Dalam konteks istilah suku kalih (kaki dua), suku tungga (kaki satu), dan tanpa suku (tanpa kaki), biasanya dikaitkan dengan konsep lain dalam agama Hindu, yaitu Sakala (suku kalih), Pantara (suku tunggal), dan Niskala (tanpa kaki).
Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan usai pembakaran jenazah di pemuun, lalu yang bertujuan mempercepat pengembalian panca mahabuta (pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa), lalu langkah selanjutnya dibuatkan medium atau simbol untuk stana panca tanmatra (rasa, rupa, separsa, ganda, dan sabda).
Inilah yang disebut dengan suku tunggal. Ada sejumlah kelengkapan dan proses membuat suku tunggal. Disiapkan payuk yang di dalamnya dirajah dengan padma, diisi dengan bunga berwarna-warni dan harum, dan diisi air.
Tulang-tulang sisa pembakaran jenazah, sekalipun telah dicuci bersih, kembali disaring dengan menggunakan kain kasa. “Tentu prosesi ini dilakukan oleh pihak keluarga,” kata Wiradnyana.
Setelah tulang-tulang itu bersih, kembali tulang itu dipungut dengan menggunakan sumpit atau sepit dalam Bahasa Bali dan dicuci kembali dengan air kumpuman.
Selanjutnya tulang yang telah bersih ditaruh dalam telujungan dauh pisang kayu (don biu kayu) seperti susunan tubuh manusia.
Tulang kepala ditaruh sebagai kepala, tulang badan ditaruh di bagian badan, dan tulang kaki ditempatkan di bagian kaki dari media atau simbol yang direkonstruksi seperti badan manusia.
“Tulang kepada disupit menyerupai kepala, begitu selanjutnya disusun seperti menyerupai orang-orangan,” katanya.
Ada perbedaan penting yang harus diketahui tentang hal ini, yaitu kalau yang diaben itu Walaka, maka medianya dibuat dalam bentuk badan manusia. Akan tetapi yang yang diaben itu Sulinggih, maka media dalam bentuk suku tunggal dibuat dalam bentuk menyerupai padma.
Ia menjelaskan, setelah tersusun tulang menyerupai miniatur tubuh manusia, maka di atasnya kemudian ditutup dengan pangrekaan tulang yang disebut panca layuan.
Di atas pangrekaan tulang kemudian ditaruh lima kayu peselan setengah layu dan disusun menyerupai tubuh manusia dan pada setiap bagian diisi dengan kuwangen. Setelah itu ditutupi dengan tiga kreb sinom yang terbuat dari bangsah buah.
Satu di bagian bawah berwarna merah, di bagian tengah diisi Bungan hijau, dan di bagian atas diisi bunga putih. “Ini melambangkan Bhur, Bwah dan Swah,” sebutnya.
Proses ini disebut ngereka atau membentuk wujud baru sebagai bagian dari Utpeti. Setelah para keluarga melaksanakan sembah pengutpetian atau proses utpeti, barulah dihaturkan sodaan.
Setelah itu, baru disiapkan proses nyupit galih dan ngereka dengan menyiapkan seseden yang telah dirajah padma. Perlu dicatat, jika yang direka itu laki-laki, maka gambar padma ujungnya lancip.
Sementara jika yang diaben perempuan, maka ujung rerajahan bulat. Baru kemudian dilanjutkan dengan proses nguyeg.
Setiap orang yang nguyeg, tangan kanannya dililiti benang satakan. Tulang-tulang diulek sampai halus dengan pengulegan terbuat dari tebu cemeng dan kayu dadap-kayu keabadian.
“Prosesi nguyeg itu sampai halus. Kemudian penggunaan tebu juga dimaknai sebagai semakin tua, maka semakin semakin memiliki guna atau semakin manis,” ungkapnya.
Selanjutnya siapkan bungkak kelapa gading untuk wadah seluruh abu orang yang diaben. Setelah itu baru kemudian membuat suku Tunggal, terdiri dari kelapa nyuh gading, upih (daun pinang) dan sekarang telah digunakan kertas karton, lalu disiapkan bunga suku Tunggal, kuwangen suku tunggal, dan kain.
“Setelah semua tulang masuk ke dalam bungkak gading, maka selanjutnya disakralisasi dengan ongkara aksara modre,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika