Tetapi juga Tari Sang Hyang Dedari. Tarian ini dipentaskan pada sasih kedasa atau setiap setahun sekali, yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Adat Geriana Kauh.
Tarian Sang Hyang Dedari ini dipentaskan untuk penolak bala dan rasa hormat mereka telah diberikan kemakmuran dan kesuburan bagi masyarakat setempat.
Tokoh Adat Geriana Kauh, Nyoman Subrata menjelaskan Desa Adat Geriana Kauh rutin mementaskan tarian Sang Hyang Dedari pada Sasih Kedasa atau setahun sekali secara turun temurun.
Keunikan tari Sang Hyang Dedari ini adalah kelincahan dan lemah gemulai badan si penari, menari di atas bambu yang tinggi penari yang masih kecil dalam menarikan tari Sang Hyang Dedari yang dimana penari dirasuki oleh roh bidadari dari khayangan.
Baca Juga: Ribut Antar Kekasih Berujung Duka di Jimbaran, Pemuda Nekat Ulah Pati di Pohon Gamal
Diiringi lantunan lagu dari ibu-ibu warga Desa Adat Geriana Kauh, serta penarinya yang tidak sembarangan.
Penari dipilih langsung oleh sekaha Desa Adat Geriana Kauh dan kemudian dilatih oleh pelatihnya di banjar untuk tari pembuka. Penari Sang Hyang haruslah gadis yang masih kecil atau belum beranjak dewasa.
“Busana tari Sang Hyang juga sangat sederhana hanya menggunakan gelungan bunga, tutup dada, sabuk prada putih kuning, selendang kuning, kamen putih,” paparnya.
Keberadaan pementasan tari Sang Hyang Dedari yang ada di Desa Adat Geriana Kauh secara sejarahnya tidak banyak diketehui secara pasti.
“Kami sudah mewarisi secara turun temurun. Sehingga tidak tahu pasti kapan itu dipentaskan,” paparnya.
Dalam Lontar Kecacaran menyebutkan tari Sang Hyang Dedari dipakai sebagai tarian dalam upacara penolak bala.
Dalam lontar Tantu Pagelaran di sebutkan Ida Bhatara Ciwa yang akan menyucikan Sang Hyang Panca Kosika yakni Garga, Metri, Kursya, dan Partanjala mengatakan bahwa Bhatari Uma lama mencari juga tidak dapat mengetahui keadaan demikian itu lalu Bhatari Ciwa berubah rupa.
Lembu Nandini menjadi lembu hitam dan beliau sendiri mengembalanya. Bhatari Uma etelah melihat lembu itu lalu meminta pada pengembalanya.
Agar diberi minta air susunya. Hal ini tidak dapat dikabulkan oleh pengembala lembu itu kecuali Bhatari Uma mau bertemu dengan dia.
Dalam pertemuan itu berjatuhlah air Mani Ciwa sebagai pengembala lembu itu dan akhirnya lahirlah Widyadara-Widyadari.
Baca Juga: ZINC Trail Run 2025 Kembali Digelar di Bali! Tantangan Ekstrem dengan Hadiah Puluhan Juta Rupiah
Dari sinilah munculnya Sang Hyang Dedari yang merupakan penjelmaan dari para widyadari yang dilahirkan dari air Mani Ciwa.
Sang Hyang Dedari menurut metologi bermulanya dari adanya warga desa yang sedang terkana wabah penyakit.
Warga Desa yang sedang terkena wabah penyakit kebingungan dan putus asa. Kebingungan dan keputus asaan itu diekspresikan dengan memukul-mukul kentongan dan rotan, warga pun mengucapkan kalimat-kalimat.
Pukulan kentongan dan rotan tersebut menjadi sebuah nada, dan kalimat-kalimat yang diucapkan warga desa menjadi sebuah mantra.
Ketika para warga sedang memukul-mukul kentongan dan rotan seraya mengucapkan mantra dua anak perempuan yang belum akhil balik atau belum mentruasi tiba-tiba kerawuhan, dan menari dengan mata tertutup.
“Masyarakat desa pun matur piuning dan mendapat pamuwus (bisikan) yang mengingikan supaya Desa Adat Geriana Kauh ini mementaskan tari Sang Hyang Dedari sebagai sarana dalam menolak bala,” imbuhnya.
Konon dahulu sebelum adanya Sang Hyang Dedari, penduduk di Desa Adat Geriana Kauh sering diserang wabah penyakit dalam istilah Balinya desebut (gerubug) penyakit yang sifatnya mendadak baik menyerang penduduk desa maupun hewan dan tanaman ini sangat meresahkan penduduk.
Sarana dan Prasarana yang dipergunakan dalam pementasan Sang Hyang Dedari memiliki tujuan masing-masing.
MisalnyaPasepan atau api, yang maknanya sebagai pengantar upacara yajna, penghubung manusia dengan sang pencipta, sebagai sarana penyucian, dan sebagai saksi dalam upacara yajna, dalam pementasan tari Sang Hyang Dedari mempergunakan api yang terbuat dari majegau.
Sacang sari, yang maknanya sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan, dengan ditandai pada saat melakukan pementasan tari Sang Hyang Dedari.
Pejati, yang maknanya sebagai sarana yang di pergunakan sebagai menyatakan kesungguhan hati kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan manifestasinya, akan melaksanakan sesuatu upacara dan mohon dipersaksikan dengan tujuan agar mendapat keselamatan.
Sesantun (daksina agung), yaitu doa kepada Ida Sang Hyang Widhi agar diberikan keselamatan dan umur panjang dengan memberikan wara nugraha (rahmat).
Hyang Widhi, dalam inkarnasinya sebagai Dewa Brahma, memiliki Daksina sebagai sthana atau tempat duduknya (pencipta alam semesta).
Ada juga sarana berupa Tetabuh, (arak, tuak, berem), yang dimaksudkan menyampaikan rasa senang dan memohon maaf jika dada kesalahan. Toya Anyar, yang merupakan sebagai media pembersihan. (dik)
Editor : I Putu Mardika