Selama delapan hari penuh, berbagai tahapan ritual dijalankan secara berurutan sesuai tradisi, dengan melibatkan krama adat, pengempon pura, kelompok dasawisma, serta seluruh komponen banjar adat setempat.
Ketua Panitia Pujawali, Ketut Suardita, M.Pd menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali pada Redite Pon, 20 Juli 2025, dengan prosesi ngarantasin dan ngemedalang gong oleh krama adat lanang.
Pada waktu bersamaan, krama adat istri melaksanakan makarya sanganan dan patandingan. Malam harinya, suasana spiritual diperkuat melalui acara Munggah Sekar sebagai permulaan prosesi pujawali.
Keesokan harinya, Soma Wage, 21 Juli 2025, dilanjutkan dengan kegiatan makarya sanganan dan patandingan banten. Krama adat lanang turut serta dalam pelaksanaan caru nyate dan nampah siap, yang merupakan bagian dari upaya penyucian sebelum acara piodalan utama.
Pada Anggara Kliwon, 22 Juli 2025, suasana pura semakin sakral dengan pelaksanaan pecaruan, Eka Sate, dan ngerobek ring pura.
Kegiatan ini mencakup penyucian seluruh kawasan suci seperti Pura Taman, Lesung, dan pelinggih lain, disertai nunas prayascitta sebagai penebusan untuk membersihkan energi negatif.
Kemudian pada Buda Manis atau Rabu (23/7), saat krama adat melangsungkan Ngaturang Piuning ke lima pura utama di sekitar wilayah diantaranya Pura Teluk Terima, Pura Penghulu Gobleg, Pura Labuhan Haji, Pura Pulaki, dan Banjar Sekar.
Malam harinya, dilangsungkan ritual Nedunang Mayelingga Ida Bhatara ke pura utama, yang menjadi momen sakral untuk menyambut kehadiran simbolis energi suci Ida Bhatara.
Puncaknya, pada Wraspati Paing, Kamis (24/7) prosesi dimulai sejak pagi dengan Mendak, Mekalakih, Hiyas, dan Mebiji ke Pura Taman. Rangkaian piodalan ini diiringi oleh Rejang Dewa, pamuputan, serta pakaian adat lanang istri.
“Persembahyangan umum menjadi puncak piodalan dengan pemedek yang nangkil tidak hanya dari kalianget, tetapi dari pelosok Bali,” ujar mantan Pembimas Kepri Dirijen Bimas Hindu ini.
Selanjutnya, pada Sukra Pon dan Saniscara Wage, 25–26 Juli 2025, malam hari diisi dengan Bakti Penganyar oleh krama adat dari berbagai banjar.
Kegiatan ini dipimpin oleh para pemangku dan pengurus adat seperti Jro Mangku Kahyangan dan Pengempon.
Rangkaian ditutup pada Redite Kliwon Bala, (27/7), dengan upacara Ngaturang Penerus ke Segara Desa Adat Kalangget. Kegiatan berlangsung sejak pagi pukul 07.00 WITA dan diakhiri sore harinya pukul 17.00 WITA.
Dalam prosesi ini, hadir pula simbol-simbol perempuan adat, penekang, tari rejang, serta pengelabkar dan nyineb sebagai penanda usainya pujawali secara resmi.
Seluruh tahapan pujawali dikoordinasi secara gotong royong oleh pengempon pura, termasuk Jro Mangku Kahyangan dan Dadia, Jro Mangku Pengempon, Srat Banten, serta Kelompok Pengoreh Yadnya.
Keterlibatan aktif krama adat menunjukkan semangat kebersamaan dan keberlanjutan warisan tradisi Bali.
Suardita menambahkan, rangkaian tahun ini tidak hanya berfokus pada aspek ritual semata, tetapi juga memperkuat rasa spirit menyamabraya antarbanjar dan menanamkan nilai-nilai ngayah bagi generasi muda.
“Truna-truni pun dilibatkan dalam tarian Rejang dan pamuputan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika