Uniknya, pura yang berada di Jalan Pura No 300, Desa Plumbon, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul ini menjadi simbol moderasi beragama. Pasalnya, ada banyak diskusi lintas agama sering dilaksanakan di pura ini.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) saat nangkil bertepatan dengan Purnama pada Kamis (10/7) lalu, pemedek yang nangkil datang silih berganti sejak siang hari.
Kemudian, puncak keramaian terjadi saat malam hari. Para pemedek yang nangkil datang dari berbagai wilayah di Yogyakarta untuk melaksanakan persembahyangan bersama.
Pura Banguntapan ini dibangun dengan arsitektur Bali. Pasalnya, arsitek dari pura ini berasal dari Bali. Pura Banguntapan memiliki konsep Tri Mandala.
Pada areal Nista mandala terdapat wantilan yang digunakan untuk aktifitas sosial masyarakat. Seperti rapat dan kegiatan lainnya.
Kemudian di areal madya mandala juga terdapat seperti bale gong yang digunakan untuk mendukung aktifitas upacara keagamaan. Kemudian di areal utama mandala terdapat tiga pelinggih utama.
Baca Juga: Buntut Intimidasi Jurnalis, Polwan Polda Bali Didemosi ke Bangli
Seperti pelinggih Padmasana, Bale Pepelik dan Pelinggih Kanjeng Ratu. Selain itu, juga ditemukan semacam wantilan yang digunakan untuk tempat persembahyangan.
Menurut pengempon Pura, Mujirah pura ini diresmikan pada tahun 1975 oleh Wakil Gubernur DIY. Pura ini lambat laun kian ramai mengingat sesuai dengan perkenbangan penduduk di kawasan itu.
Terlebih, pemedek yang nangkil ke pura itu juga didominasi oleh kalangan mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Gudeg, Yogyakarta.
Bahkan, saat persembahyangan pujawali di pura ini dilaksanakan dalam beberapa gelombang, mengingat pemedek yang membludak.
Baca Juga: Pria 67 Tahun di Bangli Tak Tertolong setelah Jatuh dari Pohon Setinggi 20 Meter
“Pujawali dilaksanakan saat Purnama Kapat. Ini dilaksanakan sejak tahun 2019. Nah, sebelum Ngenteglinggih, dahulu piodalan dilaksanakan saat galungan, setelah ngenteg linggih dilaksanakan saat Purnama Kapat,” kata Mujirah kepada Bali Express.
Dikatakan Mujirah, Umat Hindu yang datang dari berbagai wilayah, termasuk para mahasiswa yang sedang kuliah di kawasan Yogyakarta.
Apalagi saat purnama tilem dan galungan, umat Hindu yang nangkil cukup ramai.
“Kalau Umat Hindu yang ada di kawasan Banguntapan sekitar 300 Kepala Keluarga. Disini juga ada blok plumban, pesanggaran, dan rutin pertemuannya untuk terlibat dalam kegiatan ngayah saat pujawali,” paparnya.
Sementara itu, Saruda selaku pengempon Pura Banguntapan menambahkan, keberadaan pura ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat melaksanakan persembahyangan dan aktifitas ritual lainnya bagi Umat Hindu.
Tetapi juga dilaksanakan berbagai kegiatan pertemuan dengan umat lainnya di kawasan Banguntapan. Tidak mengherankan, jika Pura Banguntapan menjadi simbol moderasi beragama.
Baca Juga: LAGI-LAGI REM BLONG! Truk Tronton Libas Tiga Unit Mobil di Sebelah Timur Pasar Sayur Baturiti
“Kehidupan bermasyarakat di pura ini menjadi kekuatan moderasi. Sehingga kampung ini mendapat penghargaan juara dua sebagai kampung moderasi. Karena saat kegiatan melibatkan umat lain. Misal, sarasehan lintas iman dan budaya dengan mengundang tokoh agama dari Islam, Budha, Katolik, dan lainnya,” sebutnya.
Saat pujawali pada Purnama Sasih Kapat, Umat Hindu yang ngayah di Pura Banguntapan itu berbondong-bondong untuk melasti saat di Pantai Gunung Kidul maupun di kawasan Pantai Parangkusumo.
Ia menjelaskan, saat ini ada empat orang pemangku yang ngayah di pura ini. Selain itu, Sulinggih yang muput ketika pujawali juga didatangkan dari Bali maupun dari wilayah Jogjakarta. (dik)
Editor : I Putu Mardika