Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berusia Seribu Tahun Lebih, Pura Puseh-Pura Desa Batuan Saksi Bisu Peradaban Hindu di Bali

I Putu Mardika • Kamis, 19 Juni 2025 | 02:02 WIB

Pelinggih di Pura Puseh-Pura Desa Batuan, Sukawati Gianyar yang berusia 1000 tahun lebih
Pelinggih di Pura Puseh-Pura Desa Batuan, Sukawati Gianyar yang berusia 1000 tahun lebih
BALIEXPRESS.ID-Pura Puseh-Pura Desa Batuan dikatakan sebagai salah satu bagian dari Tri Kahyangan Desa Pakraman di Bali.

Hal ini dikarenakan Pura ini memiliki usia yang paling tua diantara Pura yang lain di daerah Gianyar, Bali. Pura Desa Batuan sudah ada sejak tahun 944 Saka atau dalam tahun Masehi berarti 1020

Tak berlebihan jika Pura Desa Batuan merupakan salah satu salah satu pura Puseh tertua di Bali. Pasalnya pura menjadi saksi bisu perjalanan sejarah peradaban Hindu di pulau ini.

Terletak di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, pura ini memancarkan keindahan dan keagungan arsitektur serta konsep spiritualnya.

Tokoh Adat Batuan, I Made Djabur menjlaskan, pura ini memiliki struktur yang sedikit berbeda dengan Pura-pura pada umumnya di Bali. Susunan areal pelemahan Pura dibagi beberapa halaman atau mandala sebagai simbol dari loka dan fala.

Halaman ini dilengkapi dengan banyaknya bangunan, pelinggih, dan, bangunan penunjang lainnya yang pelengkapinya.

Untuk batas-batas dan pembagian halaman di Pura Puseh Pura Desa Batuan tidak secara tegas menunjukkan konsep Tri Loka tetapi merupakan kompleks areal pura dengan halaman diantaranya seperti Mandala Jaba, Mandala Jaba Tengah, Mandala Pengulun Desa, Mandala Pura Maksan Buda Manis, Mandala Jeroan

Pura Puseh-Pura Desa Batuan dengan struktur pura yang unik, dimana dalam areal pura terdapat juga benda-benda peninggalan purbakala.

Benda-benda peninggalan purbakala yang terdapat di Pura Puseh, Pura Desa Batuan, beberapa diantara tersimpan di dalam bangunan suci atau pelinggih, dan ada juga peninggalan-peninggalan lain yang ditempatkan mengelompok dalam satu bangunan namun tetap dikeramatkan oleh krama penyungsung pura.

Gapura kuno terletak di sudut barat laut halaman (Mandala) Jeroan menghadap ke arah barat di bagian timur (depan) gapura itu terdapat dua arca gajah dan dibagian barat (belakang) terdapat dua arca lembu sebagai dwarapala.

Pada batu ambang pintu gapura terdapat relief yang merupakan kronogram berupa bulan, mata panah dan gajah, semuanya dapat dibaca sebagai angka tahun  1258 saka, yaitu : bulan bernilai : 1, mata bernilai : 2, panah bernilai : 5 dan gajah bernilai : 8 untuk mencari tahun masehi ditambah 78 sehingga menjadi 1336 masehi.

Gapura kuno ini sampai sekarang masih berfungsi, setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga yang merupakan kegiatan upacara/piodalan di Pura Puseh, Pura Desa Batuan, di depan dan dibelakang gapura kuno dibuatkan panggungan untuk menaruh upakara.

“Karena menurut kepercayaan krama desa adat Batuan, gapura ini difungsikan sebagai tempat keluar masukknya para dewa- dewi yang diundang untuk menyaksikan upacara di Pura Puseh Pura Desa Batuan,” ungkapnya.

Selain itu setiap ada pertunjukan tari Gambuh yang diminta oleh wisatawan biasanya dipentaskan di sebelah barat Gapura Kuno, dan para penari Gambuh keluar masuk melalui Gapura Kuno

Pelinggih/purataman terletak di halaman jeroan di sebelah timur, Balai Purbakala. Pelinggih ini dikelilingi oleh kolam yang difungsikan sebagai tempat suci permandian para dewa, sehingga setiap kegiatan upacara di Pura Puseh, Pura Desa selalu dibuatkan upakara, di depan pelinggih taman.

Sedangkan di Pelinggih Gedong Kehen terdapat beberapa tinggalan arkeologis berupa arca perwujudan 5 buah, lingga sebanyak 3 buah yang terdiri atas tiga batian : Brahmabhaga, Wisnubhaga dan Siwa Bhaga.

Selain itu tersimpan juga 4 buah kotak peripih. Menurut Made Djabur, pelinggih gedong Kehen digunakan untuk memuja Ratu Sakti yang disimbolkan dengan arca-arca yang tersimpan dalam pelinggih tersebut.

Selanjutnya pada Pelinggih Ida Ratu Pande tersimpan arca perwujudan 2 buah, relief Kinara Kinari 1 buah, fragmen arca sebanyak 4 buah dan fragmen lapik 1 buah.

Pelinggih Ida Ratu Selimpet di dalam bangunan ini tersimpan sebuah arca Garuda yang terbuat dari batu padas yang dipahatkan dua dimensi dengan ukuran tinggi 105 cm, lebar 71 cm dan tebal 55 cm. Arca garuda ini digambarkan dalam sikap jongkok di atas lapik berbentuk segi empat.

Pelinggih Ida Ratu Saung Didalam bangunan ini tersimpan sebuah arca perwujudan yang terbuat dari batu padas.

Ia menjelaskan yang dipuja di pelinggih. Ida Ratu Saung yaitu Dewa Tabuh Rah yang memiliki kaitan dengan tabuh rah yang diadakan di depan pelinggih taman yang berkaitan dengan pementasan Tari Rejang Sutri yang dilaksanakan pada sasih kelima sampai ngembak geni sasih kedasa.

Pelinggih Sedahan Penyarikan Didalam bangunan ini tersimpan satu buah lingga yang terbuat dari batu padas dan terdiri dari tiga bagian yaitu Brahmabhaga, Wisnubhaga, Siwabhaga.

Lingga ini merupakan lambang Siwa. Jika diadakan peparuman atau rapat maka di Pelinggih Sedahan Penyarikan dibuatkan upakara agar Peparuman berjalan dengan baik.

Didalam bangunan ini tersimpan 2 buah arca yaitu arca Buddha terletak di pelinggih (apit Lawang) sebelah kanan.

Sedangkan di pelinggih Apit Lawang sebelah kiri tersimpan arca dwarapala. Arca ini terbuat dari batu padas. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #gianyar #pura desa #hindu #Batuan #arsitektur #pura puseh