Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Gunung Kawi Desa Tampaksiring: Dibangun abad ke XI, Sepuluh Candi Melambangkan Dasaksara

I Putu Mardika • Selasa, 22 Juli 2025 | 03:57 WIB

Candi Gunung Kawi di Desa Tampaksiring Gianyar
Candi Gunung Kawi di Desa Tampaksiring Gianyar
BALIEXPRESS.ID-Pura Gunung Kawi adalah salah satu Kahyangan jagat yang terletak di Desa Tampaksiring, sebuah desa yang terletak di daerah aliran sungai Petanu dan Pakerisan. Pura Gunung Kawi juga merupakan salah satu situs kepurbakalaan yang ada di Bali.

Secara administratif Pura Gunung Kawi terletak di dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Daerah ini letaknya sangat strategis, karena berada di daerah tujuan wisata yang dapat dicapai melalui rute wisata Denpasar - Kintamani.

Jarak dari Denpasar kurang lebih 40 km dan dari Kota Gianyar jaraknya kurang lebih 17 km, tepatnya di sebelah utara perempatan pasar Desa Tampaksiring berbelok ke kanan sesuai dengan papan nama obyek wisata yang terpasang di sebelah kanan jalan

Sebelum memasuki areal Pura Gunung Kawi terdapat fasilitas tempat parkir khusus untuk pengunjung dan di sekitarnya terdapat kios kesenian yang menjual bermacam-macam barang kesenian hasil kerajinan masyarakat desa Tampaksiring dan sekitamya.

Dari tempat parkir menuju ke Pura Gunung Kawi melalui tangga yang curam menelusuri tebing sunga1 Pakerisan.

Secara topografis daerah lingkungan sekitar Pura Gunung Kawi mempunyai kemiringan permukaan tanah yang cukup curam.

Kemiringan ini membentuk permukaan tanah sawah di sekitarnya menjadi terasering yang indah.

Pura Gunung Kawi terletak di sebelah barat dan Timur sungai yang dihubungkan jembatan kecil untuk pejalan kaki yang dibuat atas ide Presiden Sukarno.

Dari jembatan kecil ini pengunjung dapat menikmati air sungai Pakerisan yang jemih mengalir di sela-sela bebatuan. Di bagian Utara Pura Gunung Kawi terdapat kelompok lima candi dan beberapa ceruk.

Kelima buah candi ini menghadap ke Barat dan dipahatkan pada tebing batu padas setinggi kurang lebih 10 meter. Di sebelah Barat sungai terdapat kelompok empat candi yang dipahatkan pada tebing batu padas menghadap ke Timur

Nama Gunung Kawi diartikan sebagai buatan, jadi nama Gunung Kawi ini bermakna gunung yang dibuat. Sudah tentu yang dimaksud Gunung dalam hal ini adalah Candi itu sendiri yang memang merupakan lambang gunung.

Di depan tiap-tiap candi terdapat pancuran air, tetapi pancuran yang masih mengalir sampai saat ini hanya dua buah pancuran yaitu di Candi (No. 1) dan Candi (No. 10). Tampaknya pancuran di depan candi yang lain sejak beberapa tahun terakhir tidak dialirkan lagi karena secara teknis diperkirakan dapat mempercepat proses pelapukan batu di bagian bawah candi.

Secara geologis gunung dengan hutannya memang merupakan sumber mata air sebagai sumber kehidupan alam semesta.

Pemangku Pura Gunung Kawi Jero Mangku Gede Gunung Kawi mengatakan pemah mendapat penjelasan dari sesepuh Puri Tampaksiring bahwa sepuluh buah candi yang ada di Pura Gunung Kawi melambangkan sepuluh aksara suci dalam agama Hindu disebut "Dasaksara " (Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya).

Penggabungan dari sepuluh aksara suci ini menjadi aksara suci "Ongkara " sebagai lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran agama Hindu. Terkait dengan hal ini candi (No.10) dianggap sebagai pemujaan Siwa (Bagawanta Kerajaan).

Jauh di bagian selatan terdapat satu buah candi yang juga dipahatkan pada tebing menghadap ke Utara. Secara keseluruhan tampak bahwa semua candi tebing Gunung Kawi mempunyai orientasi arah hadap ke sungai Pakerisan.

Di depan candi Tebing Gunung Kawi masing-masing terdapat sebuah pancoran. Di bagian sebelah Timur Pura Gunung Kawi terdapat wihara yang terdiri dari beberapa sumber air suci.

Untuk memasuki wihara melalui sebuah gapura yang di depannya diapit dua buah pelinggil Bale Pelik

Di dalam wihara ini terdapat Goa Pertapaan, beberapa ceruk yang mirip dengan tata ruang rumah tinggal tradisional Bali.

Di dalam wihara ini terdapat air suci yang disebut Tirta Langse dan di dalam sebuah goa yang sangat dikeramatkan Juga terdapat air suci yang disebut Tirta Coblong.

Candi Tebing Gunung Kawi diperkirakan dibuat pada abad XI dan diduga sebagai "Pedarman" Raja Dharmadayana Warmadewa.

Hal ini diperkirakan berdasarkan adanya tulisan kuna (huruf Kadiri Quadrat) pacta kelompok lima candi.

Di atas pintu semu Candi satu kelompok lima candi ini terdapat tulisan yang berbunyi "Haji Lumahing Jalu" yang artinya Sang Raja yang didarmakan di Jalu.

Yang dimaksud dengan raja dalam hal ini adalah raja Udayana, sedangkan nama Jalu artinya "Keris" atau Pakerisan.

Dugaan ini diperkuat dengan adanya tulisan kuna pada candi berikutnya yang juga ditulis dengan huruf kuna Kadiri Quadrat yang berbunyi "R wanakira" yang artinya dua putra beliau yaitu Marakat dan Anak Wungsu dan dua candi berikutnya diperkirakan untuk permaisuri raja.

Sedangkan empat candi yang ada di sebelah Barat sungai adalah untuk para selir raja dan satu lagi candi di sebelah Selatan adalah untuk Senapati atau mahapatih kerajaan mengingat adanya tulisan yang berbunyi "Kryan" yang artinya Patih.

Dalam prasasti Tengkulak disebutkan bahwa raja Udayana membangun pasraman Dharma Amarawati di tepi sungai Pakerisan.

Raja Udayana diperkirakan memerintah Bali mulai tahun 989 M sampai tahun 1020 M (yang kemudian ke Jawa Timur) dan mempunyai putra Erlangga dari permaisurinya Gunapriyadharrnapatni.

Dua orang putra yang lain adalah Marakata dan Anak Wungsu yang kemudian menjadi raja di Bali. Sampai saat ini sudah ditemukan sekitar 70 prasasti yang dikeluarkan dari masa pemerintahan Anak Wungsu

Pura Gunung Kawi termasuk Kahyangan Jagat yang fungsi utamanya sebagai tempat suci urnat Hindu, khususnya di Tampaksiring dan masyarakat Bali pada urnurnnya.

Selain fungsi utama sebagai Kahyangan Jagat, pura Gunung Kawi juga diyakini oleh masyarakat mempunyai fungsi khusus seperti tempat melakukan "Tirta Yatra", melakukan tapa semadhi dan fungsi sosial lainnya.

Uniknya, ada beberapa mata air suci yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda

Air Suci Tirta Pengelukatan Berfungsi untuk pembersihan atau penyuctan baik untuk urnat maupun untuk semua sarana dan prasarana yang akan dipakai perlengkapan upacara

“Kalau Tirta Susu terletak di bawah pohon beringin di sungai Pakerisan. Fungsinya adalah untuk memohon terutama bagi ibu-ibu yang melahirkan agar air susu ibu (ASI) keluar dengan sehat dan cukup untuk menyusui bayinya,” paparnya.

Tirta Surya Air suci ini juga terdapat dibawah pohon beringin berdekatan dengan Tirta Susu. Fungsinya adalah untuk memohon pengobatan untuk penyakit mata (mata merah).

Kemudian Tirta Sakti Air suci ini terletak di Pura Puncak yang berada di atas sebelah Timur Pura dan fungsinya adalah untuk memohon agar terhindar dari pengaruh kejahatan misal ilmu hitarn (Aji Ugig).

Tirta Langse merupakan Air suci yang keluar dari tetesan atap ceruk pertapan yang fungsinya untuk memohon perlindungan agar pekarangan terhindar dari kekuatan jahat dengan "sengker" atau pagar dari Tirta Langse.

Tirta Coblong Air suci ini terdapat di dalam goa keramat dan hanya dipakai pada saat berlangsungnya upacara di Pura Gunung Kawi.

“Adapun goa-goa yang ada di pertapaan sangat dikeramatkan dan tertutup untuk umum terkecuali kepada mereka yang akan melakukan ritual khusus (semadi) yang dipandu oleh Pemangku Pura,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#gianyar #gunung kawi #hindu #pura #tampaksiring