Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Busana adat Desa Bungaya Karangasem, Digunakan saat Upacara tertentu, Sarat Makna Filosofis  

I Putu Mardika • Rabu, 9 Juli 2025 | 04:52 WIB

 

Busana Adat Desa Bungaya, Karangasem yang unik
Busana Adat Desa Bungaya, Karangasem yang unik
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem tak hanya dikenal dengan Upacara Ngusabha Sumbu. Desa ini juga dikenal dengan busana adat yang unik dan sarat akan makna filosofis.

Busana adat yang dipergunakan untuk upacara-upacara adat sebagai simbol identitas masyarakat Desa Bungaya. Tak hanya itu, penggunaan busana juga terkait dengan hak dan kewajiban pemakainya.

Tokoh Adat Bungaya, De Kubayan Wayan menjelaskan jika masyarakat di Desa Bungaya masih percaya dengan pemaknaan suatu tradisi.

Kepercayaan masyarakat setempat dengan berbagai upacara adat atau biasa disebut dengan usaba yang merepresentasikan rasa syukur masyarakat desa atas kesuburan dan kehidupan di Desa Bungaya.

Dapat dilihat dari struktur kemasyarakatan yang masih sangat tradisional, tidak hanya itu cara berbusana di desa ini juga diatur oleh awig-awig.

Busana yang digunakan sesuai dengan jabatan adat seseorang di desa setempat. Salah satunya yaitu daha dan truna di Desa Bungaya.

“Daha dan truna di desa ini memiliki busana khusus yang digunakan dalam acara-acara Dewa Yadnya di Pura Bale Agung yang biasanya berkaitan dengan upacara usaba,” jelasnya.

Baca Juga: Profil Kompol I Made Yogi, Perwira Kelahiran Jembrana yang Dipecat Akibat Kasus Pembunuhan Brigadir Nurhadi

Semisal saat Sasih Sada Desa Adat Bungaya menggelar Upacara Ngusabha Sumbu. Ritual ini menggunakan sumbu sebagai sarana yang dinaikkan di beberapa titik, seperti di Pura Pasuwikan, Pura Ulun Suwi, Pura Bale Agung dan Pura Puseh Desa Adat Bungaya.

Saat itu truna-truni menggunakan busana adat Bungaya yang unik. Bahkan, jika ditelisik, busana Adat Bungaya memiliki corak yang mencerminkan identitas warga Bungaya.

Busana adat daha dan truna memiliki kesan sederhana namun memiliki nilai keagungan. Keunikan pada bentuk itulah yang menghasilkan suatu pemaknaan berupa abtsrak hingga naturalis.

Busana adat daha dan truna Desa Bungaya Karangasem merupakan busana yang memiliki nilai keindahan jika dilihat secara visual dengan panca indera.

Perpaduan warna, garis, tekstur pada busana ini menjadi bentuk dinamis dengan kesan sakral.

“Busana adat daha dan truna terbagi dari 3 bagian, atau disebut juga dengan konsep Tri Angga,” imbuhnya.

Baca Juga: Skandal Polisi Tewas Gara-gara Cewek: Kompol Yogi Dipecat, Otopsi Ungkap Fakta Mengerikan!

Pada konsep ini merupakan pakem atau aturan dalam menggunakan busana adat di Bali. Pada busana adat daha dan truna busana terbagi menjadi 3 yaitu, kepala, badan dan kaki.

Untuk busana daha bagian kepala terdiri dari gelungan plendo, bunga onggar, bunga semanggi, pusung gaton yang dihias bunga serombyong (dibuat dari kertas putih), bunga sandat.

Hiasan pada badan gelang perak pada dua pergelangan tangan, saput karah, senteng dan selendang yang dikenakan di bahu disebut sampet. Pada bagian bawah menggunakan kain tenunan Bali (bebas).

“Busana truna lebih sederhana jika dibandingkan dengan daha,” paparnya.

Pada truna bagian kepala tidak menggunakan destar, pada bagian badan menggunakan kain untuk melelancingan, saput karah, umpal dan keris. Seluruh atribut yang digunakan merupakan benda-benda yang disakralkan.

Khusus untuk selendang dan saput karah yang digunakan oleh daha dan truna tidak boleh dicuci dengan air biasa, melainkan harus menggunakan air yang diambil dari beji saga (sumber mata air).

Hal ini menunjukan selain keindahan pada wujud atau bentuknya namun busana ini memiliki makna-makna terkait tentang ritual keagamaan di Desa Bungaya Karangasem.

Baca Juga: Dewan Pendidikan Pantau SPMB, Sudah 9800 Siswa Mendaftar, Jenjang SMP Diumumkan Segera

Kemudian penggunaan plendo (hiasan di bagian kepala yang berwarna putih) berbentuk geometris yaitu lingkaran, Pada bagian pergelangan tangan terdapat gelang perak dengan ukiran ornamen dengan bentuk geometris lingkaran.

Pada bagian badan terdapat kain yang disebut saput karah yang digunakan menutup dada hingga lutut yang berbentuk geometris persegi.

“Pada bagian atas yang menutupi lengan terdapat kain selendang/samped berwarna kuning yang berbentuk persegi panjang,” katanya.

Selain itu terdapat juga selendang berwarna kuning yang diikat pada bagian pinggang. Selanjutnya pada bagian dalam menggunakan kamen yang berbentuk geometris persegi yang setengah bagiannya ditutupi oleh saput karah. Untuk busana truna lebih sederhana dibandingkan daha.

Busana truna terdiri dari saput karah yang berbentuk persegi, selanjutnya menggunakan selendang pada bagian dada yang berbentuk persegi panjang dan menggunakan kamen dengan bentuk persegi.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Tragis di Jalur Maut Denpasar-Gilimanuk: Xenia Oleng, Warga Denpasar Meninggal!

Pada daha bagian kepala terdapat gelungan yang dihias dengan bunga emas berbentuk flora, bagian atas gelungan juga dihias dengan kayu yang berbentuk lancip.

Pada bagian kepala belakang menggunakan hiasan yang menjuntai memanjang kesamping berwarna putih yang berbentuk lancip.

“Sedangkan truna terdapat keris yang ditempatkan pada bagian belakang yaitu punggung,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Bungaya Karangasem #unik #busana #adat #bebandem #karangasem