Apresiasi itu datang dari Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra yang menyaksikan langsung penampilan ciamik dari Tim Kesenian IMK.
Tahun ini, IMK mengusung konsep pluralisme budaya yang mengakar kuat di Buleleng. Konsep ini terinspirasi dari keberadaan Pura Gambung Anglayang atau Pura Pancasila di Desa Kubutambahan, yang menjadi simbol kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama di Bali Utara.
Dalam pawai tersebut, IMK menampilkan Janger Menyali yang klasik, Burdah Desa Pegayaman bernuansa Islam, Barong Sai dari Klenteng Ling Gwan Kiong mewakili komunitas Tionghoa, hingga Boneka Gendong dari Desa Les sebagai ekspresi budaya masyarakat pesisir. Tak ketinggalan, Tari Kreasi “Bungan Deeng” dan penampilan Bandung Rangki dari Desa Pedawa turut memperkuat narasi keberagaman Buleleng.
“PKB kali ini Buleleng memberi warna yang berbeda dari penampilan sebelumnya. Sambutannya luar biasa. Semua mengakui penampilan Buleleng berbeda dan membanggakan. Aplaus meriah diberikan, baik dari undangan maupun masyarakat yang hadir langsung,” ucap Bupati Sutjidra usai menyaksikan parade.
Ia juga menekankan kuatnya pesan yang tersampaikan melalui penampilan tersebut. “Akulturasi budaya antara Hindu, Muslim, Konghucu tersampaikan dengan baik. Ini adalah awal yang luar biasa. Ke depan kita akan tampilkan lebih baik lagi. Buleleng harus bisa bersuara lebih keras di panggung kebudayaan,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor IMK Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A, turut menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh tim. Ia mengaku bangga melihat keterlibatan penuh civitas akademika IMK dalam mewujudkan penampilan yang membanggakan di panggung bergengsi PKB.
“Saya sungguh bangga dengan seluruh civitas akademika IMK. Mereka telah memberikan yang terbaik, tidak hanya sebagai seniman tapi juga sebagai duta Buleleng. Penampilan ini mencerminkan karakter kampus kita berbasis budaya, berjiwa toleransi, dan menjunjung pluralisme, sesuai dengan semangat Institut Mpu Kuturan,” ujarnya.
Di sisi lain, Koordinator Tim Kesenian, Institut Mpu Kuturan Putu Ardiyasa, M.Sn menjelaskan jika persiapan dari Garapan itu hampir dilakukan sejak tiga bulan sebelumnya. Proses Latihan yang panjang semakin mematangkan penampilan.
Ia menjelaskan, Buleleng memiliki kekayaan budaya yang sangat adiluhung. Bahkan, dirinya memang sengaja memilih kebudayaan Desa Pedawa salah satunya Rumah Adat Bandung Rangki sebagai potret keberagaman budaya Bali Aga di wilayah Kecamatan Banjar.
Kehidupan masyarakat Pedawa yang memanen nira dari pohon jaka untuk diolah menjadi gula aren khas di Rumah Adat Bandung Rangki.
Proses ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari tradisi yang sakral dalam perjalanan membawa nira, mereka bahkan tidak boleh saling menyapa sebagai bentuk penghormatan pada alam.
Nuansa Pedawa dihadirkan melalui barungan madya yang terinspirasi dari gamelan gong duwe, dipadukan dengan vokal sasendonan yang menyerupai kidung sakral desa.
Replika Rumah Adat Bandung Rangki juga ditampilkan, mencerminkan fungsi rumah yang menyatu dengan kehidupan yakni tempat tinggal, bekerja, hingga melaksanakan upacara. Dibuat dari bambu dan kayu lokal, rumah ini mencerminkan filosofi masyarakat Pedawa yang hidup selaras dengan alam.
“Kita tahu bersama, Pedawa sebagai Desa Bali Aga memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Rumah Bandung Rangki hingga kini masih lestari, yang perlu diketahui oleh masyarakat Bali. Sebagai rumah yang mengusung konsep ramah lingkungan dan sarat akan nilai filosofis,” imbuhnya.
Di sisi lain, partisipasi dalam pawai PKB 2025 ini merupakan bagian dari visi kampus untuk menjadikan dirinya sebagai pusat kajian Bali Utara.
Melalui seni dan budaya, Institut Mpu Kuturan berupaya mendorong reaktualisasi nilai-nilai lokal dalam bentuk pertunjukan dan ekspresi budaya.
“Kami menjalankan instruksi pimpinan untuk menjadikan kampus ini sebagai simpul kajian Bali Utara. Melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, kami ingin menjaga kelangsungan budaya dengan basis akademik dan pelibatan komunitas,” ujar Ardiyasa.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tak cukup hanya dengan perlindungan, namun juga memerlukan pengembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah kolektif yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan pelaku seni. (dik)
Editor : I Putu Mardika