Istilah boreh ini mengacu pada pengobatan tradisional seperti pasta yang berbahan dari tanaman terdiri dari rempah-rempah, herba, bunga, dan terkadang buah dan biji.
Bahan-bahan tersebut dikeringkan terlebih dahulu atau langsung dihaluskan dan digiling.
Boreh sudah ada sejak abad ke-10, ketika usada Bali muncul, tetapi baru dipopulerkan pada abad ke-16 oleh Mpu Kuturan dengan Danghyang Dwijendra.
Ini dapat dilihat dari prasasti yang menunjukkan gingingan atau batu yang digunakan untuk menghaluskan rempah, daun, biji-bijian, dan makanan lain sebagai obat.
Kegiatan mengoleskan Boreh ke tubuh disebut meboreh, kegiatan ini dianggap sebagai cara paling mudah untuk menjaga kesehatan serta menyembuhkan penyakit tertentu.
Penggunaan boreh digunakan dalam beberapa masalah kesehatan yang digunakan sebagai obat luar antara lain nyeri otot, urat terjepit, nyeri tulang, nyeri otot, dan sakit kepala.
Selain itu, meborah akan meningkatkan sirkulasi darah dan menghangat tubuh.
Obat tradisional seperti boreh telah digunakan bertahun-tahun, Pengobatan ini minim memiliki efek samping dan dapat menyembuhkan banyak penyakit
Menurut praktisi Usada, Gede Sutana, S.Kes, M,Si, bentuk obat tradisional dapat berupa emulsi, cair, atau padat.
Untuk membuat bahan obat ini, mereka dapat digerus, dikunyah (tidak selalu balian), direbus, digoreng, dioseng (tanpa larutan), dimasukkan ke dalam abu panas, atau dipanggang. Cara penggunaan obat tradisional Bali dibagi menjadi obat dalam dan luar.
“Boreh dibuat dengan mengkombinasi bahan-bahan yang dibuat dengan cara menghaluskan dan dalam penggunaanya dicampur dengan air serta dioleskan di seluruh tubuh seperti yang tertera pada Lontar Usada Bali,” ujar pria yang juga dosen Institut Mpu Kuturan ini.
Seperti parem, boreh dibuat dengan menghaluskan bahan ramuan dan mencampurkannya dengan cairan (air, cuka, arak, atau alkohol) langsung diterapkan pada area yang sakit.
Dalam pembuatan boreh, herba kering atau segar yang diperoleh akan ditakar dan kemudian ditumbuk, yang dikenal sebagai Meintuk (ditumbuk) atau Meuyeg (dihaluskan) dalam lumpang.
Proses ini akan mengekstrak minyak dan sari alami tanaman, sehingga mengubah konsistensi bahan.
Kemudian, apoteker pengusada biasanya menambah katalis ke dalam obat dalam bentuk cairan seperti alkohol, air tawar, minyak kelapa, getah pohon, atau terkadang lemak hewan laut dalam.
Akhirnya, campuran digunakan, seperti pasta. “Sering kali menambah bahan ke dalam obat dalam bentuk cairan seperti alkohol, air, minyak kelapa, getah pohon, atau terkadang lemak sehingga Akhirnya, campuran boreh digunakan, seperti pasta,” imbuhnya.
Dijelaskan Suatana, ada tiga jenis boreh ada di Bali. Pertama, boreh anget, yang merupakan boreh asli Bali.
Kedua, boreh miyik, yang terbuat dari bunga-bunga seperti jempiring, lavender, dan mawar; dan ketiga, boreh tis, yang terbuat dari sayur dan buah-buahan seperti ketimun, wortel, alpukat, papaya, dan bengkuang
Boreh Anget, yang terkadang disebut Boreh Bali asli, berkhasiat untuk mengobati penyakit. Sensasi hangatnya membantu merelaksasi tubuh, melancarkan peredaran darah, serta mengurangi nyeri otot, nyeri tulang, demam, menggigil, dan sakit kepala.
Boreh bermacam-macam dan biasanya dibuat untuk orang sakit, seperti bayi yang menderita pilek dan flu.
“Ibu-ibu di daerah pedesaan biasanya membuat boreh dari beras, kencur, dan garam, lalu diulek atau dikunyah, lalu dioleskan pada punggung, kaki, dan kadang-kadang di atas kepala bayi,” sebutnya.
Selanjutnya, Boreh miyik dan boreh tis secara umum dianggap sebagai produk kecantikan karena “miyik” berarti harum sedangkan “tis” berarti sejuk.
Jenis produk akhir ini sering digunakan sebagai lulur untuk mengangkat sel kulit mati dan pencerah kulit serta penyubur rambut.
Adanya Scrub biasanya dari beras, bagian penting dari boreh, digunakan untuk membantu mengangkat sel kulit mati.
Jika proses menghaluskan boreh kurang tepat, akan menyebabkan rasa tidak nyaman saat digosokkan.
Boreh miyik biasanya dibuat dengan herba harum, seperti jempiring, mawar, lavender, atau bunga lavender. Untuk menjaga kesehatan dan kecantikan mereka, bangsawan sering menggunakan boreh ini.
Pada saat yang sama, untuk membuat Boreh tis, buah-buahan dan sayuran seperti alpukat, pepaya, mentimun, wortel, ubi, dan tanaman beraroma lembut digunakan.
Boreh tis adalah obat yang mengobati berbagai penyakit dan juga digunakan sebagai kosmetik
Orang Bali mungkin memilih Meboreh karena banyak obat bebas yang memberikan hasil lebih cepat dan lebih mudah.
Kadang-kadang, orang tidak menyukai bau herbal yang kuat karena mereka pikir produk dengan bau yang menyenangkan lebih baik.
“Ini bukan lagi kebiasaan bagi semua orang Bali, tetapi beberapa rumah tangga masih melakukan ini setiap hari untuk menjaga Kesehatan,” imbuhnya.
Ia menambahkan karena orang percaya bahwa pengobatan tradisional ini berasal dari bahan alami yang lebih murah dan lebih mudah didapat.
Selain itu, pengobatan penyakit ringan dengan obat alami akan menghindari ketergantungan pada obat-obatan modern yang berbahan kimia. (dik)
Editor : I Putu Mardika