Perjalanan suci Dang Hyang Nirartha tidak hanya terekam di Pura Uluwatu, Pura Gunung Payuung. Tetapi juga di Pura Dalem Goa Batu, yang dahulu dijadikan sebagai tempat melakukan yoga semadhi.
Konon, di pura inilah Dang Hyang Nirartha mendirikan pasraman dan bertapa. Memusatkan pikiran untuk mendapatkan pencerahan dari Sang Pencipta. Pasraman beliau kini disebut Pura Taman Sari. Sedangkan, tempat bertapanya disebut Pura Dalem Batu Pageh.
Bukti ini terlihat dari keberadaan batu lingga raksasa yang berada di dalam Goa. Lingga ini diyakini sebagai pagehan atau pagar jagat yang membentengi.
Pura ini berlokasi di sebuah tebing pinggir pantai yang eksotis di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Pura Dalem Goa Batu Pageh dapat diakses sekitar 50 menit dari Kota Denpasar dengan berbagai moda transportasi. Kawasan ini berada di areal Pantai Batu Page atau Pantai Green Bowl.
Pemangku Pura Dalem Batu Pageh, Jero Mangku Wayan Ngara menjelaskan Pura Batu Pageh bertalian dengan Pura Taman Sari, Pura Pingit Dalem Segara, Pura Dalem Kepandean, Pura Ratu Gede Dalem Segara yang secara lokasi berdekatan.
Sebab, pemedek yang nangkil menjadikan satu rangkaian untuk melakukan persembahyangan.
Baca Juga: DPRD Karangasem Sepakati RPJMD Semesta Berencana 2025–2029
Sebelum ke Pura Dalem Batu Pageh pemedek terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan di Pura Taman Sari. Di Pura ini berstana Ida Ratu Biang Agung. Pemedek harus memohon ijin agar diberikan kelancaran untuk nangkil ke Pura Dalem Batu Pageh.
Pura Taman Sari ini merupakan pasraman dari Dang Hyang Nirartha. Hanya saja, pemedek harus waspada dengan keberadaan monyet di areal pura. Sebab, jika lengah, maka segala sarana bisa disergap oleh
Setelah di Pura Taman Sari dilanjutkan dengan Pura Pingit Dalem Segara Batu Pageh. Pemedek harus menuruni anak tangga untuk menjangkau pura ini. Pemedek bisa menikmati suasana di pinggih Pantai dengan angin sepoi yang begitu sejuk.
Baca Juga: 55 Narapidana di Bali Ikuti Perkemahan Sehari di Lapas Karangasem
Di areal Pura Pingit Dalem Segara, pemedek bisa melaksanakan persembahyangan. Di areal ini terdapat pelinggih Bunda Ratu Segara Kidul. Menurutnya disarankan agar tidak nangkil sendirian ke pura ini.
Di areal pura juga terdapat Ida Ratu Gede Dalem Ped, Pelinggih Ratu Niang Lingsir, Pelinggih Ida Ratu Hyang Basuki, Pelinggih Hyang Ibu dan Payoga Ida Bhatara Wisnu.
Usai di Pura Pingit Dalem Segara, kemudian dilanjutkan bersembahyang di Pelinggih Ratu Gede Kepandean. Pelinggih ini merupakan tempat memohon taksu seperti keris. Tak heran, banyak rohaniawan yang nangkil untuk memohon taksu di Pelinggihg Ratu Gede Kepandean.
“Kalau memohon taksu untuk keris, senjata, bisa nangkil ke Pura Ratu Gede Kepandean,” katanya.
Persembahyangan selanjutnya dilakukan di Pura Ratu Gede Dalem Segara. Di Pura ini terdapat Pratima yang menyerupai topeng. Selain itu terdapat Pratima berbentuk ikan bersayap dan singa.
Keberadaan kedua Pratima dengan berbentuk ikan bersayap dan singa erat dengan kisah perjalanan Ida Ratu Gede Mas Mecaling. Dikisahkan, Ida Ratu Gede Mas Mecaling yang berstana di Dalem Ped Nusa Penida, hendak melancarakan ke Pulau Bali.
Namun karena terhalang lautan, Beliau akhirnya dibantu oleh seekor Ikan Kembung yang bersayap.
Jika sudah tuntas melaksanakan persembahyangan di Pura Ratu Dalem Segara, barulah dilanjutkan persembahyangan ke Pura Dalem Batu Pageh.
Jro Mangku Ngara menjelaskan, di Goa inilah sebagai tempat persemedian Dang Hyang Nirartha. Buktinya, terdapat Pratima dan sebuah batu besar di dalam goa sebagai tempat pertapaan dang Hyang Nirartha.
Baca Juga: Drama Gong 'Dalem Nusa' dari Klungkung Memukau Penonton di PKB XLVII
Ditemukannya tiga arca sebagai Pratima inti di pura Goa Batu Pageh menjelaskan asal usul dari pura ini. Diantaranya Pratima Penglingsir berbentuk kotak dengan ukiran khusus, Pratima Pemayun Kembar berbentuk patung macan kembar dan Pratima Ratu Gede Dalem Ped yang berbentuk kotak menyerupai topeng.
Ia menyebut yang berstana di Pura Dalem Batu Pageh adalah Ida Bhatara Dalem Pemutering Jagat atau Dewa Siwa. Di Pura dalem Batu pageh disebut sebagai Sang Hyang Pemutering Jagat. Karena beliau memagari dunia ini. “Beliau diyakini memagari dunia ini,” singkatnya.
Usai melaksanakan persembahyangan di empat pura Pura Taman Sari, Pura Pingit Dalem Segara, Pura Dalem Kepandean, Pura Ratu Gede Dalem Segara maka bisa dilanjutkan di Pura Dalem Batu Pageh. Pemedek harus rela menaiki anak tangga untuk menjangkau pura ini.
Sebab, pura ini berada di tebing yang menyerupai goa. Saat memasuki areal tebing, suasana begitu hening. Meskipun sesekali terdengar suara kelelawar yang bergelantungan di dinding goa.
Namun yang lebih menakjubkan adalah pemandangan Samudra Hindia yang begitu membentang seolah memberikan kedamaian dilihat dari Pura dalem Batu Pageh.
Angin Sepoi yang mengelus tubuh kian membuat betah serta menguatkan vibrasi spiritual pemedek yang nangkil untuk bersembahyanga.
Baca Juga: RSU Dharma Yadnya Resmi Jadi BLUD Pemprov Bali, 199 Pegawai Ditetapkan sebagai Pegawai BLUD
Jro Mangku Ngara menjelaskan Jro Mangku Ngara menjelaskan sebelum sembahyang pemedek bisa terlebih dahulu melukat. Prosesi melukat dilakukan dengan memohon penyucian di Telaga Waja, lalu dilanjutkan dengan Ida Ratu Dalem Batu Pageh.
Dikatakan Mangku Ngara, keberadaan Air Telaga Waja ini memang unik. Ia muncul dari proses penggalian. Proses penggalian ia lakukan Bersama sang kakek, ketika sang kakek masih sebagai Janbanggul di Pura Dalem Batu Pageh.
“Berawal saat kakek saya jadi janbanggul. Dulu rata dengan tanah, kemudian digali dan keluar air karena berupa telaga yang begitu jernih. Sehingga banyak yang menggunakan untuk melukat, sakit non medis,” katanya.
Prosesi melukat ini unik. Karena tirta suci diambil dari telaga waja yang tak pernah kering. Tirta suci ini diyakini dapat melebur segala kekotoran di dalam diri dan meruwat dari sarwa mala, sehingga pemedek yang nangkil disarankan untuk melukat.
Penyembuhan di Pura Telaga Waja itu dilakukan berdasarkan penglukatan. Selain memohon penyucian diri adalah untuk penglukatan. Seperti bebainan yang berkaitan dengan non medis
“Bebai paling kentara. Dia ga akan berani kesana karena kepanasan. Kalau melukat jika kita tidak tahu dia sakit. Bisa jatuh ke belakang. Makanya sangat berhati-hati,” paparnya.
Baca Juga: Dibuka Wayan Koster, Jalur Denpasar-Gilimanuk di Bajera Tabanan Kembali Normal
Mangku Ngara juga tidak menampik jika di pura ini juga terdapat patung Budha tidur. Namun tidak sembarangan orang boleh masuk ke Payogan, karena sangat disakralkan, dan hanya bisa diantar jika ada petunjuk
“Banyak yang memimpikan, dan memberitahu, katanya batu di depan payogan Beliau adalah Hyang Budha tidur, ada yang membuktikan. Katanya itu linggih Ida Hyang Budha. Sehingga konsepnya disebut Siwa Budha,” sebutnya.
Di Payogan itu adalah Pelinggih Sang Hyang Embang. Kalau orang yang sudah melapskan dengan hal-hal keduniawiaan barulah diijinkan. Itupun kalau ada pawisik atau petunjuk. “Pujawali jatuh pada Jumat Kliwon Sungsang. Pujawali hanya satu hari saja,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika