Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), umat Hindu sejak pukul 07.00 Wib sudah berdatangan menuju Pura Luhur Poten via Desa Ngadisari. Mereka berasal dari empat kabupaten, seperti Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang.
Ribuan umat Hindu tersebut datang dengan mengendarai berbagai moda transportasi. Seperti Sepeda motor, mobil hingga minibus. Mereka rela antre memasuki pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Uniknya, setiap masyarakat yang menuju Pura Luhur Poten, rata-rata membawa sayur-mayur maupun hasil bumi para petani Tengger. Seperti kubis, daun bawang, kentang, wortel dan pala wija lainnya.
Sesampai di Pura Luhur Poten, Umat Hindu dari berbagai wilayah ini langsung menuju utama mandala untuk menghaturkan persembahan berupa banten dan hasil bumi.
Tidak jarang juga ada umat memohon doa restu dari dukun pandita yang berjejer duduk di areal madya mandala pura.
Seperti yang dilakukan oleh Surolowo, 73 dari Pasuruan, Jawa Timur. Ia datang bersama keluarga. Sebelum menaiki Kawah Gunung Bromo, terlebih dahulu Surolowo memohon doa restu dari dukun pandita.
Ia membawa sayur mayur hasil kebunnya. “Ya memohon doa restu dari Dukun Pandita, agar persembahan saya diterima Tuhan, biar dilancarkan rejekinya,” kata Surolowo kepada Bali Express.
Hal serupa dilakukan oleh Husnha, 49. Pria asal Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo ini terlihat membawa hasil bumi untuk dipersembahkan ke Kawah Bromo.
“Saya meminta restu Dukun Pandita, sebelum naik ke Kawah Bromo, harapannya agar hasil panen diberikan keberlimpahan,” katanya.
Sementara itu dalam proses pujawali dipimpin oleh empat orang romo Dukun Pandita.
Mereka diantaranya Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah, Romo Dukun Pandita Setiawan, Romo Dukun Pandita Puja Pramana dan Romo Dukun Pandita Sutomo.
Prosesi pujawali dilaksanakan dengan sangat kusyuk. Usai keempat Dukun Pandita melakukan puja mantra, barulah dilanjutkan dengan prosesi persembahyangan bersama sekitar pukul 13.00 Wib siang.
Romo Dukun Pandita Puja Pramana menjelaskan dirinya sejak 2015 menjadi Dukun Pandita dan rutin menghadiri pujawali di Pura Luhur Poten Bromo.
Beliau menyebut jika prosesi pujawali dipimpin secara bergiliran oleh Dukun Pandita di wilayah Tengger.
“Kami memimpin pujawali secara bergiliran. Ini tidak ada kaitannya dengan aliran manapun atau kasta. Tetapi memang karena ditunjuk sesuai dengan paruman dukun Pandita. Nah disanalah siapa yang berkesempatan muput pujawali,” ujar dukun pandita asal Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Ia menjelaskan, pada Selasa malam, maka seluruh Dukun Pandita di wilayah Tengger nantinya hadir untuk menyaksikan prosesi Kasada dan Ngelarung Sesaji berupa Palawija di Kawah Gunung Bromo.
“Nanti seluruh Dukun Pandita akan hadir untuk menyaksikan prosesi Kasodo dan upacara Mulunen serangkaian untuk pemilihan calon dukun pandita lainnya,” ungkapnya.
Seperti diketahui, upacara upacara Kasada, akan dimulai pukul 00.00 masyarakat suku tengger yang dipimpin oleh dukun pandita, dengan membawa hongkek ke Pura Luhur Poten melewati gerbang desa masing-masing.
Diantaranya Cemoro Lawang (Tengger Probolinggo), Pakis Bincil (Tengger Pasuruan), Jemplang (Tengger Malang) dan Gunung Jantur (Tengger Lumajang). Pada tahap ini harus membuka gerbang terlebih dahulu dengan membaca mantra atau doa yang dibacakan oleh dukun pandita.(dik)
Editor : I Putu Mardika