Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pucak Cemara Geseng: Berada di Ketinggian 1184 Meter, Ada Tradisi Mekawes

I Putu Mardika • Rabu, 30 Juli 2025 | 03:23 WIB

Pura Pucak Cemara Geseng
Pura Pucak Cemara Geseng
BALIEXPRESS.ID-Pura Pucak Cemara Geseng memang berada di perbukitan. Namun, pura ini memiliki vibrasi spiritual yang tinggi, sehingga acapkali didatangi pemedek untuk bermeditasi dan melaksanakan persembahyangan.

Secara geografis, Pura Pucak Cemara Geseng ini berada di ketinggian perbukitan, yang ketinggiannya itu mencapai 1184 M dari permukaan laut. Karena berada di ketinggian, pura ini memiliki udara yang sejuk dan cenderung dingin.

Ada empat  jalur yang dapat dilalui ketika menuju Pura Pucak Cemara Geseng diantaranya ada jalur timur yang biasa dilewati masyarakat Lemukih, jalur utara yang biasa dilewati masyarakat Sudaji, jalur barat yang biasa dilewati masyarakat silangjana, dan jalur selatan merupakan jalur yang paling jarang di lewati oleh pengempon.

Meski harus melewati jalur yang terjal, namun tidak menyurutkan niat pemedek untuk nangkil ke pura ini.

Gede Widiarta selaku pengempon Pura Pucak Cemara Geseng menjelaskan jika pura ini disungsung oleh tiga desa adat, yaitu Desa Adat Lemukih, Desa Adat Sudaji, dan Desa Adat Silangjana, dari ketiga desa adat ini terletak di Kecamatan Sawan, Buleleng.

Ketiga desa adat ini jug memiliki masing-masing pelinggih yang disembah di Pura Pucak Cemara Geseng serta hari piodalan yang berbeda di setiap desa adat.

Struktur Pura Pucak Cemara Geseng di Desa Lemukih, terdiri dari tiga bagian tempat atau di kenal dengan tri mandala.

Baca Juga: Semester I Tahun 2025, ACC Catat Pertumbuhan Positif Pembiayaan Mobil Baru

Diantaranya nista mandala tempat pendirian pondok yang berfungsi sebagai tempat tinggal/ beristirahat masyarakat, madya mandala terdapat bale gong yang berfungsi sebagai tempat megambel untuk mengiringin pelaksanaan piodalan,

Bale saya yang berfungsi sebagai tempat mempersiapkan upakara-upakara atau perlengkapan lainnya, bale linggih desa enam dasa yang berfungsi sebagai tempat menataan kawes untuk persembahan, dan pelinggih ancangan sebagai tempat pemujaan buta-kala di Pura Pucak Cemara Geseng.

Sedangkan, pada bagian utama mandala merupakan tempat yang paling disucikan karena didalamnya terdapat pelinggih-pelinggih utama yang disembah oleh tiga desa adat.

Adapun pelinggih-pelinggih utama yang ada di Pura Pucak Cemara Geseng yang diyakini serta disungsung oleh pengempon tiga desa adat, yakni Dua buah pelinggih sebagai simbol lanang-Istri yang terletak di bagian barat Pura Pucak Cemara Gesen.

Serta pelinggihnya menghadap ke timur merupakan pelinggih yang disungsung (sembah) oleh pengempon Desa Adat Lemukih yang diyakini sebagai tempat berstana Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Ida Batara Lingsir.

Baca Juga: Astra Motor Berkolaborasi dengan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dalam Pengolahan Sampah Botol Plastik

Dua buah pelinggih sebagai simbol lanang-istri yang terletak di bagian timur Pura Pucak Cemara Geseng serta pelinggihnya menghadap ke utara merupakan pelinggih yang disungsung (sembah) oleh pengempon Desa Adat Sudaji yang diyakini sebagai tempat berstana Tuhan atau manifestasinya sebagai Ida Batara Ngurah Bukit atau beliau juga dikenal dengan sebutan Ida Lingsir Pranda.

Bagian Selatan antara pelinggih yang disungsung oleh pengempon Desa Adat Lemukih dan Sudaji, dibagian selatanya terdapat lima pelinggih yang disungsung (sembah) oleh pengempon Desa Adat Silangjana, kelima pelinggihnya ini diantaranya dua pelinggih ulun danu, pelinggih arak api, pelinggih subak, dan pelinggih penyarikan

Ketiga desa adat ini sangat menyakini keberadaan Pura Pucak Cemara Geseng sebagai tempat menghubungan diri manusia dengan Tuhan serta juga sebagai tempat nunas sari atau memohon kemakmuran.

“Pujawali di Pura Pucak Cemara Geseng berlasung dua hari satu malam. Prosesinya diawali dari mendak (memanggil) Ida Sesuhunan yang disembah di Pura Pucak Cemara Geseng dengan menggunakan upakara banten pengelisan yang didalamnya berisi mata-mataan yang mengandung makna sebagai peresmian piodalan,” ungkapnya.

Kedua persembahyangan inti dengan menghaturkan (mempersembahkan) banten utama atau khusus yaitu banten soroh piodal wangun urip yang merupakan banten jangkep (lengkap) yang biasa dipersembahkan ketika pelaksanaan piodalan di Pura Pucak Cemara Geseng, dan esok harinya atau hari ke dua.

Baca Juga: Gadis Jegeg asal Klungkung Ini Wakili Indonesia di Ajang Miss Teen Tourism 2025

Tepatnya pada pagi hari sebelum matahari terbit akan dilaksanakannya penunasan tirta kekuluh serta di barengin dengan penunasan daun cemara, dan daun temblun, yang dilakukan oleh Jro Mangku Bukit, truna-truna desa adat, dan pecalang yang bertugas.

Penunasan daun cemara dan daun temblun ini akan difungsikan sebagai alat pemercikan tirta oleh pengempon. Selain sebagai alat pemercikan tirta, daun cemara dan temblun yang di tunas (ambil) di Pura Pucak Cemara Geseng juga mengandung makna sebagai ciri khas bahwa tirta tersebut berasal dari Pura Pucak Cemara Geseng di Desa Lemukih, serta upacaranya ini dilakukan dengan menggunakan upakara banten penunasan.

Tradisi mecacar kawes yaitu penataan nasi yang didalamnya berisi lauklauk seperti kacang kara, lawar, sate, jukut, serta daun sirih atau porosan.

Sarana inilah yang akan digunakan sebagai upakara persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi pada saat piodalan serta akan di tunas atau diambil ketika pelaksanaan piodalan sudah selesai atau puput.

Ia menambahkan, Selain mecacar kawes ada juga tradisi nunas kawes yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Desa Adat Lemukih ketika pelaksanaan piodalan selesai dilakukan. Penunasan kawes ini juga bermakna sebagai nunas paica (anugrah) dari Tuhan.

Ada beberapa jenis kawes yang ada di Desa Lemukih yaitu kawes desa nyamping, diperuntukan untuk masyarakat Desa Adat Lemukih yang masih berstatus di desa adat desa nyamping.

Kawes desa enam dasa, untuk masyarakat desa adat yang sudah melinggih (berstatus) di bale dawa yang jumlahnya 60 orang terdiri dari: jro pasek 2 orang, jro mangku 2 orang, jro penyarikan 2 orang, jro kubayan 4 orang, jro bau 2 orang serta sisanya adalah orang-orang yang paling tua sehingga berjumbelah enam dasa atau enam puluh orang.

Baca Juga: Siksa Pria Berhari-Hari, Buang Jasadnya ke Jurang, 3 Emak-Emak di Bali Disidang

Ada juga kawes truna-pesaren, untuk remaja laki-laki dan perempuan yang berstatus truna-truni di adat dan kawes pangubakti, diperuntukan kepada merekan semua yang melakukan persembahyangan baik itu masyarakat adat Lemukih ataupun masyarakat luar Desa Adat Lemukih yang bersembahyang.

Kawes yang ditunas pada saat upacara yajña selesai dilakukan merupakan makanan yang diyakini sebagai berkat yang diberikan oleh Ida Sesuhunan atau Tuhan, yang biasa juga disebut paica. Paica ini didalamnya berisi nasi, lawar, kacang kara, dan base porosan atau daun sirih” (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#hindu #pura #tradisi #Cemara Geseng