Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Arca-Arca Peninggalan di Tamblingan, Bukti Jejak Spiritual masih Lestari

I Putu Mardika • Kamis, 31 Juli 2025 | 17:09 WIB

Pelinggih Celak Kontong di Pura Dalem Tamblingan
Pelinggih Celak Kontong di Pura Dalem Tamblingan
BALIEXPRESS.ID – Kawasan Danau Buyan-Tamblingan di Buleleng tak hanya menyajikan panorama alam yang menawan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan spiritual yang penting bagi masyarakat Bali yang situsnya hingga kini bisa dilihat.

Bahkan, sejumlah penelitian arkeologi menemukan sejumlah arca-arca kuno yang diyakini sebagai perwujudan leluhur, tersebar di sejumlah pura di sekitar danau.

Dua lokasi penemuan itu diantaranya Pura Dalem Tamblingan dan Pura Puncak Gunung Lesong. Kedua pura ini diyakini sebagai pusat pemujaan leluhur masyarakat Bali Kuno yang pernah bermukim di kawasan Tamblingan.

Peneliti I Wayan Pardi dalam kajiannya menyebutkan bahwa kedua pura tersebut menyimpan arca-arca perwujudan manusia, yang dipahat dalam posisi duduk bersila dengan tangan menyatu di depan dada. Gaya ini mencerminkan ikonografi pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

“Arca seperti ini tidak hanya simbolik, tapi juga spiritual. Ini bentuk penghormatan masyarakat kepada leluhur yang diyakini masih menjaga keseimbangan alam dan kehidupan,” tulis Pardi dalam penelitiannya.

Di Pura Dalem Tamblingan, arca perwujudan leluhur berdiri di antara pelinggih tua yang masih aktif digunakan untuk ritual. Lokasi pura ini berada dekat tepi Danau Tamblingan dan dikelilingi hutan yang masih alami.

Sementara di Pura Puncak Gunung Lesong, arca ditemukan di dataran tinggi sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini dipercaya sebagai tempat paling sakral, karena menjadi titik tertinggi dalam lanskap spiritual masyarakat Tamblingan.

Gunung Lesong, bersama danau dan hutan sekitarnya, diyakini sebagai kawasan suci tempat para leluhur bersemayam.

Dalam tradisi lokal, kawasan ini dijaga kesuciannya melalui ritual-ritual tahunan yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Temuan arkeologis ini menunjukkan bahwa masyarakat di Tamblingan telah memiliki sistem kepercayaan yang kompleks sejak masa lampau.

Arca-arca tersebut bukan sekadar artefak, tapi bukti perjalanan spiritual yang masih lestari hingga kini.

Pura-pura di kawasan Buyan–Tamblingan diketahui merupakan bagian dari jaringan pura kuno berbasis ekologi suci. Air dan hutan tidak hanya dimanfaatkan, tapi juga disucikan sebagai bagian dari hubungan manusia dengan alam dan para leluhur.

Konsep “alas merta” (hutan hidup) dan “danu merta” (danau kehidupan) menjadi landasan filosofi masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam. Situs-situs suci di kawasan ini menjadi media penghubung antara dunia manusia dan roh para leluhur.

Temuan ini juga mencatat adanya kesinambungan antara arsitektur pura, artefak arkeologi, dan sistem nilai masyarakat adat.

Arca perwujudan leluhur merupakan simbol penting dalam tradisi spiritual yang berbasis pada penghormatan terhadap asal-usul.

Kawasan ini diduga merupakan wilayah hunian kuno masyarakat Bali Aga yang kemudian mengalami akulturasi dengan ajaran Hindu sejak abad ke-8 Masehi. Namun, tradisi lokal tetap dipertahankan, terutama dalam bentuk pemujaan leluhur dan kearifan ekologi.

Saat ini, masyarakat di sekitar danau masih rutin melakukan ritual pakelem (persembahan ke danau) dan ngayah di pura-pura puncak sebagai wujud bhakti dan pelestarian tradisi. Ritual ini menjadi bagian dari siklus hidup masyarakat Tamblingan.

Potensi pengembangan kawasan ini sebagai destinasi wisata spiritual dan ekowisata budaya sangat besar.

Namun, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara konservasi, kebutuhan wisata, dan nilai-nilai sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tokoh masyarakat dan pemangku adat berharap pemerintah dan akademisi bisa berkolaborasi untuk melestarikan temuan-temuan arkeologis ini, tanpa mengganggu keberlangsungan ritual yang sudah berjalan selama berabad-abad.

Pardi menyarankan perlunya pendekatan berbasis komunitas dalam pelestarian situs. Masyarakat lokal bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pemilik pengetahuan yang berharga tentang lanskap spiritual kawasan ini.

Dengan terungkapnya temuan arca leluhur di Tamblingan dan Gunung Lesong, Bali kembali menunjukkan kekayaan warisan budayanya yang menyatu antara manusia, leluhur, dan alam semesta. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#tamblingan #arca #situs #danau buyan #buleleng