ulunsuan di Banjar Abiantimbul, Pemecutan Klod, Denpasar Barat.
Jika sebagian besar pura tradisional mengandalkan sumbangan umat atau hasil pertanian, pangempon Pura Dalem Ulunsuan justru memilih jalur modern dan kreatif.
Sejak puluhan tahun lalu, pura ini telah bertransformasi menjadi produktif secara finansial demi mengurangi beban umat.
Kori agung (gerbang utama) pura mencatat renovasi terakhir pada tahun 1950, saat Jro Mangku baru berusia satu tahun.
Pura Dalem Ulunsuan diyakini memiliki kaitan dengan Dewa Ayu dan bidang pertanian, sering disebut-sebut dalam cerita tetua terkait hilangnya wabah penyakit di sawah.
Meski arsitektur bangunannya masih tua dengan palinggih bata merah tanpa semen, demi efisiensi, atap ijuk telah diganti genteng.
"Walau bangunan masih berarsitekturnya tua, namun demi efisiensi, kami mengganti atap dari ijuk menjadi genteng, karena ijuk butuh perawatan khusus dan harus diganti lebih cepat," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Keunikan "Dalem Cina" dan "Dalem Mekah": Simbol Jarak Niskala
Pura Dalem Ulunsuan berstatus sebagai pura prasanak (bagian) dari Pura Desa lan Puseh Desa Adat Denpasar.
Dahulu, pura ini diempon oleh tiga kepala keluarga dengan 39 KK panyiwi, serta memiliki pamaksan (kelompok pengempon) mencapai 100 KK.
Sebagai pura penerima tamu dari dura negara (luar negeri), Pura Ulunsuan memiliki palinggih-palinggih unik dengan nama tempat di luar Bali, seperti Palinggih Dalem Cina, Dalem Mekah, dan Dalem Solo.
Namun, Jro Mangku Anak Agung Wirata menegaskan, penamaan ini bukan merujuk pada lokasi geografis di dunia nyata.
"Solo itu artinya jauh, tidak bisa dipikirkan. Ini berarti nama palinggih bukan merujuk ke tempat dunia nyata (sekala), tetapi ke hal niskala yang tidak terpikirkan datang dari jauh," paparnya, menjelaskan bahwa ini adalah cara orang tua zaman dahulu menggambarkan sesuatu yang jauh dan agung secara spiritual.
Keistimewaan sebagai penerima tamu dari luar, membuat upacara piodalan yang jatuh setiap Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi), bisa berlangsung hingga empat hari. Ini jauh berbeda dari pura umumnya yang hanya satu hari.
Saat piodalan, pratima pura ditempatkan di Palinggih Tajuk Kalantaka, stana Ratu Agung Sakti, yang diyakini sebagai penentu kelancaran upacara.
Fenomena karauhan juga sering terjadi, khususnya saat turunnya Ida Bhatara dari Palinggih Dalem Cina.
Pamedek yang mengalami trance ini bahkan sering berbahasa yang tidak dimengerti, namun "kalau ada dua pamedek yang karauhan biasanya mereka berkomunikasi berdua dan nyambung," ungkap Jro Mangku AA Wirata, seorang pensiunan pegawai PDAM.
Pura ini juga memiliki Palinggih Pregina, Ida Ratu Bagus Panji Landung, yang dipercaya menganugerahkan taksu seni kepada umat yang berdoa. Pamedek sering membawa pajati untuk memohon anugerah taksu ini.
Inovasi Laba Pura: Ruko dan Yayasan untuk Kemandirian Umat
Salah satu sisi unik Pura Dalem Ulunsuan yang paling menonjol adalah pemanfaatan laba pura yang efektif dan modern.
Berbeda dengan tradisi umum yang menggunakan laba pura sebagai ladang atau sawah, Jro Mangku Anak Agung Wirata melihat potensi lain.
Sejak tahun 2000-an, pangempon pura berinisiatif membangun rumah toko (Ruko) dan rumah kontrakan di atas lahan laba pura seluas 36 are yang berada di area perumahan.
"Sebelumnya sangat susah mencari dana untuk pembiayaan kegiatan pura. Syukurnya niat pemanfaatan laba pura ini sangat efektif, nilainya bisa cukup untuk pembiayaan kegiatan pura ini," ungkap Jro Mangku AA Wirata bersemangat.
Kini, 14 ruko dan tiga rumah kontrakan telah berdiri, dan hasil sewanya digunakan sepenuhnya untuk menutupi biaya upacara piodalan dan kegiatan pura lainnya, yang diatur dengan anggaran terpusat Rp 125 juta per tahun.
Inovasi ini tidak hanya melancarkan keuangan pura, tetapi juga mengurangi beban umat.
"Kebutuhan untuk pura... sekarang tidak terlalu membebani umat," ujarnya.
Tak berhenti di situ, dengan keuangan yang lebih stabil, pihak pura kini berlanjut membangun Yayasan Jaya Swara dan Sanggar Tari Serayu Taksu.
Ini adalah langkah awal untuk pelestarian seni, budaya, sosial, dan adat istiadat agar tetap ajeg.
Ke depan, yayasan ini diharapkan dapat menyelenggarakan pelatihan pemangku, serati (pembuat banten), hingga seminar, serta berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan pendidikan umat.
Pura Dalem Ulunsuan, dengan berbagai palinggih seperti Palinggih Ibu, Ratu Gede Panglurah, Batur, Ratu Gede Pangenter, Tajuk Kalantaka, Gedong Dalem Ulunsuan, Dalem Majapahit, Dalem Mekah, Dalem Cina, dan Dewa Pregina, menjadi contoh nyata bagaimana tradisi kuno bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman demi kelangsungan spiritual dan kesejahteraan umat. ***