Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakralnya Pelinggih Ida Bhatara Bagus Kebo Iwa di Desa Bedha, Berdiri Kokoh di Madya Mandala Pura Puseh

I Putu Mardika • Kamis, 31 Juli 2025 | 04:49 WIB

Pelinggih Ida Bhatara Bagus Kebo Iwa di Desa Bedha, Kecamatan Kerambitan, Tabanan
Pelinggih Ida Bhatara Bagus Kebo Iwa di Desa Bedha, Kecamatan Kerambitan, Tabanan
BALIEXPRESS.ID-Desa Bedha Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, menyimpan sebuah tradisi unik yang tidak ditemukan di desa adat lainnya di Bali.

Di desa ini, masyarakat setempat memuliakan sosok Kebo Iwa sebagai pelindung melalui pemujaan di Pura Puseh.

Tokoh masyarakat Bedha, I Made Suardika menjelaskan, Pelinggih Ida Bhatara Bagus Kebo Iwa berdiri kokoh di bagian Madya Mandala Pura Puseh.

Masyarakat meyakini bahwa Kebo Iwa adalah tokoh sakti yang berjasa membangun benteng pertahanan Bali dari serangan Majapahit di masa lampau.

“Kami meyakini, beliau adalah tokoh yang sangat dihormati,” ungkapnya.

Kebo Iwa dikenal sebagai patih tangguh pada masa pemerintahan Raja Sri Astura Ratna Bhumi Banten dari Kerajaan Bedahulu pada tahun 1259 Saka atau sekitar 1337 Masehi.

Beliau dianggap sebagai tokoh penting dalam membentuk pertahanan Pulau Bali dari upaya ekspansi Majapahit.

Menurut cerita turun-temurun, karena kekuatan benteng Bali sangat sulit ditembus, Mahapatih Gajah Mada mengundang Kebo Iwa ke Majapahit dengan dalih hendak menikahkannya dengan seorang wanita sepadan.

Undangan itu diterima dengan tulus oleh Kebo Iwa, yang kemudian berangkat menyusuri pesisir selatan Bali menuju Jawa.

Dengan kesaktiannya, Kebo Iwa dipercaya telah menyebabkan garis pantai dari Desa Bedha hingga Gilimanuk menjadi landai. Namun setibanya di wilayah Sidodadi, Mojokerto, ia ditipu.

Saat menggali sumur sebagai bagian dari persiapan upacara, ia dikubur hidup-hidup dengan batu kapur oleh pasukan Majapahit.

Meski begitu, karena kesaktiannya, batu-batu kapur yang menimbun sumur itu dilemparkannya ke atas. Ia kemudian bertanya kepada Gajah Mada tentang maksud dari tindakan tersebut.

Dalam dialog tersebut, Gajah Mada menjelaskan tentang sumpah "Amukti Palapa" yang membuatnya harus menaklukkan Bali demi menyatukan Nusantara.

Untuk menghindari pertumpahan darah besar, Kebo Iwa akhirnya rela mengorbankan dirinya. Ia memilih tunduk demi tujuan lebih besar, yakni persatuan Nusantara.

Sikap lascarya atau pengorbanannya yang tulus menjadikan dirinya dikenang dan dimuliakan oleh masyarakat Desa Bedha.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat Desa Bedha membangun sebuah arca Kebo Iwa yang disthanakan di Madya Mandala Pura Puseh.

Arca ini diletakkan dalam bangunan suci bertiang empat, tempat di mana beliau dipuja sebagai "Ida Bhatara Bagus Kebo Iwa".

Selain arca tersebut, ada pula bangunan Bale Agung di Madya Mandala yang dipercaya berkaitan erat dengan sosok Kebo Iwa.

“Bangunan ini memiliki bagian sari bertiang 16 dan pengawaknya bertiang 18. Konon, panjang bangunan itu bahkan tak cukup untuk menampung tubuh Kebo Iwa saat ia tidur,” paparnya.

Tradisi penghormatan terhadap Kebo Iwa dilakukan secara berkala oleh masyarakat. Setiap 210 hari sekali, bertepatan dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan, upacara persembahan digelar untuk mengenang jasa-jasanya dalam membangun dan melindungi desa mereka.

Salah satu bentuk persembahan dalam upacara tersebut adalah Sarad, yakni simbol persembahan suci yang biasa digunakan dalam upacara Melaspas untuk pura atau arca sakral. Sarad dibuat dengan penuh taksu sebagai wujud penghormatan spiritual.

Kebo Iwa dipuja sebagai pelindung karena dianggap sosok yang kuat, cakap, dan bijaksana. Pengkultusan dirinya sebagai batara di Desa Bedha dilandasi kepercayaan masyarakat bahwa tokoh besar yang menyejahterakan rakyat adalah titisan Dewa Wisnu.

Pratima atau wujud fisik arca Kebo Iwa dibuat setinggi lebih dari dua meter sebagai sadhana atau sarana pemujaan. Posisinya yang strategis di tengah pura menunjukkan pentingnya beliau dalam kehidupan spiritual masyarakat desa.

Kini, tradisi pemujaan Kebo Iwa menjadi identitas lokal Desa Bedha yang menghubungkan masa lalu heroik dengan warisan budaya yang terus dijaga.

Pelinggih Kebo Iwa ini  tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai simbol ketulusan, kekuatan, dan pengabdian tanpa pamrih. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Kebo Iwa #Desa Bedha #kerambitan #tabanan #pura puseh