Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Dalem Kahyangan Kedaton: Berusia Ribuan Tahun, Banyak terdapat Benda Purbakala dari Menhir hingga Arca  

I Putu Mardika • Senin, 7 Juli 2025 | 01:38 WIB

Pura Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan
Pura Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan
BALIEXPRESS.ID-Pura Dalem Kahyangan Kedaton lebih dikenal dengan Pura Alas P Kedaton. Mungkin karena pura ini terletak di tengah hutan lindung yang dihunı rıbuan kera. Pura yang terletak di Desa Kukuh Kecamatan Marga, Tabanan ini, merupakan sebuah pura yang memiliki sejumlah keunikan, antara lain berupa peninggalan benda-benda purbakala.

Selain terdapat patung-patung megalitik, di pura yang terletak di sebelah utara kota Tabanan itu juga terdapat sebuah patung Ganesha Durga Mahısasuramardhini dan Siwa Linggam.

Dari berbagai riset arkeologi disebutkan jika Pura Dalem Kahyangan Kedaton merupakan pura kuno yang berdiri sekitar 2000 tahun silam.

Di antara peninggalan arkeologi itu, ada yang diduga berasal dari pra-Hindu atau zaman prasejarah yang berasal dari masa berkembangnya tradist megalitik di Indonesia.

Media pemujaan pada zaman megalitik didominasi dengan bangunan megalitik yang dibuat dari batu-batu besar dan kecil yang disebut menhir.

Bangunan-bangunan tersebut sebagai media pemujaan arwah nenek moyang, pemujaan kepada kekuatan alam (adikodrati) dan kepada kekuatan pemberi kesuburan dan kesejahteraan.

Baca Juga: Barang Diduga Milik Korban KMP Tunu Pratama Jaya Diserahkan ke Posko SAR

Beberapa menhir yang berukuran relatif kecil yang dibuat dari batu andesit, kini masih ditemukan di pura yang terletak di hutan seluas 6,5 ha ini. Menhir ini didirikan di atas bangunan terbuka, terdapat di jeroan maupun di jaba tengah.

Bangunan menhir itu bernama pelinggih ancangan dan pelinggih pengawal, yang berfungsi sebagai penjaga dan memiliki kekuatan magis yang dapat menolak segala kekuatan jahat.

Ada pula menhir yang diletakkan di lantai Meru bertumpang tiga. Selain itu ada pula susunan batu andesit yang ditata di atas bangunan pelinggih pemuput.

Selain menhir juga terdapat tiga buah arca megalitik atau arca nenek moyang. Ketiganya memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu dalam sıkap jongkok. Kedua tangannya menyilang dan ditumpangkan di atas lutut.

Dua arca ditempatkan di dalam relung (ceruk) tembok Meru Dalem Kayangan, dengan posısı menghadap kepada pemedek Arca yang terletak di sebelah kanan agak rusak dengan ciri-ciri mata bulat dengan phalus mencolok dı antara kedua kaki. Arca sebelah kırı telah mengalami kerusakan pada bagian muka dan mata.

“Kami menyebut kedua arca ini sebagai arca Panjı yang dapat dimintai keselamatan bagi binatang peliharaan. Sementara arca ketiga ditempatkan pada bangunan terbuka yang disebut pelinggih ancangan,” katanya.

Baca Juga: Sampah Bukan Musibah, Kini Bisa Ditukar Uang dan Hadiah di Nusa Penida

Peninggalan lain yang dapat dijadikan bukti dari zaman penyebaran agama Hindu ke Bali yakni ditemukannya sebuah Siwa Linggam yang kini tersimpan di dalam Meru Dalem Kayangan.

Tokoh Adat Kukuh menjelaskan di dalam Meru lainnya yang disebut Kahyangan Kedaton terdapat Arca Ganesha dan Arca Durga Mahisasuramardhini. Peninggalan ketiga ini juga masih bercirikan kuno, meski tampak lebih artistik dari peninggalan lainnya. Siwa Linggam terbuat dari batu dan sering disebut sebagai lingga semu. Bagian bawah berbentuk segi empat dengan bagian atas berbentuk silindris.

Pada beberapa sumber bentuk seperti ini juga diidentikkan sebagai batu patok yang dipasang pada tempat-tempat tertentu pada sebuah bangunan suci sebagai tanda batas kesucian bangunan itu.

Di dalam Meru yang lain terdapat Arca Ganesha yang bertangan empat, duduk di atas bunga teratai dan dua ekor ular naga. Tangan kanan memegang japa mala (tasbih), tangan kiri memegang kapak dan ujung belalainya menyentuh modaka (manisan). Salah sato taringnya patah sehingga disebut Ekadanta.

Empat tangan Dewa Ganesha merupakan simbolis empat peralatan batin (antah karana). Tangan kanan depan sikap abhaya hasta (sikap memberi berkat), tangan lainnya memegang kapak, sebagai simbol beliau memotong keterikatan duniawi para pemuja dan menariknya menuju kebenaran, kebajikan, cinta kasih serta intelektualitas.

Baca Juga: Pemungutan Retribusi di Nusa Penida Dikeluhkan Wisatawan, Bupati Satria Siapkan Penataan Baru

Adapun patung Durga Mahisasuramardhını yang berdiri di atas seekor lembu dan bertangan delapan, dengan memakai penutup dada. Tangan kanan memegang camara (penghalau lalat, yang dapat berarti penghalau segala keburukan), panah, pisau besar dan memegang ekor lembu.

Tangan kırı memegang pedang, busur, trisula dan gada. Segala sarana yang dipegang-Nya memilikı makna yang sangat dalam, di mana Dewi Durga mampu menghilangkan segala keburukan dalam diri pemuja-Nya dan mewujudkan segala rahmat.

Ia menjelaskan, sisi unik lainnya adalah tidak digunakan dupa, kwangen, segehan, penjor dan tabuh rah dalam upacara piodalan maupun upacara sehari-hari.

Selain itu struktur pura juga unik, di mana jeroan yang suci dan sakral letaknya lebih rendah dari jaba tengah.

Selain itu terdapat empat buah pintu (pemedal) yakni dari arah barat berbentuk candi bentar sebagai tempat keluar-masuk darı jaba tengah.

Pura Dalem Kahyangan Kedaton memang merupakan pura kuno yang berdiri sekitar 2000 tahun silam.

Di pura ini juga merupakan tempat pemujaan kerajaan dengan keluarga dan rakyatnya. Dengan adanya Arca Dewi Durgha dan Ganesa yang duduk di atas dua ekor naga ını menandakan bahwa pura itu pura itu bercorak Siwa Paksa atau Siwa Sampradaya.

Adapun Ganesa merupakan manifestasi Tuhan yang dipuja untuk mendapatkan kekuatan hidup melawan halangan.

Baca Juga: Kunjungan ke Pura Penulisan Kintamani Masih Rendah, DPRD Bangli Dorong Pemanfaatan Kawasan Sekitar

Arca Ganesa di Para Dalem Kahyangan Kedaton, yang duduk di atas dua ekor naga juga memiliki lambang tersendiri.

Dua naga merupakan lambang ikatan dunia nyata dan dunia tidak nyata. Selain itu juga sebagai Candara Sengakala dengan sebutan "Gana Naga Dwi Tunggal. Artinya menandakan angka tahun Saka 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Ada juga peninggalan berupa arca batu laki dan wanita dalam posisi duduk dengan lutut berdiri menyilang di mana kedua tangan dilipatkan di atas dua lutut. Arca ini dengan menonjolkan alat vital yang agak vulgar Sebenarnya itu bukan wujud porno tetapi dipundang sebagai alat reproduksi.

Umumnya hal ini melambangkan pemujaan pada Dewa Kesuburan. Demikian juga terdapat peninggalan berupa lingga sebagai peninggalan zaman megalitikum untuk memuja Siwa Uma demi kesuburan pertanian.

Pelinggih utama di pura ini adalah Meru tumpang lima sebagai stana Ida Batara Dalem Kahyangan Kedaton. “Pujawali di Pura Kahyangan Kedaton ini dilangsungkan setiap Anggara Kliwon Medangsia atau setiap 210 hari sekali,” pungkasnya. (dik)

Keterangan Foto

Editor : I Putu Mardika
#kedaton #bali #Kukuh #marga #hindu #pura #Pura Kahyangan #tabanan