Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Sang Hyang Dedari desa Geriana Kauh Karangasem, Penari saat Nadi Menaiki Bambu

I Putu Mardika • Sabtu, 12 Juli 2025 | 04:52 WIB

 

Penari Tari Sang Hyang saat menaiki Bambu di Desa Geriana Kauh
Penari Tari Sang Hyang saat menaiki Bambu di Desa Geriana Kauh
BALIEXPRESS.ID-Pementasan Tari Sang Hyang Dedari yang ada di Desa Adat Geriana Kauh sebagai dilaksanakan pada Sasih Kedasa. Pementasan tari Tari Sang Hyang Dedari dilakukan pada padi dalam kondisi bunting yang umurnya tiga bulan atau padi masa.

Tokoh Adat Geriana Kauh, Nyoman Subrata menjelaskan pada sasih kedasa ini tidak hanya warga yang mudah terserang wabah penyakit bahkan tanamantanaman juga sangat gampang terserang hama sepanjang sasih kedasa.

Oleh sebab itu masyarakat Geriana kauh mementaskan tarian Sang Hyang Dedari sebagai wujud permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Harapannya agar warga senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, kemakmuran pada warganya, serta agar persawahanpersawahan warga terhidar dari berbagi macam hama penyakit karena mengingat mayoritas warga masyarakat Desa Adat Geriana Kauh berprofesi sebagai petani,” ungkapnya.

Setelah dilakukan pementasan tari Sang Hyang Dedari pada sasih kedasa di Pura Pajenengan dan di perempatan agung Desa Adat Geriana Kauh

Ada sejumlah tahapan prosesi dalam pementasan tari Sang Hyang Dedari yang ada di Desa Adat Geriana Kauh.

Pertama, Ngaturang Pakeling Atau Piuning Ngaturang pakeling atau piuning merupakan persembahan yang bertujuan memberitahu dan meminta ijin atas suatu upacara yang akan diselenggarakan kepada Ida Betara (Sang Hyang Widhi Wasa).

Baca Juga: Culik Bocah SD dan Minta Tebusan Rp 100 Juta, Pria Karangasem Diadili di PN Denpasar

Warga Desa Adat Geriana Kauh melakukan Upacara Mepekeling atau Mepiuning agar diberiakan kelancaran atau keselamatan bagi warganya serta Pementasan Sang Hyang Dedari dapat berjalan lancar tanpa adanya kendala-kendala yang berarti.

“Ngatur piuning juga dilakukan di pura pajenengan sebelum dan sesudah pementasan tari Sang Hyang Dedari berlangsung,” ujarnya.

Melakukan Persembahyangan Setelah melakukan piuning warga Desa Adat Geriana Kauh melangsungkan persembahyangan.

Tujuannya, untuk menyucikan diri secara lahir dan batin, untuk meminta permemohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar semua mahluk hidup berbahagia.

Selain itu, untuk memohon keselamatan, pengampunan, dan petunjuk agar hidup lebih baik, dan untuk mewujudkan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.

Ngamedalang (Nedunang) Ngamedalang merupakan rangkaian pementasan tari Sang Hyang Dedari setelah terlaksananya persembahyangan bersama.

Pada waktu ngamedalang yang dikeluarkan adalah sarana-sarana dalam pementasan tari Sang Hyang Dedari tersebut yang salah satunya berupa banten.

Banten yang dipakai dalam pementasan tersebut adalah: pejati, daksina, pasepan (api), (tetabuh (tuak, arak, berem), toya anyar, canangsari, dan sarana lainya seperti bambu besar yang akan dipanjat oleh penari pada saat tidak sadarkan diri atau kerawuhan roh Dedari.

Baca Juga: Cegah Kemacetan, Pengalihan Arus Pasca Jalan Jebol di Bajera Terus Dilakukan

Para panditha (pamangku) menghaturkan pejati dan daksina untuk meminta ijin kepada para ida bhatara dengan manisfestasinya sebagai Sang Hyang Dedari.

Padudusan Padudusan (Nusdus) yang merupakan acara selanjutnya setelah ngamedalang. Acara ini merupakan dimana penari Sang Hyang Dedari melakukan prosesi sakralisasi yang berupa Padudusan dengan menggunakan pasepan dari kayu kemenyan dan majagau.

“Kami meyakini, kayu kemenyan dan majegau merupakan kayu yang terbaik dalam penggunaannya sebagai bahan upakara setelah kayu cendana,” paparnya.

Tarian sakral ini tidak semua orang dapat menarikannya, hanya anak-anak yang belum mengalami menstruasi yang dapat menarikanya.

Pada saat tapakan (penari) Sang Hyang Dedari melakukan upacara padudusan harus didasari dengan niat hati yang tulus serta pikiran yang bersih

Agar pada saat padudusan para penari dapat merasakan getaran dalam dirinya seolah-olah ada energi yang merasuki diri sesorang penari, pada saat menarikan tarian Sang Hyang Dedari para penari tidak sadarkan diri atau kerawuhan (trance).

Mereka berjalan menari berlenggak-lenggok, memanjat bambu layaknya sesorang Dedari yang terbang melilit dibambu dengan mata terpejam seolah-olah ada yang menuntun hal tersebut.

Pada saat tapakan (penari) melakukan pedudusan juga terdapat iringan gending (nyanyian) yang dilantunkan oleh warga Geriana Kauh

Puluhan Wanita juga turut membawakan lagu-lagu rohani sebagai upaya untuk memikat roh suci agar masuk ke dalam jiwa para penari. Dimulai dengan suara rendah dan tempo santai, proses pedudusan diiringi nyanyian kidung.

Selain itu, tempo iringan musik tarian seremonial dipercepat seiring dengan volume vokal. Penari akhirnya kehilangan kesadaran, kepala penari bergerak mengikuti irama gending.

Baca Juga: Diduga Terlibat Kejahatan Siber dan Penyuapan di Negaranya, WNA Rusia Diekstradisi dari Bali

Penari kemudian bangun dengan keadaan tak sadarkan diri dan melakukan tarian dengan mata tertutup.

Para penari terus menari dalam keadaan tidak sadarkan diri, memutar tubuh dan memejamkan mata saat lagu kidung dinyanyikan dengan volume yang lebih tinggi dan kecepatan yang lebih cepat.

Rupanya penari itu pingsan begitu roh suci masuk ke tubuhnya. Namun, biasanya hanya satu penari dari tujuh penari yang gagal.

Para penari kemudian digiring ke perempatan desa agar bisa mempersiapkan masolah (menari).

Lagu dinyanyikan berulang-ulang kali sampai penari Sang Hyang Dedari nadi atau kerauhan (trance). Ciri-ciri penari Sang Hyang Dedari nadi atau kerauhan yaitu mereka memejamkan mata dan langsung tidak sadarkan diri. Tubuh perani ini seketika menari meliuk-liuk menari-nari dengan lincah menyerupai Sang Hyang Dedari.

Masolah merupakan inti dari pelaksanaan pementasan Sang Hyang Dedari. Masolah berlangsung ketika penari sudah nadi atau kerauhan (trance).

Pada saat ini para tapakan (penari) Sang Hyang Dedari akan melakukan aktifitas tariannya sesuai dengan gending yang dilantunkan oleh warga masyarakat Desa Adat Keriana Kauh.

Di persimpangan jalan desa, dua tiang bambu telah didirikan sangat tinggi.

Para seniman tanpa disadari menari dengan mata terpejam memanjat batang bambu, dari puncak bambu mereka menari lagi mengikuti nyanyian yang dilantunkan.

Hal ini membuat penonton tegang. Keteganganpun terjadi karena anak-anak usia sekolah dasar belum terbiasa memanjat bambu.

Namun, mereka secara efektif memanjat, dalam keadaan apa pun, bergerak dengan mulus di titik tertinggi batang bambu. Menarilah sesuai dengan suasana lagu, dengan getaran religius yang ketat.

Baca Juga: Bupati Kembang Soroti Kondisi Stadion Pecangakan, Instruksikan Perbaikan Ringan

Tanpa disadari, ketika penari Sang Hyang Dedari sedang bergerak di perempatan jalan dan orang banyak juga dibius oleh tarian batin, tiba-tiba keenam seniman itu tampak menghilang dengan luar biasa.

Mereka melintasi jalan yang gelap menuju Candi Pajenengan yang gelap di antara pepohonan bambu.

“Maka massa dan aparat Desa Adat Geriana Kauh, lari ke Pura Pajenengan Ketika melakukan mesolah pada saat Sang Hyang Dedari memenjat dan melilit di atas bambu, tapakan (penari) menari dengan sangat lincah mengikuti gandingan,” sebutnya.

Inilah yang membawa keyakinan khususnya bagi masyarakat Desa Adat Geriana Kauh akan besarnya kekuatan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasinya, hal ini terlihat adanya sifat-sifat Tuhan dalam setiap pementasan tari Sang Hyang Dedari.

Seperti tak terbasahkan oleh air, tak terlukai oleh senjata. Ketika nyolahang ini berlangsung warga juga melantunkan gending-gendingan untuk mengiringi prosesi nyolahang tari Sang Hyang Dedari.

Baca Juga: Bali Terancam Lautan Sampah, Gubernur Koster Beri Ultimatum Keras ke Kepala Desa

Berdasarkan beberapa gendingan atau nyanyian yang dilaksanakan pada pementasan tari Sang Hyang Dedari adalah untuk mengiringi tarian para dedari yang hadir dalam tubuh penari.

Penari akan menari sesuai dengan lantunan gendingan yang dibawakan oleh masyarakat Desa Adat Geriana Kauh.

Rangkaian prosesi pementasan tari Sang Hyang Dedari yaitu penyineban. Nyineb merupakan tahapan terakhir dari rangkaian pementasan tari Sang Hyang Dedari yang berada di Desa Adat Geriana Kauh. Prosesi ini sebagai penutup dari rangkaian pementasan tari Sang Hyang Dedari. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Geriana Kauh #sang hyang dedari #karangasem #tari #sasih kedasa