Spirit Bumbu Genep, Sregep, Nyantep, mencegah Nyungsep bisa dilihat dari racikan bahan bumbu yang tidak boleh sembarangan.
Bahkan di sejumlah lokasi di Bali malah semakin dikembangkan sebagai salah satu bentuk atraksi wisata kuliner yang semakin diminati wisatawan, baik wisatawan asing maupun domestik.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd menjelaskan, Kuliner khas Bali dikenal sebagai seni tradisi Maebat yang lengkap dan mantap. Nyantep adalah hal yang ingin ditonjolkan dalam pelestarian dan spirit bumbu kuliner khas Bali.
Pustaka Lontar Dharma Caruban menjadi acuan bagi leluhur orang Bali tatkala menekuni ilmu tata hidangan atau seni memasak khas Bali.
Di dalam lontar itu disebutkan tiga bahan pokok sebagai ikon utama bumbu Bali lengkap (basa genep) atau yang juga disebut basa wayah (tua, lengkap).
Pertama adalah kencur atau yang disebut Cekuh, simbol Sang Sahadewa merupakan simbol Nyasa sebagai bentuk proses Sregep dengan sistem pengendalian diri. Kedua, lengkuas atau Isen yang merupakan simbol Sang Bima. Dalam Epos Mahabharata, Bima adalah simbol kekuatan dan keperkasaan.
Bentuk fisik lengkuas yang keras dan aromanya yang khas memberi spirit pentingnya sebuah penguatan sraddha dan bhakti kita kepada Sang Pencipta dengan membentuk jiwa yang kokoh, tangguh dan kuat dalam memaknai simbol-simbol agama dalam kualifikasi makanan.
Ketiga, kunir atau kunyit sebagai simbol Arjuna, lambang kecerdasan. Tiga bahan utama dalam bumbu (base genep) ini mampu menghasilkan aroma dan rasa yang mantap dan isyarat atep sehingga mencerminkan kualifikasi idep yang mantap (nyantep).
“Ini adalah implementasi filosofi Hindu (tattwa) agar menjadi sregep dalam pemahaman esensi Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, Tattwa, Susila, Acara,” sebutnya.
Dikatakan Irma, dalam Pustaka Suci Atharvaveda VI.135.1 secara harfiah menganjurkan, hendaknya manusia menyantap makanan dengan hati-hati, agar makanan itu memberikan kekuatan dan kesehatan tubuh, fisik dan mental.
Umat Hindu disarankan agar selalu berhati-hati memilih bahan makanan agar terhindar dari kejatuhan, kemerosotan.
Pemilihan makanan yang sattwik menghindarkan kita dari kemerosotan moral dengan kualifikasi sifat rajasik (penuh nafsu) dan tamasik (kemalasan).
Oleh karena itu, generasi muda sangat perlu mengenal lebih jauh warisan leluhur Nusantara, khususnya kuliner khas Bali. Salah satu warisan kuliner Bali adalah bumbu Bali basa genep. Basa genep dikenal memiliki citra rasa yang khas dan mulai sangat diminati.
Pengenalan basa genep sebagai warisan tetua Bali bisa dikaitkan dengan proses pembelajaran filsafat Hindu. Poin penting yang dapat dipetik bahwa belajar agama (Hindu) bukan hanya duduk hening sembahyang dan berupacara.
Misi yang tidak kalah penting adalah memahami dan melaksanakan nilai-nilai sistem kekerabatan, esensi persaudaraan (menyama braya), adab, tradisi dan budaya menghargai keragaman sebagai simbol kebhinekaan.
Belajar agama (Hindu) bukan hanya tentang Tuhan, tetapi juga belajar seni tersendiri dalam filosofi mengelola idep, lalu siap bersinergi dan berkolaborasi agar sregep atau bersatu dalam keberagaman agar selalu atep sehingga kehidupan berjalan dengan selaras dan nyantep, terhindar dari bahaya nyungsep.
Ia menambahkan, Lontar Dharma Caruban memberi spirit bahwa dengan kecerdasan, lalu timbullah kekuatan yang mampu membimbing manusia menjadi makhluk yang memiliki kualifikasi Daiwi Sampad (sifat dewata) sebagai kebalikan dari sifat Asuri Sampad (sifat keraksaan).
“Sifat Kedewataan akan semakin bersinar, menebar kasih sayang, kedamaian kenyamanan serta mampu memberi transformasi positif bagi lingkungan dan semua ciptaan Tuhan,” paparnya.
Di balik setiap sajian Bali, terdapat lebih dari sekadar rasa, namun ada taksu, doa, dan kesucian tangan yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi.
Bumbu genep bukan hanya dapur, ia adalah sebuah spirit kehidupan dalam setiap komponen kehidupan dariruang kesadaran diri.
Dikatakan Luh Irma Susanthi, di meja digital zaman kini, bumbu instan, video resep cepat, dan plating estetik mulai mengaburkan makna terdalam bumbu genep.
Di sinilah relevansi Lontar Dharma Caruban hadir sebagai penuntun, membatasi, dan sekaligus menegaskan bahwa memasak bukan sekadar memasukkan bahan, tetapi menanamkan nilai dalam sajian.
Secara filosofis, Basa Genep adalah simbol harmoni antara panca mahabhuta (unsur alam), panca indera, dan panca yadnya.
Komponen seperti Base genep (bawang, jahe, kunyit, lengkuas, kencur) Sereh, daun salam, pala, dan rempah lain bukan hanya memperkaya rasa, tapi menyimbolkan elemen tubuh dan semesta.
“Makanan adalah Brahman, dan rasa adalah Vishnu. Maka memasak bukan kegiatan duniawi biasa. Ia adalah upacara mini, dan bumbu genep adalah sarana persembahan.
Dalam Lontar Dharma Caruban teks kuno tentang etika memasak dan penyucian makanan dijelaskan Caruban tan matemu ring suddha manah, tan dados dadosen ring yadnya.
Artinya, Masakan yang tidak berasal dari hati yang suci, tidak layak dijadikan sarana yadnya."
Dharma Caruban menegaskan bahwa masak adalah pelayanan suci (seva). Oleh sebab itu, ada pantangan spiritual dan sosial dalam memasak, terutama pantangan emosi kotor. Artinya, Tidak boleh memasak dalam kondisi marah, iri, atau dendam. Hal ini masih sangat relevan di zaman sekarang. Makanan yang dimasak sambil marah akan kehilangan taksu-nya, meskipun dibumbui secara sempurna.
Bumbu harus disucikan dan tidak boleh tercampur dengan bahan raditya (busuk, layu, atau bekas dipakai upakara bhuta).
Dharma Caruban menetapkan waktu-waktu memasak yang pantang dilakukan (misalnya saat tilem, gerhana, atau sesudah mengalami kedukaan besar). Di tengah era “semua serba cepat” dan konten “5 Menit Resep Bumbu Bali”, prinsip-prinsip ini seperti tidak relevan padahal justru inilah fondasi keberkahan makanan kita.
Zaman digital membuat kuliner Bali bisa dijangkau lebih luas: video tutorial, blog resep, hingga promosi pariwisata kuliner.
Namun ada satu yang tak bisa ditransmisikan melalui layar: taksu. Taksu hanya lahir dari Kesucian tangan (kayika karma), Ketulusan rasa (manacika karma), Dan doa lembut yang tak tertulis di resep (wacika karma).
Bumbu genep dalam era digital perlu dilestarikan bukan hanya cara membuatnya, tetapi juga cara menghormatinya. Jika basa genep adalah tubuhnya kuliner Bali, maka Lontar Dharma Caruban adalah jiwanya.
Dijelaskan Irma, dalam konteks Green Dharma gerakan pelestarian spiritual dan ekologis bumbu genep sangat mendukung karena Semua komponennya berasal dari alam lokal, bukan impor.
Proses membuatnya membutuhkan tenaga manusia bukan mesin, bukan pabrik, bukan plastik. Bumbu yang diracik dengan tangan adalah bentuk pelayanan terhadap bumi dan leluhur (bhumi bhakti dan atma bhakti).
Maka, menjaga bumbu genep bukan hanya menjaga rasa tapi juga, melestarikan alam (tidak tergantung pada bahan instan dan kimia), menjaga warisan kearifan dapur, melatih kesadaran rohani lewat memasak.
Hari ini, generasi muda bisa belajar memasak dari TikTok. Namun nilai-nilai dari Lontar Dharma Caruban tetap dapat diterapkan nilai dharma caruban, relevansi zaman kini, masak dengan hati bersih, kesadaran dalam memasak, bukan hanya sekadar hobi, hindari masak saat emosi negatif.
Selain itu, sikap Self-awareness dan mindfulness di dapur dengan Tidak mencampur bahan yadnya dan profan, etika memilih bahan dengan nilai sakral, menghargai waktu dan arah memasak dan Sinkronisasi waktu & budaya lokal.
Menurutnya, di era gadget, pantangan tidak hanya dimaknai sebagai larangan semata, tetapi sebagai penjaga nilai tak terlihat dalam rasa.
Bumbu genep bukan hanya resep. Namun merupakan mantra hidup yang meracik tubuh dan jiwa Bali selama ratusan tahun. Saat orang menyajikannya di era digital lewat restoran, YouTube, Instagram, atau festival. Hanya saja, kita seharusnya tidak hanya menyebarkan rasa, tapi juga menyebarkan makna dan pantang yang menyertainya.
“Karena taksu tidak bisa diunduh. Ia hanya bisa ditanam, dipelihara, dan dirasakan dari kesucian hati yang meracik, bukan hanya dari sendok takar,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika